51动漫

51动漫 Official Website

Kecemasan yang ditimbulkan media dan mekanisme koping budaya selama COVID-19 di Surabaya

sumber: BBC News Indonesia
sumber: BBC News Indonesia

Pandemi COVID-19, yang berasal dari Wuhan, China, telah berdampak signifikan pada kesehatan fisik dan mental. Konsumsi media, yang berisi pembaruan dan informasi tentang virus, mempengaruhi kesehatan mental, menyebabkan ketakutan dan stigma sosial. Kepanikan publik, seperti yang terlihat selama pandemi influenza 1918, meningkatkan tingkat infeksi dan kematian karena mengabaikan protokol kesehatan. Protokol kesehatan termasuk mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak fisik, memakai masker, dan menghindari kontak fisik. Di Surabaya perkotaan, banyak orang yang tidak menyadari pentingnya menerapkan protokol kesehatan dan menjaga jarak untuk melindungi diri mereka dari virus.

Ini mirip dengan situasi di Jawa Timur, di mana banyak orang yang memiliki sedikit pengetahuan dan pemahaman tentang virus dan penyakit. Gubernur, Khofifah Indar Parawansa, menerima penghargaan dari Kementerian Agama atas upayanya dalam menangani pandemi dengan pendekatan ilmiah dan spiritual. Di Surabaya, komunitas telah menggunakan ritual budaya dan agama untuk mengurangi kepanikan serta meredakan stres dan depresi yang disebabkan oleh penyebaran informasi dan postingan media sosial tentang COVID-19. Kebijakan lockdown dan isolasi mandiri juga telah berkontribusi pada stres dan depresi. Studi ini mengangkat pertanyaan tentang kepanikan sosial yang dialami masyarakat perkotaan selama wabah COVID-19, bagaimana banjir informasi di media sosial mempengaruhi kepanikan, dan bagaimana kepercayaan budaya mempengaruhi persepsi tentang kesehatan manusia dan pandemi COVID-19.

Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengalaman kepanikan masyarakat di Surabaya perkotaan selama pandemi COVID-19 menggunakan indikator dari studi Steven Taylor (2019). Studi ini mengidentifikasi tiga perubahan psikologis yang dipengaruhi oleh pandemi: perubahan emosional, perubahan perilaku sosial, dan berkembangnya prasangka. Perubahan-perubahan ini diterjemahkan menjadi 13 item pertanyaan yang mencakup lima variabel dari Cyberchondria Severity Scale (CSS), yang mengukur perilaku kecemasan yang dipengaruhi oleh paparan internet. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden merasa “cukup panik” dalam menghadapi pandemi, dengan persentase yang relatif tinggi yaitu 62%. Faktor-faktor seperti perilaku konsumsi media, lingkungan, dan religiositas mempengaruhi tingkat kepanikan masyarakat. Studi tersebut juga menemukan tiga tingkat kepanikan publik di Surabaya: Tidak Panik (16%), Cukup Panik (62%), dan Sangat Panik (22%).

Ada dua sub-kelompok orang dengan tingkat kepanikan yang berbeda: pekerja kesehatan dan mereka yang akrab dengan ilmu kesehatan. Tenaga kesehatan dan mereka yang memiliki komorbiditas mengalami gejala yang mirip dengan COVID-19, dan keluarga mereka berusaha mencegah kepanikan dengan mengonsumsi makanan sehat, susu, vitamin C, dan minuman herbal tradisional. Mereka juga menyerahkan diri pada kehendak Tuhan dan memprioritaskan keselamatan pribadi di atas perawatan pasien. Kesimpulannya, studi ini menyoroti pentingnya memahami dan mengatasi perubahan psikologis yang dipengaruhi oleh pandemi COVID-19 di Surabaya. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan berbagai respons dari individu dengan komorbiditas, yang lebih rentan terhadap virus dan merasa takut. Orang-orang dengan beberapa penyakit komorbid, seperti masalah ginjal, diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronis, dan penyakit jantung, lebih rentan terhadap penularan COVID-19 dan takut akan potensi reaktivitas dalam tes cepat. Tingkat kepanikan sedang, atau cukup panik, terdiri dari 62% responden. Remaja dengan konsumsi media tinggi dan kelebihan informasi mencari informasi alternatif untuk melawan diskursus dominan. Mereka secara aktif mencari informasi alternatif, seperti selebriti dan musisi seperti Jerinx, yang menawarkan perspektif alternatif tentang virus dan dampaknya terhadap kekebalan tubuh. Orang-orang berpenghasilan rendah, yang kurang terpapar COVID-19 dan memiliki sedikit informasi tentang virus tersebut, memiliki tingkat kepanikan dan ketakutan yang lebih rendah.

