Kematian mendadak merupakan salah satu situasi yang memerlukan penanganan segera dari dokter forensik. WHO mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian yang terjadi dalam waktu 24 jam sejak timbulnya gejala. Ada tiga jenis kematian mendadak: tidak terduga, tidak disaksikan, dan spontan. Penyakit Sistem Saraf Pusat merupakan penyebab kematian mendadak yang paling umum ketiga. Stroke iskemik (penyumbatan) dan stroke hemoragik (perdarahan) merupakan contoh penyakit sistem saraf pusat. Hipertensi (penyakit kardiovaskular) dan merokok merupakan faktor risiko yang diketahui untuk kematian mendadak akibat hemoragik. stroke. Pada tahun 2019, insiden global perdarahan intraserebral (ICH) dan perdarahan subaraknoid (SAH) adalah 14,46 per 100.000 orang.
Kasus yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang kematian mendadak seorang kapten kapal Eropa (Ukraina) yang kebetulan berlabuh di perairan Gresik, Jawa Timur, yang meninggal karena stroke hemoragik. Temuan dalam otopsi yakni
Tanda-tanda asfiksia (gambar 1):
a. Pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir kelopak mata atas dan bawah, serta pada selaput keras bola mata.
b. Selaput lendir pada bibir atas dan bawah, serta gusi tampak kebiruan. (sianosis)
c. Ujung jari dan kuku tampak kebiruan (sianosis)

Pemeriksaan Internal: Kepala:
a. Otak: Terjadi pendarahan di bawah lapisan subaraknoid mater, meliputi seluruh serebrum, berat otak 1500 gram, pada bagian tersebut terdapat bercak-bercak pendarahan dan bekuan darah.

b. Otak kecil dan batang otak: Terdapat pelebaran pembuluh darah. Terdapat bintik-bintik perdarahan pada bagian tersebut, berat otak kecil 125 gram, berat batang otak 25 gram.
Pemeriksaan histopatologi anatomi: Otak kecil: Jaringan otak dengan pembuluh darah kapiler melebar berisi eritrosit (gambar 3)..

Dari hasil pemeriksaan luar diketahui mekanisme kematian orang tersebut adalah asfiksia yaitu adanya pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir kelopak mata atas dan bawah serta selaput keras bola mata. Kemudian warna kebiruan pada selaput lendir mulut dan gusi, serta ujung-ujung jari dan kuku kedua tangan dan kaki. Tanda-tanda tersebut merupakan bukti terjadinya asfiksia. Pada irisan otak besar, otak kecil, dan batang otak ditemukan bercak perdarahan yang banyak dan merata, hal ini juga merupakan tanda-tanda asfiksia (anoksia sirkulasi stagnan) Sedangkan penyebab kematian adalah perdarahan di bawah selaput laba-laba otak (SAH) dan terlihat jelas pada hasil otopsi bahwa perdarahannya luas meliputi hemisfer kiri dan kanan otak besar dan pada irisan tersebut ditemukan perdarahan pada ventrikel otak (IVH). Hal ini juga didukung dengan hasil pemeriksaan PA yaitu jaringan otak edema ringan, pembuluh darah kapiler melebar, dan berisi eritrosit.
Penulis : Prof.Dr.Ahmad Yudianto,dr.SpF.M.Subsp.S.B.M[K].,SH.,M.Kes
Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di
Farhad Moegis, Ahmad Yudianto, Renny Sumino. Cerebral Vessel Rupture Leading to Sudden Death: Implications for Pharmacognosy, Pharmacogn J. 2024; 16(6): 1442-1446
Baca juga: Peran Protein S100尾 dalam Prediksi Keparahan Cedera Otak Traumatik





