Untuk bertahan dan berhasil dalam membuat perubahan, organisasi harus mengembangkan kapasitas mereka untuk berubah organizational capacity for change (OCC). Sebuah organisasi yang meningkatkan kapasitasnya untuk berubah dapat mencapai perubahan yang berhasil lebih cepat dan lebih efisien, dan, dengan demikian, meningkatkan kinerjanya. Dengan memiliki OCC, sebuah organisasi akan proaktif mengambil peluang pasar untuk beradaptasi, belajar dan berinovasi. OCC sendiri dianggap sebagai meta-capability yang memungkinkan organisasi untuk tetap kompetitif dalam lingkungan yang sangat dinamis.
Hingga saat ini, penelitian terkait OCC masih sangat terbatas. Studi telah dilakukan pada organisasi sektor kesehatan dan industri otomotif. Studi ini berfokus pada perguruan tinggi (PT). Pertama, dalam 30 tahun terakhir, perguruan tinggi mengalami perubahan dinamis di seluruh dunia, terutama dalam kebutuhan untuk beradaptasi dengan persyaratan pasar pemeringkatan institusi. Pemeringkatan dapat mendorong perguruan tinggi dan universitas untuk membelanjakan lebih banyak, memindahkan sumber daya dari kegiatan pendidikan ke penelitian, fasilitas dan fasilitas, serta pengeluaran administrasi. Singkatnya, pemeringkatan organisasi berpotensi membentuk kembali perguruan tinggi dan keberhasilannya dalam melakukan perubahan menjadi kelas dunia tergantung pada kapasitasnya untuk berubah. Kemudian, perguruan tinggi bersifat sangat otonom dan terdesentralisasi, banyak pakar manajemen perubahan berada didalamnya tetapi budaya kolegial dapat menghambat atau memperlambat implementasi inisiatif perubahan, mengakibatkan kapasitas perubahan yang cenderung lebih rendah dan lebih lambat dibandingkan dengan lembaga komersial.
Penelitian sebelumnya telah meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi OCC secara eksternal, termasuk turbulensi teknologi dan intensitas persaingan. Dalam konteks PT, salah satunya adalah tekanan institusional yang bersifat koersif, seperti tekanan terkait akreditasi dan pemeringkatan internasional yang cukup krusial. dan belum pernah dibahas. Perspektif ini relevan dalam konteks PTN yang koheren melalui pengaruh undang-undang, pengaruh lembaga akreditasi dan pengaruh anggaran operasional. Studi yang mengkaji hubungan tekanan institusional dalam PT masih dilakukan di negara-negara Barat dengan power distance rendah (Decramer et al., 2012), tetapi negara-negara Asia dengan power distance tinggi relatif kurang dieksplorasi. Banyak studi menunjukkan bahwa peran pemerintah di negara-negara Asia Pasifik cukup kuat dalam struktur dan pendanaan PT, termasuk pengawasan dan kontrol dibandingkan dengan negara-negara Barat atau Amerika Utara. Oleh karena itu, apakah tekanan koersif dapat memperkuat (memoderasi) mekanisme dalam OCC di negara-negara Asia merupakan isu yang menarik untuk diuji secara empiris.
Penelitian ini menggunakan survei dengan respondennya adalah para dekan dan wakil dekan 11 AHEI di Indonesia. Sejak tahun 2015, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (MRTHE) telah mendorong 11 PTN ke Top 500 dunia (QS World University Ranking) melalui program World Class University (WCU). Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus, dimana seluruh dekan dan wakil dekan AHEI diambil sampelnya. Kuesioner disebarkan kepada manajer menengah, yang meliputi dekan (146) dan wakil dekan (292). Menurut Tabrisi (2014), manajer tingkat menengah tidak hanya mengelola perubahan bertahap, mereka memimpinnya dengan menggerakkan tuas kekuasaan ke atas dan ke bawah dalam organisasi. Tujuan strategis yang dikembangkan oleh manajer puncak tidak akan berhasil dicapai ketika manajer menengah tidak berkinerja baik. Tingkat partisipasi dekan sebanyak 21 orang (22,8%), dan wakil dekan sebanyak 72 orang (77,2%) pada penelitian ini.
Studi ini mengkaji bagaimana mekanisme antara ketiga dimensi tersebut membangun OCC (kapasitas pembelajaran untuk perubahan, kapasitas proses untuk perubahan dan kapasitas konteks untuk perubahan). Kedua, penelitian ini juga menunjukkan bagaimana tekanan koersif memperkuat pengaruh kapasitas belajar pada kapasitas proses dan kapasitas konteks untuk perubahan pada kinerja organisasi. Temuan menunjukkan bahwa kapasitas belajar untuk perubahan adalah titik awal OCC dan mempengaruhi kapasitas proses dan kapasitas konteks untuk perubahan. Tekanan koersif memperkuat hubungan antara kapasitas belajar dan kapasitas konteks untuk perubahan. Selanjutnya, kapasitas konteks untuk perubahan menentukan kinerja organisasi.
Penulis: Badri Munir Sukoco
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Badri Munir Sukoco, Elisabeth Supriharyanti, Sabar, Ely Susanto, Reza Ashari Nasution, and Arief Daryanto (2021), “Organisational change capacity and performance: the moderating effect of coercive pressure”, , Vol. ahead-of-print No. ahead-of-print.





