51动漫

51动漫 Official Website

Kucing Terancam COVID-19

Foto by Kompas com

COVID-19 merupakan penyakit yang oleh WHO dinyatakan sebagai pandemi yang menyerang manusia. Terbukti dari korban yang semakin hari semakin bertambah bahkan data worldometers (06/08) menunjukkan kasus baru di Indonesia telah mencapai 39.532 kasus, yang menempati urutan ketiga setelah Amarika Serikat dan Brasil. Meningkatnya jumlah korban COVID-19, tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan penularan COVID-19 pada binatang kesayangan.

Kucing merupakan salah satu binatang kesayangan yang banyak dipelihara di rumah-rumah masyarakat Indonesia. Dalam kesehariannya, binatang ini sangat dekat dengan manusia sehingga mungkin dengan mudah akan tertular atau menularkan COVID-19. Sampai saat ini belum ada laporan di jurnal ilmiah tentang COVID-19 pada kucing di Indonesia. Tetapi ada yang menulis di IG story atau uplaod di Youtube. Hal ini masih perlu klarifikasi lebih lanjut.

Baru-baru ini muncul pemberitaan kasus COVID-19 pada Harimau Sumatra di Kebun Binatang Ragunan, Indonesia. Di bulan April 2020 yang lalu, juga telah dilaporkan kasus COVID-19 pada harimau dan singa di Kebun Binatang Bronx, New York, Amerika Serikat, yang tertular dari anak kandang di kebun binatang tersebut.

Seperti halnya harimau dan singa, kucing memiliki kekerabatan yang dekat dengan kedua jenis binatang ini, yaitu satu kelompok famili Felidae. Beberapa peneliti telah melakukan riset untuk mengetahui kerentanan kucing terhadap infeksi dan kemungkinan penularannya.

Penelitian di China oleh Shi J dkk (2020) melaporkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat berkembang-biak dengan efektif pada saluran pernafasan anak kucing (umur 1-3 bulan) dan kucing remaja (umur 6-9 bulan). Penelitian  lain di Amerika Serikat yaitu Bosco-Lauth AM, dkk (2020), juga melaporkan hal yang sama pada kucing dewasa (umur 5-8 tahun). Sampai hari ke 5 setelah infeksi, PCR dari usap hidung masih positif, meskipun semua kucing tersebut  tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala apapun.

Kedua peneliti tersebut, juga mempelajari penularan virus pada kucing lain. Dilaporkan bahwa kucing yang diinfeksi virus SARS-CoV-2 dapat memproduksi virus aktif dan menularkan virus ke kucing lain tidak dinfeksi. Penularan terjadi melalui udara atau aerosol yang mengandung  tetesan  (droplet) dari saluran pernafasan. Peneliti tersebut juga melaporkan bahwa anak kucing lebih mudah terinfeksi dibandingkan kucing dewasa.

Percobaan laboratorium ini membuktikan bahwa kucing mudah terinfeksi SARS-CoV-2, dimana virus dapat memperbanyak diri di saluran pernapasan yang kemudian dikeluarkan melalui hidung dan mulut dan menularkannya pada binatang lain.

Beberapa kasus COVID-19 pada kucing juga telah dilaporkan di berbagai belahan dunia. Di Hongkong, ditemukan kasus COVID-19 pada kucing dari pemilik yang sakit COVID-19. Di Wuhan, China, dilaporkan kucing dari penampungan, rumah sakit hewan, dan rumah pasien COVID-19 pada periode Januari sampai Maret 2020 ditemukan positif antibodi, yang berarti pernah sakit COVID-19.

Kasus COVID-19 juga ditemukan di Eropa yaitu di Spanyol, Belgia, Prancis, dan Italia. Kasus COVID-19 yang di Spanyol, Belgia, dan Prancis ini ditemukan pada kucing yang berasal dari pemilik yang sakit atau meninggal karena COVID-19. Sedangkan di Italia, selain ditemukan pada kucing yang berasal dari rumah dengan pemilik yang positif COVID-19, juga ditemukan dari rumah yang pemiliknya tidak menderita COVID-19.

Di Amerika Serikat, kasus COVID-19 pada kucing juga telah dilaporkan oleh OIE-WAHIS (OIE-World Animal Health Information System) – sebuah organisasi kesehatan hewan dunia. Selain itu, juga telah dilaporkan terjadi di Rio de Janeiro, Brasil. Kucing yang positif ini berasal dari pemilik yang positif COVID-19.

Adapun gejala COVID-19 yang dialami oleh kucing bisa bervariasi. Kucing yang diinfeksi di laboratorium, sama sekali tidak menunjukkan gejala. Kucing yang berasal dari pemilik yang sakit COVID-19, ada yang menunjukkan gejala ringan, seperti bersin-bersin, batuk, lemah atau malas. Juga ada yang menunjukkan gejala gangguan saluran pencernaan, seperti muntah dan diare. Namun ada juga yang menunjukkan gejala sesak nafas, bahkan sampai meninggal.

Hampir semua kucing menjadi korban COVID-19 karena tertular dari pemilik atau keluarga pemilik yang dinyatakan positif COVID-19. Namun fakta juga menunjukkan bahwa kucing liar dan kucing di rumah penampungan ditemukan ada yang positif PCR atau positif antibodi. Ini berarti kucing tersebut tertular COVID-19 dari lingkungan. Bisa jadi tertular dari kucing lain atau dari orang di lingkungan tempat tinggal kucing tersebut.

Data dari berbagai belahan dunia tersebut menunjukkan bahwa baik kucing rumahan atau kucing liar dapat menjadi korban COVID-19. Ini membuktikan bahwa kucing terancam COVID-19 dan dapat menularkan COVID-19 ke hewan lain atau manusia.

Risiko penularan dari kucing ke manusia

Untuk mengetahui sumber penularan kucing tersebut dari pemilik kucing atau sebaliknya, dari kucing ke manusia, maka para peneliti telah melakukan analisis urutan genom virus SARS-CoV-2 dari kucing dan pemilik kucing. Hasilnya menunjukkan bahwa urutan genom virus dari kucing dan pemilik, memang memiliki timgkat kemiripan yang tinggi. Berdasarkan data genom ditambah data epidemiologi tentang analisis kronologi kejadian, sehingga bisa dikatakan memang terjadi penularan dari manusia ke kucing, bukan dari kucing ke manusia.

Mengingat virus ini termasuk virus RNA yang mudah sekali bermutasi secara alami serta kecanggihan alat NGS yang digunakan untuk analisis, maka perubahan sedikit pun pada urutan genom virus, bisa dideteksi. Oleh karena itu bisa digunakan untuk mempelajari asal muasal virus tersebut dari kucing ke manusia atau dari manusia ke kucing.

Mekipun sampai saat ini masih belum ada laporan penularan COVID-19 dari kucing ke manusia, namun kasus penularan virus SARS-CoV-2 dari binatang telah dilaporkan oleh Oude Munnink BB, dkk, (2020) pada peternakan mink  di Belanda. Data pada peternakan NB3 dan NB7 membuktikan adanya penularan virus dari mink ke anak kandang.

Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa kucing mampu memproduksi dan mengeluarkan virus aktif melalui hidung dan mulut, sehingga secara teori kucing bisa menjadi sumber penularan bagi manusia.  Namun sejauh ini, masih belum ada laporan adanya kasus penularan COVID-19 dari kucing ke manusia.  

Ketika ancaman COVID-19 makin meningkat, munculnya kasus baru penularan COVID-19 melalui binatang peliharaan, seyogjanya diantisipasi dan menjadi salah satu agenda pemerintah yang perlu diperhatikan agar kasus Covid-19 tidak makin melonjak.

Penulis: Dr. Gondo Mastutik, SKH., drh., M.Kes.

Jurnal: Experimental and natural infections of severe acute respiratory syndrome-related coronavirus 2 in pets and wild and farm animals

AKSES CEPAT