51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Korelasi Prematuritas dan Onset Sepsis Neonatal: Studi Potonglintang di NICU Rumah Sakit Tersier di Jawa Timur

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi sepsis sebagai masalah kesehatan global yang utama. Dari tahun 1979-2019, angka kematian neonatal global sepsis masih tinggi yaitu mencapai 2824 dari 100.000 kelahiran. Negara-negara berpenghasilan rendah memiliki insiden sepsis neonatal tertinggi. Berbagai faktor berkontribusi terhadap peningkatan risiko sepsis neonatal. Prematuritas dan berat badan lahir rendah sering disebut sebagai faktor risiko paling signifikan untuk sepsis neonatal. Data tambahan menunjukkan peningkatan laporan kelahiran prematur di seluruh dunia, yang berkontribusi terhadap penyebab utama kematian pada anak balita.

Sepsis adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kegagalan organ yang berpotensi fatal yang disebabkan oleh tidak berfungsinya respon imun tubuh terhadap infeksi. Daya tahan tubuh bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya masih dalam tahap perkembangan yang belum matang dan memori imunologisnya masih sedikit. Penurunan fungsi neutrofil dan rendahnya konsentrasi imunoglobulin meningkatkan kerentanan neonatus terhadap infeksi invasif. Neonatus prematur diketahui memiliki fungsi kekebalan tubuh yang lebih rendah dibandingkan neonatus cukup bulan, sehingga membuat neonatus prematur lebih rentan terhadap infeksi

Analisis cross-sectional dan retrospektif dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya, rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur, Indonesia. Data diperoleh dari pusat rekam medis RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia, pada bulan Januari hingga Desember 2019. Analisis data menggunakan teknik konsekutif nonrandom sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Neonatus dibagi menjadi dua kelompok, pasien sepsis awitan dini (EOS) dan pasien sepsis awitan akhir (LOS). Variabel yang teridentifikasi meliputi jenis kelamin, berat badan lahir, usia kehamilan, jenis kelahiran, cara persalinan, status pasien yang dirujuk, outcome pasien dan usia ibu.

Kriteria inklusi kami terdiri dari kriteria berikut: neonatus usia 0“28 hari dirawat di NICU RSUD Dr. Soetomo dan didiagnosis sepsis neonatal berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan laboratorium yang dinilai oleh dokter. Gambaran klinis yang dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah ketidakstabilan suhu (demam ≥38,0°C dan hipotermia ≤36,5°C), apnea, takipnea, retraksi dada, hidung melebar, takikardia, sianosis, hipotonia, hiporefleksia, dan penyakit kuning. Komponen uji laboratorium sepsis pemeriksaan meliputi jumlah leukosit total <5000/cumm atau >20.000/cumm, jumlah neutrofil absolut <2 x 109/L, rasio I:T >0,2 dan Protein C-Reaktif (CRP)>1mg/L. Kriteria eksklusi meliputi neonatus dengan data rekam medis dan/atau hasil laboratorium yang tidak lengkap. Secara total, 161 dari 241 pasien yang memenuhi kriteria inklusi kami dan kemudian dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia kehamilan, yaitu bayi prematur ekstrim (<28 minggu), bayi sangat prematur (28 – <32 minggu), dan bayi prematur akhir (32- <47 minggu). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pusat rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia.

Ditemukan EOS (67,7%) dan 52 LOS (32,3%). Karakteristik pasien pada kedua kategori ditemukan serupa. Namun sebanyak 59,6% pasien LOS merupakan kasus rujukan, sedangkan pasien EOS terbanyak lahir di RSUD Dr. Soetomo (73,4%). Usia rata-rata ibu pasien dihitung antara 30 dan 31 tahun. Sebagian besar neonatus dengan sepsis adalah kelahiran tunggal (92,5%) dan lahir melalui operasi caesar (65,2%) dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (75,8%) dan usia kehamilan prematur (65,2%). Karakteristik pasien pada pasien prematur dan cukup bulan ditemukan serupa. Sebagai catatan, 91,5% pasien prematur dengan sepsis neonatal juga memiliki berat badan lahir rendah, dengan rata-rata berat lahir 1,591 gram. Sebagian besar pasien dalam kategori EOS dan LOS memiliki rata-rata usia kehamilan antara33-34 minggu (67,9% vs. 61,5%). Tidak terdapat korelasi statistik antara prematuritas dengan waktu timbulnya sepsis neonatal (p>0,05).

Sepsis neonatal adalah kondisi yang mengancam jiwa akibat infeksi aliran darah, di mana terdapat bakteri, virus, atau jamur selama 28 hari pertama kehidupan. Bayi prematur mempunyai risiko lebih tinggi terkena sepsis dibandingkan anak-anak dan orang dewasa karena kekebalan tubuh mereka yang belum matang. Banyak faktor risiko yang menyebabkan sepsis neonatal, termasuk faktor ibu, neonatal (host), dan nosokomial. Semakin banyak faktor predisposisi yang ada pada pasien dapat menyebabkan risiko lebih tinggi terkena sepsis. Beberapa faktor selain prematuritas sedang dibahas dalam penelitian ini karena mungkin terdapat korelasi antara prematuritas dan timbulnya penyakit dengan faktor risiko neonatal lainnya. Faktor risiko neonatal yang terlibat dalam terjadinya sepsis pada neonatus yang kami selidiki meliputi timbulnya penyakit, cara persalinan, berat badan lahir, status rujukan, dan prematuritas.

Sebagian besar pasien yang dianalisis dilahirkan melalui persalinan sesar (65,2%). Bayi yang lahir prematur dan cukup bulan memiliki jumlah kelahiran melalui SC dua kali lipat dibandingkan dengan kelahiran spontan. Sebagian besar pasien dan/ atau ibu sepsis neonatal memiliki kondisi penyerta yang memerlukan perawatan bedah sesar darurat.

Pada pasien yang dianalisis, 75,8% diidentifikasi memiliki berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR merupakan temuan umum pada pasien sepsis neonatal dan dianggap sebagai faktor risiko yang kuat. Penelitian serupa mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan sepsis neonatal menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan bervariasi, meskipun beberapa meta-analisis dan tinjauan literatur mempertahankan berat badan lahir rendah sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi akibat belum matangnya fungsi organ, penurunan imunoglobulin ibu (IgG) cadangan, terhambatnya kemampuan pembentukan antibodi, dan penurunan kemampuan mengonsumsi ASI, yang menyebabkan malnutrisi dan perpanjangan masa rawat inap di rumah sakit. Persentase bayi berat lahir rendah (BBLR) lebih tinggi (80,7%) pada kelompok EOS dibandingkan pada kelompok LOS (65,4%). Namun tidak ditemukan hubungan bermakna antara berat badan lahir dengan kejadian sepsis neonatal (p>0,05). Beberapa faktor dapat menjelaskan tingginya persentase bayi BBLR, 65,2% pasien sepsis neonatal yang diteliti dilahirkan melalui SC.

Sebanyak 37,3% pasien sepsis neonatal yang diteliti merupakan kasus rujukan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumah sakit rujukan lain di Indonesia (1,5%-3,7%). Pada penelitian ini, status rujukan berkorelasi signifikan dengan timbulnya sepsis neonatal (p<0,05). Meskipun sebagian besar pasien dalam penelitian ini lahir di RSUD Dr. Soetomo, namun 59,6% (n=31) pasien LOS dirujuk, 2 kali lebih besar dibandingkan pasien EOS (26,6%). Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya dimana persalinan di luar RSUD Dr. Soetomo berhubungan signifikan dengan LOS (p-value = 0.01, OR 31.69 (95%CI3.83-262.03).

Neonatus sangat rentan terhadap penyakit, dan prematuritas meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Salah satu cara perlindungan dari infeksi pada bayi cukup bulan adalah antibodi yang ditransfer dari ibu ke janin. Antibodi ini melindungi terhadap infeksi spesifik yang dialami ibu. Pada bayi prematur, jumlah IgG lebih sedikit dibandingkan bayi cukup bulan, sehingga meningkatkan kerentanan neonatus terhadap infeksi. Selain itu, ketidakmatangan sistem imun seluler, seperti terbatasnya kemampuan bakterisida dan sistem komplemen yang tidak berfungsi sempurna semakin menurunkan fungsi sistem imun pasien. Penurunan fungsi neutrofil dan rendahnya konsentrasi imunoglobulin juga meningkatkan kerentanan bayi prematur terhadap infeksi yang diperoleh dari prosedur invasif.

Analisis kami tidak menemukan korelasi yang signifikan secara statistik antara prematuritas dan EOS atau LOS. Meskipun kelahiran prematur sering dilaporkan sebagai salah satu faktor risiko terpenting terjadinya sepsis neonatal, prematuritas tampaknya tidak menjadi faktor risiko independen terjadinya sepsis neonatal.

Penulis: Dr. Martono Tri Utomo, dr., Sp.A (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.ajol.info/index.php/rmj/article/view/239730

AKSES CEPAT