Obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan, dan sekitar 650 juta di antaranya tergolong obesitas. Di Indonesia sendiri, prevalensi obesitas meningkat tajam dari 14,8% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Tren ini menunjukkan bahwa obesitas bukan hanya isu estetika, tetapi juga masalah kesehatan serius yang berhubungan dengan berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya.Namun, di balik penumpukan lemak tubuh yang terlihat, terdapat proses biologis kompleks yang melibatkan pembuluh darah dan sistem peradangan. Salah satu molekul kunci dalam proses ini adalah Vascular Endothelial Growth Factor-A(VEGF-A), yaitu protein yang berperan penting dalam pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis.
Penelitian yang dikerjakan merupakan penelitian bersifat kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel darah diambil dari 90 peserta namun hanya 62 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Kadar VEGF-A diukur menggunakan metode multiplex ELISA. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANOVA untuk membandingkan kadar VEGF-A antar kelompok BMI dan uji korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara BMI dan kadar VEGF-A secara keseluruhan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi BMI, semakin tinggi pula kadar VEGF-A dalam darah, meskipun perbedaan antar kelompok BMI tidak signifikan secara statistik. Namun, analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang lemah tetapi bermakna antara BMI dan kadar VEGF-A. Dengan kata lain, kenaikan berat badan cenderung diikuti oleh peningkatan kadar VEGF-A, meskipun tidak dalam proporsi yang kuat. Fenomena ini memperkuat dugaan bahwa obesitas memang berhubungan dengan aktivitas angiogenik yang lebih tinggi akibat peradangan kronis tingkat rendah yang terjadi dalam jaringan lemak.
Secara fisiologis, jaringan lemak (adiposa) bukan hanya tempat penyimpanan energi, tetapi juga organ endokrin yang aktif menghasilkan berbagai zat bioaktif seperti sitokin dan faktor pertumbuhan. Saat seseorang mengalami obesitas, sel-sel lemak membesar dan mengalami hipoksia (kekurangan oksigen), yang memicu pelepasan VEGF-A untuk merangsang pembentukan pembuluh darah baru. Tujuannya adalah meningkatkan pasokan oksigen ke jaringan lemak yang sedang tumbuh. Peningkatan kadar VEGF-A pada obesitas tidak hanya menjadi indikator peradangan kronis, tetapi juga penanda risiko penyakit kardiometabolik dan kanker. Oleh karena itu, VEGF-A berpotensi digunakan sebagai biomarker untuk mendeteksi dini dampak biologis obesitas terhadap sistem vaskular.
Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa obesitas bukan hanya persoalan penimbunan lemak, tetapi juga gangguan sistemik yang memengaruhi fungsi pembuluh darah dan respons peradangan. Meskipun hubungan antara BMI dan VEGF-A tergolong lemah, kecenderungan peningkatan kadar VEGF-A seiring naiknya berat badan menunjukkan adanya aktivitas angiogenik yang lebih tinggi pada individu obesitas. Pesan penting yang dapat diambil adalah bahwa menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan gaya hidup sehat tidak hanya membantu penampilan, tetapi juga berperan dalam menjaga keseimbangan faktor-faktor biologis yang berpengaruh pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Artikel Asli bisa dibaca di:
Permana NJ, Lesmana R, Setiawan S, Lubis L, Rosdianto AM, Rejeki PS. Correlation of Various Levels of Body Mass Index to Vascular Endothelial Growth Factor-A. Althea Medical Journal. 2025;12(3):185“190. DOI: .





