Pertanian merupakan penopang utama kehidupan sebagian besar masyarakat miskin dunia, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia (Fischer & Qaim, 2012). Namun, keterbatasan modal, akses pasar, serta risiko kegagalan panen menjadikan petani kecil sulit keluar dari jerat kemiskinan (Barik & Bedamatta, 2025; Ha et al., 2015). Salah satu strategi yang diperkenalkan untuk mengatasi masalah ini adalah pertanian kontrak (contract farming), yaitu pola kemitraan antara petani dan perusahaan yang menjamin akses modal, pasar, serta pendampingan teknologi (Eaton & Shepherd, 2001; Silva & Marlo Rankin, 2013). Meskipun pertanian kontrak menawarkan peluang, terdapat kekhawatiran mengenai ketimpangan relasi antara petani dan investor, serta risiko tinggi yang ditanggung petani terutama pada sektor hortikultura. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan : 1) Mengidentifikasi indikator kreativitas yang di kalangan petani melon; 2) Menganalisis hubungan antara petani melon yang melakukan praktik pertanian kontrak dengan kreativitas petani melon; 3) Menjelaskan dampak pertanian kontrak terhadap kegiatan ekonomi pedesaan di Kecamatan Plumpang, Tuban
Kontrak pertanian antara petani melon dengan pemodal dari desa maupun luar desa. Kontrak pertanian dilakukan antara petani melon dan investor (pemodal) dan membawa dampak terhadap kreatifitas petani dalam menjalankan aktifitasnya. Indikator-indikator dari kreatifitas petani yang terlibat dalam kontrak pertanian adalah (1) mobilisasi sumber daya manusia, (2) peningkatan teknologi, (3) perluasan jaringan sosial, (4) peningkatan investasi, (5) pendidikan, (6) etos kerja, (7) keterampilan, (8) manajemen produksi, dan (9) efisiensi tenaga kerja. Kreativitas ini dipandang sebagai faktor penting dalam mengatasi risiko pertanian di alam terbuka sehingga dan menggerakkan ekonomi pedesaan.
Dalam penelitian ini menggunakan mixed methods dengan kombinasi kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan dari 100 responden petani melon di Kecamatan Plumpang yang dipilih secara purposive berdasarkan karakteristik demografis dan pertanian. Instrumen penelitian diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach檚 Alpha = 0,728). Analisis kuantitatif dilakukan dengan korelasi Spearman Rank untuk melihat hubungan petani melon dengan pertanian kontrak dan kreativitas petani. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperdalam pemahaman atas pola kemitraan, praktik usaha tani, serta pengalaman petani dalam menghadapi risiko.
Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara pertanian kontrak yang melakukan kegiatan secara intensif terhadap kreativitas petani yang ditunjukkan dengan dengan nilai koefisien 0,297 (p < 0,05), meskipun kekuatannya tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh faktor eksternal seperti iklim ekstrem yang sangat mempengaruhi keberhasilan panen. Dari sembilan indikator kreativitas, peningkatan investasi menempati peringkat pertama dengan koefisien 0,664. Sebanyak 75% petani menggunakan keuntungan dari pertanian kontrak untuk menambah modal, menyewa lahan, membeli peralatan pertanian, serta melakukan diversifikasi usaha non-pertanian. Selain itu, perluasan jaringan sosial (-0,476) dan etos kerja (0,443) juga berperan penting. Petani perlu menjual produk non-grade A kepada pedagang perantara, yang pada akhirnya memperluas jaringan pemasaran hingga antar-daerah. Etos kerja tinggi tampak dari kesigapan petani menjaga tanaman saat hujan deras, bahkan di malam hari. Namun indikator pendidikan formal hampir tidak berpengaruh (0,010), menunjukkan bahwa kreativitas tidak sepenuhnya ditentukan oleh tingkat pendidikan.
Dari indikator indikator meskipun merupakan pertanian kontrak secara informal, mampu mendorong kreativitas petani dalam mengelola risiko dan meningkatkan keuntungan. Kreativitas terutama diwujudkan dalam peningkatan investasi dan jaringan sosial yang pada gilirannya menggerakkan aktivitas ekonomi pedesaan. Namun, korelasi yang rendah antara pertanian kontrak dan kreativitas menunjukkan bahwa faktor eksternal, terutama iklim, tetap menjadi penentu keberhasilan. Praktik pertanian melon secara intensif ini berpotensi mempercepat pembangunan pedesaan dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Penelitian kegiatan praktek pertanian secara intensif perlu didukung karena memberikan pendapatan petani pada saat musim hujan dan memberikan pengaruh signifikan terhadap kesejahteran petani. Perlu pelatihan terhadap petani melon agar kualitas produk melon semakin meningkat sehingga memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar kepada petani.
Penulis: Prof. Dr. Rustinsyah, Dra., M.Si.
Detail dari penelitian bisa diakses di:





