Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiperaktifitas (GPPH) atau biasa juga disebut dengan Attention-Deficit/ Hiperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu kondisi neurobiologis yang ditandai dengan adanya masalah dalam perkembangan dan perilaku. GPPH memiliki gejala kurangnya atensi dan konsentrasi, hiperaktif serta impulsifitas, yang terjadi minimal di dua tempat dan muncul pada usia kurang dari 12 tahun. Angka kejadian GPPH cukup tinggi di seluruh dunia sehingga memerlukan kebutuhan intervensi yang intensif dan komprehensif. Masa pandemi COVID-19 yang berlangsung lama mengakibatkan terbatasnya intervensi dan berkurangnya kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan. Keterbatasan layanan yang tersedia mengakibatkan pelaksanaan intervensi menjadi tantangan tersendiri dan memerlukan solusi khusus.
Intervensi pada anak dengan GPPH
Intervensi yang dapat membantu anak dengan GPPH meliputi penatalaksanaan pengobatan/ medikasi (farmakoterapi) dan non farmakoterapi. Dalam intervensi farmakoterapi terdapat beberapa pilihan pengobatan berbasis bukti (evidence-based) seperti metilfenidat dan jenis psikofarmaka lainnya. Sedangkan untuk intevensi non farmakoterapi berupa terapi perilaku dan terapi okupasi (aktivitas). Peran intervensi lainnya juga meliputi peran orang tua dan keluarga yang positif, serta peran di lingkungan sosial anak termasuk terkait bidang pendidikannya.
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan beberapa layanan terapi sebelumnya tidak mungkin beroperasi secara efektif. Anak-anak dengan GPPH yang sebelumnya secara teratur menjalani perawatan di layanan terapi mengalami kesulitan untuk mendapatkan intervensi secara rutin. Hal ini menimbulkan masalah pada anak-anak dengan GPPH yang telah menunjukkan kondisi yang lebih baik yang mencakup berkurangnya gejala GPPH dan mendapatkan keterampilan baru karena intervensi rutin. Untuk mempertahankan kemajuan yang baik, orang tua harus mencari aktivitas alternatif solusi lainnya (model intervensi yang fokus pada peranan orang tua).
Intervensi Latihan fisik
Intervensi berupa aktivitas atau okupasi bertujuan untuk meningkatkan fungsi eksekutif (perencanaan, pengorganisasian, pengambilan keputusan), meningkatkan keterampilan sosial, pengendalian diri, dan meningkatkan perhatian. Latihan dan aktivitas fisik juga dilakukan untuk meningkatkan fungsi kognitif. Selain itu, aktivitas fisik memungkinkan juga terciptanya efek yang mirip dengan intervensi farmakoterapi (metilfenidat) terhadap target gejala perhatian pada anak-anak dengan GPPH.
Latihan fisik merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan oleh anak-anak dengan GPPH. Menurut berbagai penelitian, ada beberapa jenis latihan untuk anak-anak dengan GPPH, seperti latihan sirkuit, permainan yang berfokus pada motorik, bersepeda, dan treadmill. Aktivitas fisik memungkinkan penurunan gejala GPPH. Hal ini bisa dilakukan dengan bermain bersama keluarga/ teman sambil berolahraga atau berlatih secara fisik. Latihan fisik yang teratur akan memberikan aliran darah yang lebih besar ke otak dan menghasilkan lebih banyak endorphin, serotonin, dan asetilkolin yang bekerja dengan baik untuk mengurangi gejala GPPH. Selain itu keuntungan lainnya adalah membawa suasana hati yang baik, meningkatkan kepercayaan diri, melepaskan stres, meningkatkan kemampuan koordinasi motorik, dan detoksifikasi racun serta perbaikan metabolisme tubuh.
Penulis: Royke Tony Kalalo, dr, Sp.KJ(K), FISCM
Informasi detail dari studi ini dapat dilihat di:
Ayu Nuzulia Putri, Royke Tony Kalalo, Nining Febriyana, Yunias Setiawati, Endang Warsiki. Physical exercise for attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) at home during the COVID-19 pandemic: A case report. Int J Child Adolesc Health 2021;14(2):211-215. https://novapublishers.com/shop/volume-14-issue-2-international-journal-of-child-and-adolescent-health/
dan https://www.proquest.com/docview/2549058761?pq-origsite=gscholar&fromopenview=true





