Perpustakaan sekolah sering kali dianggap sekadar pelengkap fasilitas pendidikan. Padahal, koleksi yang relevan dan mutakhir berperan penting dalam menunjang proses belajar, memicu minat baca, mendukung kurikulum, hingga membentuk budaya literasi di lingkungan sekolah. Sayangnya, pengembangan koleksi kerap diabaikan atau dilakukan tanpa perencanaan yang matang, sehingga koleksi menjadi usang, kurang sesuai kebutuhan, atau tidak terkelola dengan baik.
Penelitian di Perpustakaan Gempita Pustaka, SMP Negeri 46 Surabaya, yang merupakan pemenang Lomba Perpustakaan SMP/MTS se-Kota Surabaya 2024, menunjukkan bahwa pengembangan koleksi idealnya mengikuti enam tahap dari Evans & Saponaro, diantaranya: analisis komunitas, kebijakan seleksi, seleksi, akuisisi, penyiangan (de-selection), dan evaluasi.
Di Gempita Pustaka, analisis komunitas dilakukan melalui survei Google Form dan masukan langsung dari pengguna. Kebijakan seleksi terdokumentasi dengan baik serta melibatkan guru, sementara proses seleksi memastikan koleksi relevan dengan kebutuhan pendidikan. Akuisisi memanfaatkan pembelian dari penerbit, hibah buku dari alumni, dan pertukaran koleksi dengan sekolah lain. Penyiangan rutin dilakukan saat libur semester untuk menjaga kualitas koleksi. Meski demikian, evaluasi belum dilakukan secara berkala, melainkan hanya ketika muncul masalah. Tantangan lain yang dihadapi meliputi kualitas buku hibah yang beragam serta keterbatasan pembaruan koleksi pada bidang yang cepat berkembang seperti teknologi.
Melalui analisis SWOT, strategi perbaikan mencakup peningkatan kerja sama antarperpustakaan, perjanjian resmi dalam pertukaran koleksi, dan pemanfaatan teknologi untuk memantau sirkulasi. Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi Gempita Pustaka, tetapi juga dapat diterapkan di perpustakaan sekolah lain. Dengan perencanaan yang jelas, inovasi, dan kolaborasi, perpustakaan sekolah dapat menjadi pusat sumber belajar yang dinamis dan berkelanjutan.
Penulis: Zulfatun Sofiyani, S.IIP., M.Hum.
DOI:





