Setiap tahun, teknologi kedokteran berkembang pesat seiring dengan pengelolaan penyakit yang semakin efektif dan komprehensif. Sejajar dengan hal tersebut, jumlah lanjut usia juga semakin meningkat setiap tahun nya dan mengakibatkan berbagai negara menghadapi beban yang luar biasa karena lebih banyak orang tua akan membutuhkan layanan kesehatan umum dan spesialis. Menurut survei global oleh WHO, lebih dari 700 juta orang berusia lebih dari 65 tahun pada tahun 2020 dan akan terus berlipat ganda pada tahun 2050. Bertambahnya usia mengakibatkan fungsi fisiologis manusia berkurang, sehingga lebih rentan terhadap penyakit.
Komorbiditas pasien geriatri antara lain seperti penurunan fungsi kognitif, kelemahan, peningkatan tekanan arteri rata-rata, penurunan oksihemoglobin dalam darah, penurunan laju filtrasi glomerulus, dan banyak lagi. Kondisi tersebut menyebabkan pasien lanjut usia mudah mengalami komplikasi dan memerlukan perawatan yang baik di Intensive Care Unit (ICU). Oleh karena itu, jumlah pasien ICU biasanya didominasi oleh pasien lanjut usia. Pada tahun 2017, survei multi senter global menunjukkan bahwa usia rata-rata pasien yang dirawat di ICU adalah 60 tahun. Situasi yang tidak menguntungkan ini berkorelasi dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas pada lansia, disertai dengan peningkatan biaya pengobatan.
Pandemi global COVID-19 memberikan dampak yang cukup besar, terutama para lansia. COVID-19 menjadi salah satu kondisi yang mempengaruhi survivabilitas pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit karena dapat memperberat status immunocompromised pada lansia Data Gugus Tugas COVID-19 Indonesia menegaskan bahwa sebanyak 53% pasien COVID-19 yang dirawat di ICU merupakan pasien lanjut usia dengan kelompok usia di atas 60 tahun, serta memiliki tingkat kesembuhan terendah (9,4%) dan kematian tertinggi (41 %) dibandingkan dengan kelompok lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dan menganalisis survival rate pada pasien lanjut usia yang dirawat di ICU di Indonesia khususnya yang memiliki penyakit penyerta dan COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kohort retrospektif yang mengambil data pada 14 Rumah Sakit Pendidikan Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif di Indonesia. Kriteria sampel antara lain, pasien usia 60 tahun atau lebih yang dirawat di ICU baik COVID-19 maupun non COVID-19. Pengambilan data dilakukan selama 3 bulan (Februari hingga Mei 2021) dengan Teknik Whole Sampling.
Penelitian ini berhasil mendapatkan 982 pasien, namun 254 pasien dikeluarkan dari sampel karena ketidaklengkapan data, sehingga sejumlah 728 pasien yang dapat dianalisis. komorbiditas yang paling umum adalah hipertensi; yang ditemukan pada sekitar satu dari lima subjek (21,1%). Komorbiditas dengan perbedaan yang signifikan antara yang survive dan meninggal adalah hipertensi, diabetes mellitus dan tanpa komplikasi, penyakit ginjal sedang hingga berat, gagal jantung kongestif, penyakit serebrovaskular, dan penyakit paru kronis.
Terdapat korelasi positif namun lemah antara Indeks Charlson pada hari masuk dengan peluang kematian pada hari ke-30 (nilai-p <0,005; koefisien R 0,22) dan skor mSOFA pada akhir masa perawatan di ICU (nilai-p <0,005; koefisien R 0,27), sedangkan ada korelasi positif dan sangat lemah antara Indeks Charlson pada hari masuk dengan durasi penggunaan ventilator (nilai p < 0,005; koefisien R 0,13). Setelah melakukan analisis inferensial menggunakan analisis kelangsungan hidup Kaplan-Meier, ditemukan bahwa subjek dengan sepuluh komorbid memiliki waktu bertahan hidup yang lebih besar daripada mereka yang tidak memiliki komorbid (p<0,05). Koborbid tersebut adalah gagal jantung kongestif, penyakit serebrovaskular, demensia, penyakit paru kronis, penyakit rematik, penyakit hati sedang hingga berat, diabetes mellitus, penyakit ginjal sedang hingga berat, diabetes dengan komplikasi kronis, hipertensi. Di sisi lain, subjek dengan COVID-19 juga memiliki waktu bertahan hidup yang lebih rendah daripada mereka yang tidak memiliki COVID-19 (p<0,005).
Temuan penelitian ini memberikan informasi penting mengenai komorbid yang rentan terhadap prognosis pasien geriatri yang menerima perawatan di ICU. Selain itu, virus corona 2019 juga memperburuk komorbiditas yang mendasarinya dan memberikan dampak pada pasien lanjut usia, yang secara berurutan menurunkan tingkat kelangsungan hidup di Indonesia.
Penulis: Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., SpAn., KNA., KMN
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rehatta NM, Chandra S, Sari D, Lestari MI, Senapathi TGA, Nurdin H, et al. Comorbidities and COVID-19 status influence the survival rate of geriatric patients in intensive care units: a prospective cohort study from the Indonesian Society of Anaesthesiology and Intensive Therapy. BMC Geriatr [Internet]. 2022;22(1):1“9. Available from: https://doi.org/10.1186/s12877-022-03227-9





