51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Karakterisasi Escherichia Coli yang Resisten terhadap Antimikroba dari Unggas di Ebonyi Utara, Nigeria

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Escherichia coli adalah bakteri Gram-negatif berbentuk batang yang biasanya terdapat dalam sistem pencernaan manusia dan hewan. Meskipun banyak galur tidak berbahaya, beberapa jenis E. coli patogenik bertanggung jawab atas penyakit pada kedua spesies tersebut. Galur patogenik ini dapat menyebabkan kondisi seperti kolibasilosis, salah satu penyumbang utama kerugian finansial di sektor perunggasan. Meningkatnya keberadaan E. coli yang resisten terhadap antimikroba (AMR) di peternakan unggas menimbulkan risiko serius bagi kesehatan hewan dan keselamatan publik. Bakteri resisten ini, yang ditemukan di seluruh rantai pasok unggas, dapat menular ke manusia melalui daging yang terkontaminasi atau melalui paparan langsung.

Di Afrika Sub-Sahara, unggas merupakan sumber protein pangan yang penting dan menyumbang sekitar 24,0% dari seluruh daging ternak. Peternakan unggas umumnya terjangkau dan mudah diakses, menyediakan daging dan telur untuk populasi yang luas. Untuk mendorong pertumbuhan, meningkatkan produktivitas, dan mencegah penyakit, peternak sering memberikan antibiotik, baik dalam dosis terapeutik maupun sebagai pemacu pertumbuhan. Penggunaan antibiotik yang meluas ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap keamanan pangan, kebiasaan makan, dan sistem pangan yang lebih luas. Akibatnya, unggas kini diakui sebagai kontributor utama penyebaran resistensi antibiotik.

Penggunaan antibiotik dosis rendah yang sering dalam peternakan unggas intensif merupakan faktor kunci di balik masalah yang semakin meningkat ini. Praktik yang tidak diatur tersebut, yang bertujuan

untuk meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan, merupakan ancaman kesehatan masyarakat, diperburuk oleh meningkatnya permintaan protein hewani akibat pertumbuhan populasi dan pembangunan ekonomi. Produk yang berasal dari unggas dan hewan penghasil pangan lainnya

berfungsi sebagai jalur penularan utama patogen zoonosis dan bawaan makanan, termasuk E. coli. Penggunaan dan penyalahgunaan antimikroba yang meluas dalam produksi hewan memperburuk risiko ini dengan mendorong munculnya galur AMR, sehingga meningkatkan ancaman kesehatan masyarakat akibat infeksi bawaan makanan. Benua Afrika mengalami insiden penyakit bawaan makanan yang tinggi, dengan sekitar 91 juta kasus dan hampir 137.000 kematian setiap tahun. Galur E. coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, Campylobacter, dan Proteus mirabilis yang resisten terhadap antibiotik telah terdeteksi secara luas di berbagai sumber, baik dari manusia, hewan, maupun

lingkungan, yang menggarisbawahi peran mereka dalam siklus One Health yang saling terkait dari resistensi antimikroba.

Di daerah pedesaan Abakaliki di Ebonyi Utara, peternak unggas sering mengandalkan antibiotik untuk pengelolaan penyakit tanpa bimbingan dokter hewan profesional dan umumnya beroperasi dalam kondisi higiene yang di bawah standar. Mengingat keadaan ini, penting untuk mengevaluasi konsekuensi penyalahgunaan antibiotik dalam peternakan dan potensi peran unggas dalam penularan bakteri zoonosis. Identifikasi E. coli AMR pada unggas memberikan peringatan dini risiko zoonosis, membantu melindungi konsumen dari infeksi bawaan makanan, dan juga menghasilkan data yang akan memandu penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab dalam praktik veteriner dan peternakan unggas. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada penilaian keberadaan dan penyebaran E. coli AMR pada unggas di wilayah Ebonyi Utara.

Studi ini menyelidiki keberadaan dan penyebaran E. coli AMR pada unggas. Temuan tersebut mengonfirmasi keberadaan E. coli di peternakan unggas, dengan prevalensi keseluruhan sebesar 36,7% di antara ayam yang diteliti. Temuan ini menyoroti tingkat kontaminasi E. coli yang signifikan, menunjukkan kondisi sanitasi yang buruk di peternakan unggas di pedesaan Ebonyi Utara, dan menggarisbawahi potensi risiko kesehatan masyarakat dari produk unggas yang terkontaminasi. Profil kerentanan antibiotik dari isolat E. coli menunjukkan pola resistensi yang bervariasi. Isolat dari sampel feses dan trakea menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap gentamisin dan siprofloksasin, dengan tingkat kerentanan berkisar antara 80,0% hingga 100,0%. Sebaliknya, resistensi yang signifikan diamati terhadap ampisilin dan tetrasiklin, berkisar antara 45,5% hingga 75,0%. Eritromisin dan streptomisin menunjukkan aktivitas antimikroba yang signifikan, dengan tingkat kerentanan antara 60% dan 81,8%. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan resistensi tinggi terhadap tetrasiklin dan ampisilin (84,9%“89,5%) dan kerentanan tinggi terhadap gentamisin dan siprofloksasin (53,5%“91,9%). Demikian pula, penelitian lain melaporkan resistensi tinggi terhadap tetrasiklin (62,5%“82,1%) dan ampisilin (62,5%“78,6%), sementara mencatat resistensi rendah terhadap gentamisin (8%) dan siprofloksasin (12%) pada isolat E. coli yang berasal dari unggas. Resistensi yang tinggi terhadap ampisilin dan tetrasiklin yang diamati di sini kemungkinan besar disebabkan oleh seringnya penggunaannya untuk pengendalian infeksi di peternakan unggas.

