51动漫

51动漫 Official Website

Keanekaragaman Endoparasit dan Risiko Zoonosis pada Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix) Tangkapan Liar dari Indonesia

Ilustrasi Ular Kobra Jawa (Sumber: Parapuan.co)
Ilustrasi Ular Kobra Jawa (Sumber: Parapuan.co)

Di Indonesia, ular umumnya dikonsumsi sebagai hidangan eksotis, diolah dalam bentuk sate, daging panggang, atau sup, dan juga digunakan dalam pengobatan dan ritual tradisional. Dalam sistem kepercayaan tradisional, daging ular secara luas dipercaya dapat meringankan atau menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk gangguan kulit, gangguan pernapasan dan pencernaan, masalah muskuloskeletal, serta tumor dan kanker. Meskipun bukti ilmiah yang mendukung klaim ini terbatas, permintaan ular di pasar lokal dan internasional terus meningkat, khususnya untuk spesies seperti kobra jawa (Naja sputatrix), yang merupakan hewan asli Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Indonesia. Ular tangkapan liar, terutama yang ditujukan untuk konsumsi manusia, memiliki risiko infeksi parasit yang lebih tinggi. Paparan terhadap lingkungan ekologis yang beragam dan stres yang terkait dengan penangkapan dan pengangkutan meningkatkan kerentanan terhadap invasi parasit. Lebih lanjut, ular diketahui membawa beragam parasit internal, termasuk protozoa, nematoda, cestoda, pentastomid, akantosefala, dan trematoda. Beberapa parasit ini, seperti pentastomid (Armillifer spp. dan Porocephalus spp.) dan cestoda (Spirometra spp.), bersifat zoonosis dan menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan manusia.

Namun, belum ada penilaian komprehensif mengenai keragaman parasit pada N. sputatrix yang dilakukan. Hal ini mengkhawatirkan mengingat meningkatnya interaksi manusia-ular yang didorong oleh eksploitasi kuliner dan komersial. Peran ekologis N. sputatrix sebagai mesopredator semakin meningkatkan kemungkinan tertular parasit dari berbagai tingkat trofik, terutama melalui mangsa termasuk hewan pengerat, amfibi, dan kadal, yang dapat berfungsi sebagai inang perantara atau paratenik. Dinamika ini memfasilitasi pemeliharaan dan transmisi siklus hidup parasit, yang banyak di antaranya dapat melintasi batas spesies dalam kondisi yang mendukung. Dari perspektif One Health, memahami profil parasitologi N. sputatrix sangat penting, tidak hanya untuk kesehatan dan konservasi ular, tetapi juga untuk mengevaluasi risiko zoonosis yang ditimbulkan terhadap manusia, khususnya di lingkungan yang sering terjadi kontak langsung maupun tidak langsung dengan ular.

Meskipun N. sputatrix memiliki signifikansi budaya dan ekonomi, data parasitologi dari populasi liar di Indonesia masih sangat terfragmentasi. Mempertimbangkan meningkatnya permintaan daging ular dan risiko spillover patogen zoonosis, studi ini mengisi kesenjangan pengetahuan yang krusial dengan melakukan investigasi parasitologi sistematis dan multi-metode pertama terhadap N. sputatrix di Indonesia dalam kerangka One Health. Berdasarkan uraian di atas, studi ini bertujuan untuk menyelidiki keragaman parasit internal yang menginfeksi N. sputatrix hasil tangkapan liar di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia.

Ular, termasuk N. sputatrix, berfungsi sebagai predator sekaligus mangsa dalam ekosistem alami, berkontribusi pada keseimbangan ekologi. Dualitas trofik ini memfasilitasi paparan terhadap berbagai infeksi parasit, menjadikan ular sebagai reservoir potensial bagi patogen zoonosis. Interaksi manusia-ular meningkatkan risiko penularan lintas spesies. Prevalensi infeksi Spirometra yang tinggi pada N. sputatrix mendukung peran ular sebagai inang perantara kedua atau paratenik dalam siklus hidup parasit. Siklus hidup Spirometra spp. melibatkan tiga jenis inang: definitif (karnivora), perantara pertama (kopepoda air tawar), dan inang perantara/paratenik kedua, termasuk amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Pleroserkoid yang terlokalisasi di jaringan viseral, muskular, dan subkutan N. sputatrix menunjukkan potensi migrasi jaringan, yang menyebabkan pembentukan nodul dan peradangan lokal. Ciri-ciri patologis ini umum dilaporkan pada inang reptil dan mencerminkan risiko zoonosis yang terkait dengan konsumsi daging amfibi atau reptil mentah atau setengah matang, air yang terkontaminasi, atau tapal tradisional.

