Latar belakang penelitian ini menyoroti pentingnya sistem tata kelola dalam mengurangi penghindaran pajak perusahaan (CTA). Namun, tantangan signifikan dalam mendeteksi mekanisme ini selama audit tetap ada (Kim et al., 2011). Dari perspektif audit, terdapat pandangan berbeda tentang bagaimana auditor harus mengelola kompleksitas strategi pajak perusahaan. Beberapa perusahaan mencari panduan dari firma audit untuk mematuhi regulasi pajak sambil meminimalkan beban pajak, dengan lebih dari 65% perusahaan menerima nasihat pajak dari auditor (Cook dan Omer, 2013). Alternatifnya, teori agensi menyarankan bahwa kepentingan manajerial dapat mempengaruhi keputusan pajak (Jensen dan Meckling, 1976), sehingga auditor memiliki peran penting sebagai “advokat” dan “auditor” yang mengungkap potensi penghindaran pajak (Salehi et al., 2020; Jeong dan Bae, 2013).
Literatur review dalam penelitian ini mengkaji strategi penghindaran pajak yang memanfaatkan undang-undang pajak yang ada untuk mendapatkan keuntungan yang tidak dimaksudkan oleh pembuat undang-undang (Hanlon dan Heitzman, 2010). Auditor memiliki peran penting dalam mengawasi penghindaran pajak ini, terutama selama masa pandemi COVID-19 yang menambah tekanan keuangan pada perusahaan, mendorong mereka untuk menerapkan strategi perencanaan pajak agresif (Edwards et al., 2016). Penelitian ini menggunakan konteks COVID-19 untuk mengeksplorasi hubungan antara masa jabatan firma audit (AFT) dan penghindaran pajak perusahaan, menemukan bahwa masa jabatan yang lebih lama dapat menurunkan independensi auditor, meningkatkan penghindaran pajak (Kanagaretnam et al., 2016). Namun, selama pandemi, tekanan finansial dan intervensi pemerintah mengubah strategi pajak perusahaan, melemahkan pengaruh AFT terhadap CTA (Gong et al., 2022).
Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dengan memberikan bukti empiris tentang bagaimana pandemi COVID-19 mempengaruhi hubungan antara AFT dan CTA. Penelitian ini memperluas literatur dengan mengeksplorasi dampak kejutan eksogen universal seperti pandemi pada penghindaran pajak, serta memberikan wawasan bagi regulator dan pembuat kebijakan mengenai pentingnya rotasi firma audit untuk praktik perusahaan yang lebih baik (Bushman dan Piotroski, 2006; Kanagaretnam et al., 2014). Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya auditor mempertahankan independensi selama masa jabatan yang panjang, terutama selama periode krisis seperti pandemi COVID-19, untuk mengurangi risiko perencanaan pajak agresif (Athira dan Ramesh, 2023). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 melemahkan hubungan antara AFT dan CTA, menunjukkan perlunya rotasi firma audit yang wajib untuk praktik korporasi yang lebih baik.
Metode dan Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan data global dari periode 2015-2020 yang dikumpulkan dari berbagai sumber: data keuangan dari database Refinitiv, tingkat pajak perusahaan negara dari Tax Foundation, dan data tingkat negara lainnya dari World Bank媼. Dalam penelitian ini, dilakukan pembersihan data dengan menghapus perusahaan jasa keuangan, perusahaan utilitas, dan pengamatan dengan data yang hilang atau tidak lengkap, serta dilakukan winsorisasi pada 1% teratas dan terbawah untuk mengurangi pengaruh outlier媼. Sampel akhir terdiri dari 41.074 pengamatan firm-year dari 32 negara媼.
Penelitian ini menguji hipotesis menggunakan regresi variabel dependen, penghindaran pajak perusahaan (CTA), terhadap variabel independen yang mencakup jangka waktu firma audit (AFT), pandemi COVID-19, serta kontrol tingkat perusahaan dan negara媼. AFT diukur dengan beberapa proxy, termasuk TENURE yang dihitung menggunakan logaritma natural dari jumlah tahun berturut-turut perusahaan mempertahankan auditor, dan variabel dummy LONG dan SHORT untuk hubungan auditor-klien yang panjang dan pendek媼. CTA diukur menggunakan perbedaan buku-pajak residual berdasarkan metode Desai dan Dharmapala (2006) yang telah disesuaikan untuk mengontrol aktivitas manajemen laba媼.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jangka waktu firma audit yang lebih lama (AFT) terkait dengan penghindaran pajak perusahaan (CTA) yang lebih besar sebelum pandemi dan dalam sampel gabungan. Namun, AFT tidak signifikan dalam sampel selama pandemi, yang menunjukkan bahwa independensi auditor mungkin terpengaruh oleh AFT yang lebih lama. Koefisien COVID yang positif menunjukkan peningkatan penghindaran pajak selama periode COVID-19, dan interaksi negatif antara AFT dan COVID menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 melemahkan hubungan positif antara AFT dan CTA. Temuan ini mengimplikasikan bahwa dampak positif AFT terhadap CTA lebih rendah selama pandemi. Koefisien variabel kontrol menunjukkan bahwa CTA lebih mungkin terjadi pada perusahaan besar dengan profitabilitas tinggi, leverage, dan intensitas modal tinggi, sementara perusahaan yang diaudit oleh firma Big 4, serta yang memiliki intensitas inventaris dan R&D yang tinggi, cenderung kurang menggunakan strategi CTA. Selain itu, negara dengan GDP per kapita tinggi memiliki sedikit CTA. Penelitian ini mendukung hipotesis bahwa jangka waktu firma audit yang lebih lama dapat menghasilkan kualitas akuntansi yang buruk, dan pandemi COVID-19 memoderasi hubungan positif antara AFT dan CTA. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pemerintah, pembuat kebijakan, auditor, investor, dan otoritas pajak untuk meningkatkan regulasi dan kewaspadaan terhadap perencanaan pajak agresif selama periode krisis.
Penulis: Khairul Anuar Kamarudin, Wan Adibah Wan Ismail, Iman Harymawan, Akmalia Mohamad Ariff
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





