Kista koledokus adalah kelainan bawaan dengan dilatasi saluran empedu dan diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan panjang dan ukuran yang berbeda-beda. Manifestasi klinis kista koledokus, antara lain ikterus, dan pembesaran perut, dan menyerupai gejala atresia bilier atau hepatitis. Kista koledokus dapat menyebabkan obstruksi progresif saluran empedu dan pada akhirnya dapat menyebabkan sirosis bilier. Insiden kista koledokus bervariasi dari 1:13.000 hingga 1:150.000 pada anak-anak. Insiden kista koledokus di Asia cukup tinggi. Kista koledokus dapat terjadi di sebagian saluran empedu di dalam hati (intrahepatik) atau di luar hati (ekstrahepatik). Ada 5 jenis kista koledokus.
Kista koledokus, yang paling umum adalah tipe I, yaitu kista koledokus di saluran empedu ekstrahepatik, yang merupakan 90% dari semua kista koledokus, menurut klasifikasi Todani. Kista koledokus tipe II adalah kantong atau kantung yang menyimpang di dalam saluran. Jenis kista tipe III terletak di dalam dinding duodenum. Tipe-IV dibagi menjadi dua subtipe: Kista IVA pada saluran empedu intrahepatik dan ekstrahepatik (IVB), ditandai dengan jarang terjadi, banyak kista saluran empedu ekstrahepatik. Tipe V, umumnya dikenal sebagai penyakit Caroli, menggabungkan kista intrahepatik dikombinasikan dengan penyakit ekstrahepatik.
Laporan kasus ini membahas seorang anak yang didiagnosis dengan kista koledokus Tipe I, berfokus pada presentasi klinis, pemeriksaan diagnostik, intervensi bedah, dan hasil pasca operasi. Diagnosis secara dini dan manajemen bedah yang tepat sangat penting untuk hasil yang optimal pada anak-anak dengan kista duktus koledokus. Kista koledokus, khususnya Tipe I, mewakili kelainan kongenital yang jarang namun signifikan pada anak yang memerlukan intervensi bedah segera untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan luaran. Deteksi dini sangat penting, terutama pada bayi dengan ikterus persisten karena kista koledokus dapat dapat menyebabkan sirosis bilier. Pengawasan jangka panjang dan tindak lanjut yang ketat sangat penting untuk memantau kemungkinan komplikasi seperti keganasan empedu.
Penulis: Dr. Bagus Setyoboedi, dr.,Sp.A(K)
Link:
Baca juga: Kasus Langka Hepatoblastoma pada Bayi





