Pandemi global COVID-19 telah menyebabkan diberlakukannya langkah-langkah isolasi sosial secara luas, yangberpotensi memperburuk masalah kesehatan mental, terutama di kalangan orang dewasa muda. Kelompok ini,dikenal dengan penggunaan media sosialnya yang tinggi, menghadapi risiko lebih tinggi terhadap hasil kesehatanmental negatif seperti isolasi dan depresi. Studi ini mengeksplorasi bagaimana keterlibatan media sosial dan pencarian dukungan sosial memediasi hubungan antara usia dan gejala isolasi sosial selama pandemi. Denganmenggunakan metodologi penelitian kualitatif, data dikumpulkan dari dua puluh mahasiswa di Pakistan melaluiwawancara semi-struktural. Wawancara tersebut membahas berbagai aspek termasuk gejala depresi, kesepian,mekanisme penanganan, dan perubahan dalam rutinitas harian akibat pandemi.
Ambiguitas yang melingkupi durasi pandemic menjadi penyebab kecemasan, meningkatnya level stress dan juga disorientasi yang terjadi baik digenerasi muda dan tua saat adanya pemaksaan karantina dan isolasi sosial. Hal ini menjadi banyak perhatian bagi peneliti di dunia, terutama dampak pandemic bagi kesehatan mental termasuk di dalamnya strategi mengatasi isolasi sosial. Dalm konteks ini, isolasi sosial menjadi salah satu penyebab dari perasaan kesepian yang menjadi pemicu bagi kesehatan mental secara keseluruhan. Kondisi ini juga menyebabkan meningkatnya level depresi, selain mempengaruhi kondisi emosi dan pola gaya hidup masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada turunnya aktivitas sosial, adopsi kebiasaan diet yang tak sehat, kualitas tidur yang menurun dan rasa kesepian yang akut.
Media sosial termasuk platform online seperti Facebook, Instagram dan Twitter menjadi memliki peran yang sangat signifikan karena situasi tersebut di atas, terutama karena karakteristiknya yang mendukung individu untuk bisa berkomunikasi dan bertemua secara virtual dengan orang lain, menjalin hubungan serta beberapa aktivitas yang mirip dengan aktivitas sosial di dunia nyata. Itulah mengapa para peneliti sejak 10 tahun terakhir juga meneliti tentang dampak media sosial bagi kesehatan mental terutama bagi anak muda. Hasilnya menunjukkan dua dampak yanag saling berkaitan, baik itu dampak positif dimana media sosial mampu mengatasi rasa kesepian namun juga berubah menjadi dampak negative tatkala anak muda tidak mendapatkan apa yang diinginkannya di media sosial. Sehingga menggunakan media sosial jutsru malah meningkatkan rasa penolakan sosial anak muda. Media sosial menjadi sarana mengekspresikan problema yang mucul akibat isolasi. Termasuk juga menjadi sarana mencari informasi tentang COVID-19 yang memudahkan penggunanya untuk berinterakasi dengan pakar kesehatan, ahli psikologi dan psikiatri. Dengan demikian media sosial menjadi media yang sangat vital bagi mereka yang berada pada situasi isolasi sosial termasuk memenuhi kebutuhan mempertahankan hidup,
Selama pembatasan COVID-19 dimana jarak sosial ditetapkan demi menjaga kesehatan public, para pelajar menjalani proses pembelajarannya di rumah. Dan selama itu pula public menggunakan platform media sosial yang beragam untuk bukan hanya menghibur namun juga penghilang stress. Yang paling dominan adalah penggunaan TikTok yang menyediakan konten yang menghibur dan unik yang sangat cocok dikonsumsi selama masa pembatasan. Data menunjukkan bahwa selama pandemic terdapat peningkatan pengguna TikTok menjada lebih dari 1,6 juta di tahun 2023.
Partisipan dalam penelitian ini juga mengakui bahwa selain TikTok yang penggunaannya meningkat, Netflix juga mengalami peningkatan sebagai media sosial yang mereka konsumsi selama masa pembatasan. Dengan teknologi on demand yang membuat konten film di Netflix dapat dikonsumsi dimana saja dan kapan saja, individu dapat menikmati di kala ativitas sosial sangat dibatasi. Namun ada hal yang harus diperhatikan, karena ternyata konsumsi media yang bisa dipersonalisasi ini justru mengancam komunikasi dan interaksi individu dengan anggota keluarganya di rumah. Yang juga menjadikan konsumsi yang berlebihan adalah keberadaan game online seperti Apex Legends, Rocket League atau Mobile Legend. Game online menjadikan individu berinteraksi dengan individu lain secara virtual dan merasa tidak lagi menempatkan interaksi sosial di dunianhyata menjadi penting.
Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat beragam dampak pandemic COVID-19, terutama pada rasa kesepian dan isolasi sosial. Transisi yang dialami dari kehidupan sosial ke kehidupan virtual menjadi tantangan tersendiri yang berpengaruh pada banyak aspek kehidupan keseharian termasuk pendidikan, pekerjaan dan kesehatan mental. Konsekuensi pandemic juga berpengaruh besar dalam kehidupan para pelajar yang mengalami disrupsi dalam proses pembelajaran secara online yang juga menjadi penyebab meningkatnya level stress, depresi dan kecemasan. Tantangan dari kehidupan virtual dengan adopsi teknologi digital juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Intinya penelitian ini secara komprehansif memotret perubahan yang signifikan dari adanya pandemic yang membutuhkan system pendukung dan intervensi karena adanya perubahan-perubahan sosial. Perhatian pada kesehatan mental untuk mendukung perasaan isolasi, stress dan kecemasan juga sangat penting, termasuk kesiapan dalam mengelola dan memberikan akses agar transisi berjalan dengan lancar.
DATA PENULIS
Nama : Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD
(Ibtesam Mazahir, Safeena Yasin, Nimas Wibowo)
NIP : 197108051997022001
No hp : 0811312635
Judul : Digital resilience: Understanding the influence of social media and supportnetworks on university students™ isolation during COVID-19
Link :





