Retinopati Prematuritas atau retinopathy of prematurity (ROP) adalah suatu gangguan mata yang dapat menyebabkan penurunan hingga berpotensi membutakan. Kondisi ini sering terjadi pada bayi prematur dengan berat badan kurang dari 1.250 gram dan lahir sebelum minggu ke 31 kehamilan. Angka kejadian ROP dipercaya akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi resusitasi dan kesintasan neonatus preterm. Semakin rendah usia kehamilan dan berat badan lahir bayi, semakin tinggi risiko kejadian ROP. Selain itu risiko ROP juga meningkat pada bayi yang mendapatkan terapi oksigen dengan fraksi yang tinggi. Pada dasarnya ROP tidak memiliki tanda atau gejala yang khas pada bayi baru lahir. Satu-satunya untuk mendeteksi retinopati prematuritas adalah dengan melakukan pemeriksaan mata oleh dokter spesialis. Terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan risiko retinopati prematuritas pada bayi prematur selain berat badan, yaitu : anemia, transfusi darah. Gangguan pernapasan, pendarahan di otak, kesulitan bernapas dan kesehatan bayi secara keseluruhan.
Berdasarkan data dari sejumlah meta analisis, Blencowe et al mengestimasi angka kejadian ROP secara global adalah 169.600-214.500. Sekitar 20.000 bayi mengalami gangguan penglihatan berasal dari negara berpenghasilan menengah. Sebanyak 50% negara dengan angka kelahiran prematur tertinggi berada di Asia. Sebanyak 13,4% bayi dari seluruh kelahiran hidup di Asia Tenggara dan Asia Selatan merupakan bayi yang terlahir prematur. Di Asia, bayi yang mengalami ROP ditemukan memiliki berat badan lahir dan usia gestasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan di negara barat.
Metode dan Hasil
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandinngkan jumlah trombosit, mean trombosit volume (MPV), lebar distribusi trombosit (PDW) dan nilai indeks massa trombosit (PMI) antara dua kelompok umur pada awal kehidupan bayi yang terdiagnosa retinopati prematuritas. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif terhadap data rekam medis bayi yang lahir di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2021-2023. Bayi-bayi tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bayi yang dilakukan pemeriksaan darah lengkap pada usia 0-7 hari (kelompok 1) dan usia 8-28 hari (kelompok 2) kemudian akan di evaluasi nilai jumlah trombosit, MPV PDW dan PMI dari data CBC. Data ini dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai. Dari total bayi sejumlah 126 bayi yang dilibatkan dalam penelitian ini. Terdiri dari 62 bayi pada kelompok 1 dan 64 bayi pada kelompok 2. Jumlah trombosit berbeda secara signifikan antar kelompok 2 (p<0,001). Frekuensi trombositosis (>500.000/yl), MPV tinggi (>10,05 fL) dan PMI tinggi (3640 fL/nL) juga lebih tinggi secara signifikan pada kelompok 2 (p<0,05).
Penelitian ini menemukan bahwa karakteristik subjek antara dua kelompok umur tidak berbeda pada jenis kelamin, usia kehamilan, berat badan lahir, dan skor APGAR. Hasil utama dalam penelitian ini berbeda dengan sebagian besar hasil penelitian sebelumnya. Penelitian ini menemukan jumlah trombosit bayi usia 8-28 hari jauh lebih tinggi dibandingkan bayi usia 0-7 hari dan trombositosis lebih banyak ditemukan pada bayi usia 8-28 hari. Sementara sebagian besar penelitian sebelumnya menemukan bahwa ROP berhubungan dengan trombositopenia. Kemudian juga ditemukanbahwa trombositosis (>500.000/yl) banyak ditemukan pada bayi dengan ROP usia 8-28 hari. Hasil ini di dukung oleh penelitian sebelumnya bahwa bayi yang sangat prematur dikaitkan dengan trombositosis setelah minggu pertama kehidupannya, bahkan setelah penyesuaian dengan usia kehamilan, sepsis dan suplementasi oksigen. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa trombositopenia pada minggu pertama kehidupan atau lebih dari 1 minggu dikaitkan dengan ROP.
Trombositopenia pada usia pasca menstruasi (PMA) >30 minggu ROP fase 2) juga berhubungan ROP stadium berat yang memerlukan terapi fotoagulasi laser. Nilai trombosit yang tinggi dikaitkan dengan konsentrasi VGEF serum, namun tidak ada bukti yang menunjukkan pengaruhnya terhadap konsentrasi VEGF retina. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa VGEF bukanlah mediator utama angiogenesis. Jumlah pemeriksaan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti stres akut, peradangan sistemik, infeksi, obat-obatan dan kondisi penyimpanan sampel darah. Penatalaksanaan ROP di negara berkembang lebih rumit dibandingkan di negara maju karena perawatan yang lebih baik di unit perawatan intensif neonatal memungkinkan persentase bayi prematur yang bertahan hidup lebih tinggi. Pemantauan oksigen tidak dilakukan secara rutin karena keterbatasan sumber daya manusia dan alat pemantauan di negara berkembang sehingga bayi dengan usia kehamilan lebih tua dan berat badan lahir lebih besar dapat mengalami ROP.
Simpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah nilai trombosit, MPV, PDW dan PMI yang jauh lebih tinggi ditemukan pada bayi usia 8-28 hari dengan ROP. Frekuensi trombositosis yang lebih tinggi, MPV yang tinggi dan PMI yang tinggi juga sering ditemukan pada bayi usia 8-28 hari dengan ROP.
Penulis: Prof. Dr. Martono Tri Utomo, dr., SpA(K)
Informasi detail dari riset ini:





