Vaginismus adalah kejang otot vagina yang tidak disengaja yang mengganggu hubungan seksual. Studi tentang epidemiologi kasus-kasus ini jarang dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat penelitian dalam hal hasil diagnostik, etiologis, atau pengobatan. Kasus-kasus ini cenderung sulit didiagnosis atau diobati, mengakibatkan tidak tersedianya data epidemiologis definitif mengenai prevalensi vaginismus pada populasi. Pemeriksa akan memerlukan pemeriksaan ginekologi yang membuat stres yang sering dihindari oleh penderita. Akibatnya, ada berbagai perkiraan prevalensi masalah ini. Tidak semua orang akan melaporkan masalah ini, dan wanita dengan penyakit ini rentan terpinggirkan. Sebuah tinjauan sistematis melaporkan bahwa insiden vaginismus pada populasi umum wanita dilaporkan 0,4% hingga 8%. Wanita yang mengalami Vaginismus dapat mengalami berbagai masalah, seperti infertilitas. Risiko tidak berhenti sampai wanita tersebut bisa hamil. Ibu hamil dengan vaginismus berisiko tidak ditindaklanjuti selama kehamilan mereka karena perasaan malu dan kurangnya pemahaman oleh staf medis. Kasus-kasus ini dapat memengaruhi persepsi seorang wanita tentang feminitasnya dan potensinya untuk menjadi ibu.
Infertilitas berdampak pada kesehatan mental, kualitas hidup, dan hubungan seksual pasangan. Variabel ketakutan akan seks, kognisi positif dan citra diri negatif, keintiman seksual, kualitas kehidupan seksual, dan pendidikan adalah prediktor akhir skor diagnosis vaginismus. Salah satu prediktor keberhasilan pengobatan untuk vaginismus adalah pengkajian masalah dengan penyebab psikologis daripada fisik. Untuk memahami vaginismus sepenuhnya, vaginismus harus dieksplorasi pada tingkat intrapersonal, interpersonal, dan budaya, dan dari semua ini, tingkat interpersonal terus kurang diteliti. Vaginismus sebagian besar tidak dikenal di kalangan dokter dan wanita. Ini adalah kondisi yang kurang dipahami dan kurang terdiagnosis, di mana banyak wanita tidak mendapatkan dukungan. Untuk memahami kasus dan mendeteksinya sejak dini, dokter dan peneliti perlu memahami karakteristik pasien dan terapi yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik pasien vaginismus di Jawa Timur, Indonesia.
Analisis kasus menunjukkan bahwa setiap pasien memiliki karakteristiknya masing-masing, sehingga membutuhkan penanganan sesuai dengan masalahnya. Manajemen dalam studi Vaginismus membutuhkan kolaborasi lintas profesional, seperti psikiater dan ahli andrologi. Perlakuan yang diberikan juga cenderung kompleks.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Penulis:
Kurniawati, E. M., Hardianto, G., Paraton, H., Hadi, T. H. S., Widyasari, A., & Rahmawati, N. A. (2025). Characteristics and Treatment in Patients with Vaginismus in Surabaya, East Java, Indonesia. Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology, 13(3), 158-162.





