51动漫

51动漫 Official Website

Kemas Ulang Informasi Untuk Konten Website Perpustakaan

Kemas Ulang Informasi Untuk Konten Website Perpustakaan
Sumber: Sydle

Website perpustakaan menjadi salah satu media yang digunakan perpustakaan menyajikan konten informasi digital. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menciptakan konten website perpustakaan dengan melakukan kemas ulang informasi.  Alasan kemas ulang informasi dalam pembuatan konten website perpustakaan  adalah, pertama, website lebih mirip sebagai representasi kehadiran perpustakaan di lingkungan digital. Hal ini dikarenakan website bisa menyajikan informasi berupa konten multimedia dalam semua format baik itu audio, visual, tautan, terutama tekstual.  Kedua, website menjadi pilihan pengguna untuk mencari informasi dengan cepat.  Kehadiran perpustakaan secara online disebabkan adanya kesadaran bahwa terjadi perubahan pencarian informasi oleh pengguna yang cenderung melakukannya secara online di internet daripada secara langsung ke perpustakaan. Ketika dihadapkan dua pilihan tersebut pengguna akan cenderung mencari informasi di internet daripada di perpustakaan. Supaya mampu bersaing dan mengingatkan kepada pengguna bahwa eksistensi perpustakaan adalah sebagai sumber informasi, maka perpustakaan hadir dalam lingkungan digital dalam bentuk website yang baiknya dioperasikan secara konsisten untuk mengkomunikasikan nilai perpustakaan yang dapat mengubah sikap dan persepsi pengguna terhadap perpustakaan dan layanannya.

Sebagian besar website perpustakaan perguruan tinggi di Surabaya telah memiliki konten multimedia dalam websitenya yang dalam pembuatannya merupakan hasil kemas ulang informasi. Misalnya pada Perpustakaan Universitas Surabaya memproduksi konten video library tour hingga tutorial mengakses informasi dan menggunakan layanan perpustakaan, Lalu ada Perpustakaan Universitas Ciputra dan Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama memproduksi bulletin online berisi informasi tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan oleh perpustakaan, kemudian Perpustakaan Kristen Petra yang memiliki layanan Desa Informasi dan salah satunya menyajikan informasi sejarah Kota Surabaya sebagai sarana pendidikan, ditambah berbagai poster yang menginformasikan alur untuk mengakses layanan yang disajikan oleh Perpustakaan UK Widya Mandala Surabaya dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui proses kemas ulang informasi (information repackaging) yang telah dilakukan perpustakaan perguruan tinggi dalam pembuatan konten informasi pada website perpustakaan beserta produk kemas ulang yang dihasilkan.

Proses Kemas Ulang Informasi

Langkah pertama yang dilakukan dalam proses kemas ulang informasi adalah melakukan identifikasi kebutuhan pengguna. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan akses konseptual pada informasi, misalnya melakukan analisis informasi dengan mengidentifikasi komponen informasi seperti akurat, kredibilitas dan keaktualitas. Analisis kemudian dilanjutkan dengan mengelompokkan atau mengorganisir informasi sesuai dengan topik bahasannya. Setelah dianalisis, informasi kemudian disintesis. Pada dasarnya dalam proses sintesis ini, informasi disusun ulang karena Agada menyebutkan ada kegiatan konsolidasi atau penggabungan dari informasi yang telah dianalisis.

Selanjutnya menyiapkan akses fisik pada informasi dengan melakukan pengemasan fisik, dalam proses ini disebut dengan editing. Pada tahap ini informasi bisa jadi diubah menjadi simbol lain untuk disajikan pada media baru. Contohnya seperti ketika akan membuat audiobook, simbol awal informasi berupa tulisan kata, lalu untuk mengubah menjadi simbol suara diperlukan media suara kita untuk mengu-capkan kata-kata tersebut, sehingga meng-ubah kata menjadi gelombang suara. Ketika informasi telah diubah dalam bentuk yang dirasa paling tepat selanjutnya adalah melakukan transformasi dan translating, maksudnya disini adalah mengatur layout informasi sebelum disajikan kepada pengguna. Layout ini disusun berdasarkan karakteristik pengguna sehingga informasi yang disajikan dapat mudah dipahami dan dimengerti.

