51动漫

51动漫 Official Website

Kecerdasan Buatan Mendorong Pemantauan Gigi dan Pengawasan Perawatan Maloklusi pada Pasien Ortodonti

Foto by Hello Sehat

Keberhasilan perawatan ortodonti tidak hanya bergantung pada diagnosis dan perawatan yang tepat, tetapi juga pada kepatuhan pasien. Selama perawatan ortodonti, beberapa penelitian telah menunjukkan penurunan tingkat kebersihan mulut yang cepat, yang dapat menyebabkan perubahan komposisi flora bakteri, yang menyebabkan akumulasi plak gigi. Adanya plak gigi dalam jangka waktu yang kritis dapat menyebabkan demineralisasi, white spot lesion, dan inflamasi gingiva.

Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap hasil klinis perawatan ortodonti karena kemungkinan penghentian perawatan. Pasca perawatan ortodonti, kepatuhan pasien dalam menggunakan retainer lepasan juga diperlukan. Namun, penelitian menunjukkan kepatuhan pasien cenderung menurun, mengakibatkan kekambuhan ortodonti, dengan prevalensi berkisar antara 10-67%. Oleh karena itu, dokter gigi perlu memantau secara berkala kepatuhan pasien dalam menggunakan retainer lepasan.

Kemajuan dan kepatuhan pasien dapat dipantau melalui kunjungan di dokter gigi pada interval waktu tertentu. Namun, interval ini belum tentu ideal untuk setiap pasien. Untuk mengatasi keterbatasan ini, Dental Monitoring庐 (DM, Dental Monitoring, Paris, France) diperkenalkan sebagai pemantauan jarak jauh yang didorong kecerdasan buatan (AI), yang menganalisis pergerakan gigi, kebersihan mulut, dan kondisi peralatan ortodonti.

DM terdiri dari tiga platform terintegrasi: aplikasi seluler untuk mengambil foto kondisi intraoral pasien; Algoritma AI yang mendeteksi pergerakan gigi, tingkat kebersihan mulut, dan integritas peralatan ortodonti; dan dasbor dokter. Dokter gigi akan diberi tahu setelah foto intraoral pasien dianalisis oleh algoritme AI. Dokter gigi juga dapat berkomunikasi dengan pasien melalui aplikasi.

Penggunaan DM dalam perawatan ortodonti berpotensi menguntungkan baik bagi dokter gigi maupun pasien. Dokter gigi dapat meningkatkan efisiensi perawatan dan pasien dapat mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk melakukan kunjungan langsung ke dokter gigi dokter gigi. Selain itu, daerah terpencil dengan akses perawatan ortodonti yang terbatas dapat memperoleh manfaat besar dari pemanfaatan DM. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk mendeskripsikan aplikasi klinis DM berdasarkan jumlah kunjungan ke klinik, lama perawatan, jumlah perbaikan, stabilitas fase retensi, pergerakan gigi, kebersihan mulut pasien, dan persepsi subyektif pasien tentang DM.

DM adalah aplikasi ortodonti yang dapat digunakan untuk pemantauan jarak jauh. Ini menggabungkan teledentistry dan kecerdasan buatan (AI) menggunakan algoritma berbasis pengetahuan, memungkinkan pemantauan perawatan ortodonti semi-otomatis yang akurat. Melalui DM, dokter gigi dapat memantau pergerakan gigi, integritas alat ortodonti, dan kebersihan mulut pasien dari jarak jauh. Berdasarkan lima jurnal yang disertakan dalam review ini, aplikasi klinis DM dapat memberikan beberapa keuntungan bagi penggunanya, antara lain memudahkan dokter gigi untuk memantau pergerakan gigi pasien dari jarak jauh dan mengurangi jumlah kunjungan ke klinik. Selain itu penggunaan DM juga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan mulut dan penggunaan retainer.

Pengurangan kunjungan di dokter gigi dengan penggunaan DM bisa bermanfaat bagi dokter gigi dan pasien. Dokter gigi dapat meningkatkan efisiensi kliniknya, sedangkan bagi pasien, DM dapat meningkatkan efektivitas waktu dan kenyamanan pasien, serta mengurangi biaya perjalanan untuk kunjungan ke dokter gigi. Selain itu, penurunan jumlah kunjungan ke dokter gigi dengan penggunaan DM tidak mengurangi keefektifan pengobatan. Hal ini dibuktikan dengan lama pengobatan dan jumlah perbaikan yang tidak berbeda nyata antara kelompok pengguna DM dengan kelompok kontrol. DM juga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan mulut karena DM dapat memantau berbagai indikator kebersihan mulut yang buruk (seperti gingivitis, pembersihan alat ortodonti yang tidak adekuat, karies, kalkulus) dan mengirimkan notifikasi peringatan kepada pasien dan dokter gigi untuk meningkatkan kebersihan mulut pasien. Tidak ada karies yang terdeteksi pada kelompok pengguna DM, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat lima karies lesion onsets (CLOs). Hal ini mungkin karena meningkatnya kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan mulut. Namun, peningkatan kebersihan mulut pada kelompok pengguna DM juga mungkin karena efek Hawthorne, di mana pasien mengubah perilakunya karena pasien sadar bahwa mereka sedang diamati.

Selain digunakan selama masa pengobatan, DM juga dapat digunakan pada pasca pengobatan untuk memantau stabilitas retensi. Setiap pasien diharapkan memakai retainer lepasan setiap malam dan menghadiri kunjungan rutin di klinik, terutama selama 6 bulan pertama setelah alat ortodonti aktif dilepas. Penggunaan DM pada fase retensi dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menggunakan retainer lepasan dan mengurangi kejadian ketidakcocokan retainer. Selain itu, DM juga dapat mengidentifikasi kekambuhan ortodonti lebih awal sehingga dokter gigi dapat menentukan tindakan lebih lanjut untuk mencegah kekambuhan ortodonti yang lebih parah.

Berdasarkan telaah literatur, dapat disimpulkan bahwa keuntungan utama penggunaan DM adalah mengurangi jumlah kunjungan ke dokter gigi yang dapat meningkatkan efisiensi dan kenyamanan bagi dokter gigi dan pasien. Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan dengan menggunakan percobaan kontrol acak dengan kelompok plasebo untuk menghilangkan kemungkinan faktor perancu dan efek Hawthorne.

Penulis: Agung Sosiawan, Alexander Patera Nugraha

Link lengkap:

AKSES CEPAT