Spondiloartritis (SpA) adalah penyakit peradangan kronis yang ditandai oleh entesitis, sakroiliitis, dan keterlibatan sendi tulang belakang. Meskipun hubungan antara HLA kelas I, terutama HLA-B*27, dengan SpA telah banyak dilaporkan, belum ada penelitian tentang jenis alel HLA yang berperan pada populasi pasien SpA di Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis HLA pada pasien SpA di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain analitis potong lintang dengan pasien yang memenuhi kriteria SpA sesuai dengan ASAS 2009. Skor klinis yang digunakan dalam penelitian ini adalah mSASSS, BASFI, ASDAS, dan Schober. Identifikasi genetik menggunakan metode PCR diikuti oleh sekuensing Sanger untuk menentukan jenis HLA pada pasien. Penyejajaran urutan DNA dengan BLAST dan pembuatan pohon filogenetik juga dilakukan pada penelitian ini.
Penelitian ini mengungkap hasil yang sangat menarik, ditemukan empat jenis HLA pada pasien SpA di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, yaitu HLA-B, HLA-C, dan HLA-K. Alel HLA-C dan HLA-K merupakan alel HLA yang paling banyak ditemukan pada pasien SpA di RSUD Dr. Soetomo, dengan aktivitas penyakit yang paling progresif ditunjukkan oleh skor mSASSS, BASFI, ASDAS, dan Schober yang rendah serta durasi penyakit yang singkat. Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang peran genetik dalam SpA pada pasien di Indonesia.
Alel yang berperan dalam penyakit SpA dapat berbeda di tiap negara akibat dari perbedaan variasi genetik, namun belum ada penelitian yang membahas keterkaitan HLA-K dengan SpA. Lebih dari separuh pasien SpA di RSUD Dr. Soetomo memiliki HLA-K dengan aktivitas penyakit yang tinggi dan progresivitas yang cepat. HLA-K merupakan pseudogen yang umumnya muncul akibat mutasi. Pseudogen biasanya tidak ditranskripsi akibat perbedaan urutan basa nukleotida yang menyebabkan tidak dapat terbacanya gen tersebut, tetapi beberapa pseudogen dapat ditranskripsi namun tidak diterjemahkan atau bahkan dapat diterjemahkan menjadi protein non-fungsional. Mutasi yang menyebabkan pergeseran bingkai pembacaan dan penghentian pada pseudogen ini menyebabkan sintesis protein yang sepenuhnya baru atau tidak dapat digunakan.
Protein yang tidak berfungsi atau tidak normal diduga mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat penyakit menjadi lebih parah. Protein non-fungsional akibat mutasi juga dapat menyebabkan kesalahan pelipatan (misfolding) di retikulum endoplasma, yang kemudian mengaktifkan unfolded protein response (UPR). UPR yang terjadi pada makrofag sumsum tulang menyebabkan stres seluler hingga memicu peningkatan produksi IL-23, IFN-尾, dan IL-1伪, yang merupakan komponen sitokin pemicu peradangan. Penghentian prematur pada pembacaan protein juga dapat menyebabkan protein yang tidak normal dan lebih pendek yang akan dipresentasikan sebagai antigen yang juga akan memicu respons peradangan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa HLA-K menyebabkan aktivitas penyakit yang parah pada pasien.
Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang peran HLA-K dalam meningkatkan keparahan penyakit SpA. Hal ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan pemahaman kita tentang penyakit SpA serta menyoroti pentingnya penelitian genetik dalam menentukan faktor risiko dan perjalanan penyakit. Dengan mengetahui jenis HLA yang berkaitan dengan aktivitas penyakit yang lebih parah, diharapkan penanganan SpA dapat menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.
Penulis : Dr. dr. Yuliasih, SpPD-KR
Laman : https://f1000research.com/articles/11-1011
Judul : HLA class I and discoveries of the HLA-K (pseudogene) related to disease severity and progression in patients with spondyloarthritis in Dr. Soetomo General Hospital, a tertiary health care center in Surabaya, Indonesia
DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.124416.1