Evalusai Kemas Ulang Informasi

Tugas pengelola perpustakaan belum selesai ketika proses kemas ulang informasi menghasilkan produk untuk dilayankan kepada pengguna, pengelola perpustakaan harus melakukan evaluasi terhadap layanan kemas ulang informasi tersebut. Agada membagi evaluasi layanan kemas ulang informasi menjadi dua tingkatakan yaitu, evaluasi pada kualitas informasi yang diberikan dan evaluasi pada penggunaan atau utilitas layanan bagi penggun. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa bagus kualitas informasi yang dituangkan dalam kemasan baru serta seberapa berguna informasi yang terkandung dalam kemasan tersebut untuk bisa digunakan menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan. Pada intinya hasil dari evaluasi ini akan berguna untuk terus meningkatkan layanan kemas ulang informasi yang disediakan.

Evaluasi terhadap kualitas informasi pada dasarnya berkaitan dengan tahap penyeleksian dan analisis informasi, hal ini dikarenakan kriteria evaluasi mengenai kualitas informasi mirip denga napa yang dilakukan pada tahap tersebut. Namun, kriteria evaluasi kualitas informasi yang diterapkan tergantung pada sifat informasi dan kebutuhan pengguna. Hal yang dievaluasi mulai dari otoritas sumber seperti penulis, penerbit, lembaga di baliknya, indeks kutipan, dan sebagainya. Kemudian mengevaluasi kerasionalan, intuis, dan kesan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman seseorang atau pengguna sehingga bisa melihat kecocokannya dengan pengguna. Tak kalah penting, kriteria selanjutnya adalah mengenai perbandingan dan hubungan informasi pada produk dengan sumber informasi bereputasi lainnya. Tujuannya adalah untuk memverifikasi informasi.

Evaluasi yang kedua dilakukan untuk menilai utilitas produk, maksudnya adalah untuk mengetahui seberapa jauh informasi pada produk kemas ulang informasi bisa digunakan untuk pengguna. Evaluasi ini dilakukan dengan melihat kesesuaian antara karakteristik pengguna berupa pengetahuan, ketereampilan, perpspektif, bahasa yang digunakan dan tuntutan tugas yang mreka miliki berupa konteks tugas dan kompleksitasnya, dengan produk kemas ulang yang telah disediakan. Kesesuaian ini meliputi kemudahan pengguanannya walaupun disajikan dalam bentuk dan media tertentu, keterbacaan, kejelasan visual, daya tarik estetika, dan adanya alat bantu pemahaman. Hal ini dikarenakan tujuan adanya kemas ulang informasi sendiri adalah untuk memberikan kepuasan layanan informasi kepada pengguna.

Layana Kemas Ulang Informasi

Proses kemas ulang informasi menghasilkan produk informasi dalam format dan bentuk baru. Produk tersebut kemudian yang dilayankan kepada pengguna untuk memenuhi tujuan menyediakan layanan informasi yang tidak hanya relevan tapi juga dapat digunakan oleh pengguna. Agada mengkategorikan hasil kemas ulang informasi menjadi tiga jenis layanan yaitu, locational and access tools, representation sources, dan interpretation and evaluation services. Kategori tersebut berdasarkan nilai tambah yang diberikan pada sumber informasi awal.

Locational dan access tools merupakan hasil kemas ulang informasi yang berfungsi memfasilitasi pengguna untuk mengidentifikasi, menemukan dan mengambil dokumen koleksi. Pada intinya merupakan alat akses menuju lokasi dimana pengguna bisa menemukan informasi yang mereka inginkan. Hasil kemas ulang informasi seperti ini biasannya memiliki tujuan untuk memudahkan penyebaran informasi dan temu kembali informasi. Bentuk dari locational and access tools adalah katalog, abstrak, bibliografi, index, pathfinder, dan basis data yang telah disesuaikan.

Representational sources adalah hasil kemas ulang informasi berupa perumusan ulang atau penyusunan ulang dari dokumen primer menjadi dokumen sekunder. Pada intinya merupakan penggabungan atau pembuatan ulang sumber informasi didasarkan pada sumber utama dan disintesis berdasarkan pada hanya apa yang dibutuhkan oleh pengguna. bentuk dari representational sources adalah ulasan terjemahan, laporan mutakhir, handbook, dan sebagainya. Sedangkan interpretation and evaluation services hampir mirip dengan representasional sources, hasil kemas ulang ini berupa dokumen atau layanan yang disesuaikan untuk membantu pengguna menyelesaikan tugas dan kebutuhan informasi mereka.

Penulis: Ragil Tri Atmi, SIIP., MA

Artikel dapat diakses di:

Atmi, R. T., Putri, C. F., & Babbar, P. (2024). Digital information repackaging: best practices from university library website managers. Library Hi Tech News.

Baca juga: Meningkatkan Layanan Perpustakaan dengan Kecerdasan Buatan

AKSES CEPAT