Multidrug resistant (MDR) terdeteksi pada 35,3% isolat E. coli dari sampel feses dan trakea.

Variasi prevalensi MDR tersebut dapat mencerminkan perbedaan dalam penggunaan antibiotic di tingkat peternakan, kebijakan antimikroba nasional, atau pemilihan antibiotik yang digunakan dalam uji sensitivitas. Penggunaan antibiotik yang berlebihan untuk pertumbuhan 64,3%, dan hingga 80,0%. Perbedaan prevalensi di berbagai studi mungkin disebabkan oleh variasi prosedur pengambilan sampel dan teknik mikrobiologi. E. coli pada unggas menjadi perhatian khusus bagi kesehatan masyarakat, tidak hanya karena menunjukkan kontaminasi feses tetapi juga karena keterkaitannya dengan penyakit bawaan makanan. Penggunaan antibiotik yang berlebihan untuk pertumbuhan, promosi, pengobatan, dan profilaksis pada unggas kemungkinan merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tren resistensi ini.

Indeks resistensi antibiotik ganda (MARI) isolat E. coli dalam penelitian ini adalah 0,6, suatu nilai yang cukup tinggi. Nilai ini sebanding dengan laporan lain yang menunjukkan nilai MARI sebesar 0,5 sampai 0,7. MARI sebesar 0,66 mengkhawatirkan, karena patogen MDR semakin diakui sebagai ancaman bawaan makanan yang signifikan yang mempersulit pengobatan pada hewan dan manusia. Potensi penularan zoonosis melalui produk unggas yang terkontaminasi atau kontak langsung menimbulkan kekhawatiran kesehatan masyarakat yang serius, terutama di wilayah dengan penggunaan antibiotik yang tidak diatur. Oleh karena itu, peningkatan deteksi dan pemantauan E. coli MDR di peternakan unggas sangat penting untuk keamanan pertanian dan sebagai bagian dari strategi global yang lebih luas untuk memerangi resistensi antimikroba.

Penelitian ini berfokus pada karakterisasi E. coli AMR dari unggas, dan beberapa keterbatasan harus didokumentasikan untuk arahan penelitian selanjutnya. Temuan penelitian ini terbatas pada Ebonyi Utara dan mungkin tidak dapat digeneralisasi ke wilayah lain di Nigeria, dan hanya unggas yang diikutsertakan; tidak adanya sampel lingkungan dan manusia membatasi inferensi One Health. Penelitian ini mengungkapkan tingginya angka E. coli di peternakan unggas yang terletak di wilayah pedesaan Ebonyi Utara. Sejumlah besar isolat E. coli menunjukkan resistensi terhadap lebih dari tiga kelas antibiotik yang berbeda, disertai dengan nilai indeks MAR yang tinggi. Deteksi E. coli MDR pada unggas menunjukkan penyalahgunaan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap antibiotik yang meluas, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius bagi kesehatan hewan dan manusia dalam konteks resistensi antimikroba. Penanganan masalah ini memerlukan upaya pemantauan yang lebih intensif, peningkatan kemampuan diagnostik, peningkatan keterlibatan pakar veteriner, dan penegakan peraturan yang lebih ketat terkait penggunaan antibiotic dalam praktik peternakan unggas untuk membantu mencegah penyebaran patogen MDR lebih lanjut dan melindungi kesehatan masyarakat.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Agatha Ifunanya Ugbo, Theophilus Ikechukwu Nnenwa, Emmanuel Nnabuike Ugbo, Mustofa Helmi Effendi* , Boniface Oke, Bernard Nnabuife Agumah, Hartanto Mulyo Raharjo, Wiwiek Tyasningsih, Budiastuti Budiastuti and Saifur Rehman. 2023. Characterization of antimicrobial-resistant Escherichia coli from poultry birds in Ebonyi North, Nigeria. Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(9): 4097-4105

AKSES CEPAT