Dunia kesehatan dalam skala global selalu bergerak melakukan pemutakhiran pada alternatif-alternatif terapi untuk berbagai penyakit. Di samping adanya terapi alofatik, yang di dalamnya terdapat obat-obatan sintetik yang diresepkan oleh dokter dan secara umum diterima oleh masyarakat dan diregulasi oleh pemerintah, pengembangan alternatif terapi dengan terapi komplementer dan obat tradisional juga bergerak ke arah yang sama. Obat tradisional yang berkembang dimutakhirkan dengan banyaknya uji khasiat baik secara in vitro maupun in vivo. Pengujian dilakukan untuk mendampingi bukti empiris terkait keamanan dan efikasi yang memang sudah memasyarakat sebelumnya. Lebih jauh lagi, pengujian pada entitas murni dari obat-obat tradisional juga menjadi sisi yang menarik dan banyak dikembangkan. Kandungan bahan alam yang begitu melimpah memang menjanjikan adanya potensi pengembangan senyawa tunggal yang diisolasi dari bahan tertentu untuk menjadi kandidat obat. Tidak harus langsung menjadi kandidat obat, senyawa tunggal isolat bahan alam ini bisa jadi menjadi kunci menuju paradigma pengobatan yang baru untuk suatu penyakit.
Dalam sebuah kajian ilmiah oleh El Hachlafi dkk (2023) contohnya, fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa kekayaan hayati di daerah mediterania seperti Mentha suaveolens dan Lavandula stoechas yang umum disajikan dalam bentuk essential oil mengandung banyak sekali komponen kimiawi yang berpotensi terapetik. Tanaman tersebut di indonesia kita sangat kenal sebagai golongan mint dan lavender. Saintifikasi penggunaan pada pengobatan dibuktikan dengan pengujian efek antimikroba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entitas kedua minyak esensial tersebut tergolong aktif dalam mengeradikasi bakteri gram positif dan gram negatif maupun jamur. Pun dengan aktifitas pada kinerja metabolisme juga dilakukan pengujian. Studi perbandingan terhadap akarbose, yakni salah satu agen terapi diabetes yang berfungsi menurunkan gula darah dengan cara mencegah pemecahan kompleks gula pada saluran cerna agar tidak pecah menjadi gula sederhana dan diabsorbsi oleh tubuh ke pembuluh darah sistemik. Akarbose sangat efektif dalam menurunkan kinerja enzim 伪-amylase dan 伪-glucosidase, enzim yang melakukan pemecahan gula di saluran cerna. Artinya jika ada kandidat senyawa obat yang mampu menunjukkan performa sebanding atau lebih baik dari akarbose dalam menurunkan kinerja enzim ini, maka akan menjadi kandidat obat yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Menariknya kandungan minyak esensial dalam penelitian di atas juga menunjukan hasil yang impresif dalam menurunkan kinerja enzim 伪-amylase dan 伪-glucosidase. Melalui pengujian aktifitas enzimatis, didapatkan bahwa efikasi minyak esensial dari Mentha suaveolens dan Lavandula stoechas mampu menyamai aktifitas akarbose.
Beberapa kandungan yang telah dieksplorasi dapat menjadi fokus utama. Kandungan tinggi oxygenated monoterpene, fenchone, camphor, dan linalool serta piperitenone oxide dalam minyak esensial tersebut dapat menjadi kunci menuju pengembangan terapi pada beragai penyakit. Misalnya senyawa D-fenchone dari minyak lavender juga pernah diteliti sebelumnya memiliki potensi farmakologi yang menjanjikan. Linalool juga banyak diteliti memiliki potensi untuk mempengaruhi perbaikan vaskularisasi pada komplikasi diabetes. Piperitone oksida bahkan dilaporkan memiliki aktifitas langsung pada persinyalan syaraf yang mengatur kontraksi otot usus. Penelitian tersebut membuka jalan berkembangnya teori-teori baru mengenai efek senyawa tersebut pada semua otot polos di sistem organ kita. Ke depan, pengukuran aktifitas dari setiap entitas murni atau isolat dalam minyak esensial tersebut akan menjadi tantangan baru dan potensial untuk dikembangkan.
Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt
Berdasarkan publikasi El Hachlafi et al, 2023 pada Biomedicine & Pharmacotherapy Volume 164, August 2023, 114937