Mereka sering memilih untuk menaruh kepercayaan pada agama masing-masing, seperti kelompok etnis Arab dan Madura di Surabaya, yang dianggap sebagai masyarakat dengan tingkat religiositas yang tinggi. Kesimpulannya, pandemi COVID-19 telah menyebabkan respons yang berbeda di antara berbagai kelompok. Orang-orang dengan komorbiditas, mereka yang memiliki tingkat kepanikan sedang, dan individu berpenghasilan rendah semuanya mengalami reaksi yang berbeda terhadap pandemi. Dengan mencari informasi alternatif dan mengurangi konsumsi media, kelompok-kelompok ini dapat lebih baik menavigasi tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh pandemi. Warga Surabaya telah mengalami perubahan tingkat kepanikan karena berbagai faktor, termasuk konsumsi media massa dan ritual budaya. Pada bulan-bulan awal pandemi, Didik, seorang warga di Kecamatan Mojo, mengalami ketakutan yang ekstrem akibat jumlah informasi yang berlebihan. Dia tidak lagi mengandalkan berita televisi dan internet, yang menyebabkan kadar asam lambungnya tinggi. Sebagai tanggapan terhadap pandemi, komunitas lokal di Jawa menggunakan ritual budaya seperti slametan, sebuah pesta komunal yang melambangkan persatuan sosial, dan lodeh, masakan tradisional Jawa. Ritual-ritual ini dilakukan di daerah seperti Kecamatan Sememi dan Kebraon, di mana mereka percaya bahwa lodeh akan membantu mereka menghindari bencana.

Ritual Tegal Desa, sebuah ritual bersih-bersih desa, juga digunakan oleh beberapa komunitas di Kecamatan Mojo. Namun, pembatasan sosial berskala besar dari Mei hingga Agustus menunda ritual tersebut hingga Oktober. Komunitas Priyayi, yang terdiri dari birokrat dan intelektual, mengikuti protokol kesehatan yang ketat dan mematuhi peraturan. Kecamatan Simolawang mengadakan doa Burdah, yang bertujuan untuk meminta perlindungan dari wabah. Komunitas santri di Simolawang melaksanakan ritual-ritual Islam, seperti ritual Tegal Desa, yang meningkatkan kesejahteraan spiritual. India dan Amerika Serikat memiliki cara-cara unik untuk mengurangi penularan COVID-19, seperti menyanyikan “Pergi, Corona pergi!” dan minum urin sapi untuk membunuh virus. Praktik-praktik ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual dan mengurangi penyebaran virus. Surabaya, Indonesia, telah menjadi pusat ketahanan spiritual dan budaya selama pandemi COVID-19. Orang-orang di kota tersebut telah melaksanakan doa dan ritual komunal untuk menurunkan tingkat kepanikan mereka dan menjaga kesehatan serta kesejahteraan mereka.

Beberapa Muslim dan Katolik telah menemukan artikel online tentang doa untuk menghindari virus, sementara yang lain terus mempraktikkan praktik-praktik ini. Kepercayaan dan spiritualitas terkait dengan kondisi fisik yang lebih sehat, dan orang-orang dengan tingkat religiositas yang lebih tinggi cenderung memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes yang lebih rendah. Di Kecamatan Benowo, Surabaya Barat, masyarakat setempat telah mulai menanam tanaman herbal sebagai kebiasaan baru untuk mempermudah akses ke herbal dan menghindari kontak fisik. Obat herbal Tiongkok telah efektif dalam mengobati pasien SARS dan sekarang digunakan untuk mengobati COVID-19. Selain protokol kesehatan, komunitas lokal di Indonesia juga telah menggunakan pendekatan berbasis spiritual dan budaya untuk menghadapi bencana. Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 di Jakarta, yang berfokus pada “Ruang Bersama #IndonesiaBahagia,” menyoroti pentingnya ketahanan budaya. Praktik tradisional seperti menolak bencana, isolasi mandiri, dan bersih-bersih desa mengajarkan tentang hubungan antara manusia dan alam serta implikasinya terhadap kesehatan, ketahanan tubuh manusia, dan lingkungan. Sebagai kesimpulan, komunitas Surabaya telah memanfaatkan pendekatan berbasis spiritual dan budaya untuk menghadapi pandemi dan menjaga kesehatan serta kesejahteraan mereka.

Penulis: Prof. Rachmah Ida, Dra., M.Comm., Ph.D.

AKSES CEPAT