Pendeteksian protozoa pada N. sputatrix yang ditangkap di alam liar kemungkinan mencerminkan kontaminasi lingkungan. Eimeria spp., yang memiliki siklus hidup langsung (monoxenous), hanya membutuhkan satu inang, sehingga memungkinkan penularan yang efisien melalui jalur fekal-oral. Ookista bersporulasi, yang mengandung empat sporokista, tahan terhadap lingkungan dan memudahkan persistensi pada substrat yang terkontaminasi. Oosit serupa telah dideskripsikan pada Philothamnus semivariegatus, Boa constrictor, dan Hierophis viridiflavus. Keberadaan Balantidium spp. mungkin disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi kista. Ular liar sering mengonsumsi spesies mangsa (misalnya, hewan pengerat, amfibi) yang berfungsi sebagai reservoir bagi protozoa usus. Perjalanan stadium protozoa yang non-infektif melalui saluran pencernaan telah didokumentasikan pada beberapa inang ophidian. Oleh karena itu, deteksi Eimeria dan Balantidium spp. mungkin tidak mengonfirmasi infeksi aktif, melainkan mencerminkan perjalanan sementara parasit yang berasal dari mangsa melalui usus.

Identifikasi Hepatozoon spp. pada N. sputatrix menggarisbawahi paparan ular liar terhadap parasit yang ditularkan melalui vektor. Identifikasi genus ini terutama bergantung pada ciri morfologi dua tahap siklus hidup, yaitu gamont dalam darah inang vertebrata dan oosit polisporokistik yang terletak di usus vektor invertebrata. Hepatozoon spp. dianggap sebagai salah satu parasit hemogregarin yang paling umum menginfeksi ular, dengan infeksi dilaporkan terjadi pada lebih dari 200 spesies ular di seluruh dunia. Di antara ular, Hepatozoon spp. telah diidentifikasi sebagai parasit darah yang umum, dengan penularan yang difasilitasi oleh artropoda hematofag, termasuk nyamuk (Culicidae), caplak, dan tungau.

Keterbatasan penelitian ini adalah ketergantungan eksklusif pada metode morfologi tanpa konfirmasi molekuler. Namun, ciri morfologi yang digunakan untuk identifikasi tingkat genus konsisten dengan yang dijelaskan dalam kunci taksonomi dan laporan parasitologi terbaru. Penelitian selanjutnya didorong untuk menggabungkan perangkat genetik guna meningkatkan resolusi tingkat spesies. Kesimpulannya, studi ini menyediakan survei parasitologi komprehensif pertama dari N. sputatrix tangkapan liar di Indonesia, yang mengungkapkan prevalensi tinggi (82,3%) dari berbagai endoparasit. Sepuluh taksa parasit diidentifikasi, termasuk nematoda, cestoda, acanthocephalans, pentastomid, protozoa, dan hemoparasit, dengan ular dewasa menunjukkan tingkat infeksi tertinggi. Parasit zoonosis seperti Spirometra spp. (54,9%), Porocephalus spp. (11,76%), dan Ophidascaris spp. (7,84%) terdeteksi. Khususnya, studi ini merupakan catatan inang pertama Porocephalus spp. pada N. sputatrix, yang memberikan wawasan ekologis baru ke dalam hubungan inang-parasit pada ular berbisa. Temuan ini menunjukkan tidak hanya kerentanan N. sputatrix terhadap berbagai infeksi tetapi juga peran ekologisnya sebagai reservoir dan inang paratenik. Yang penting, pengawasan parasit pada ular dapat berfungsi sebagai alat peringatan dini untuk pemantauan perdagangan satwa liar dan penilaian risiko biosekuriti, terutama di wilayah dengan tingkat interaksi manusia-ular yang tinggi. Lebih lanjut, data parasitologi dari reptil liar menawarkan wawasan berharga untuk pemantauan keanekaragaman hayati dan kesehatan lingkungan dalam kerangka kerja One Health.

Penulis: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT