Panel surya sering dipandang sebagai simbol energi bersih. Namun, ketika masa pakainya telah habis, panel surya berubah menjadi limbah yang dapat mengandung bahan berbahaya dan logam berat. Hal ini memunculkan risiko bagi lingkungan dan kesehatan jika tidak dikelola dengan benar. Di Indonesia, pengelolaan limbah panel surya pada fase akhir-umur masih belum berkembang secepat pertumbuhan pemakaiannya. Perkembangan panel surya adalah kabar baik untuk solusi pengurangan emisi. Tetapi bila dilihat dari siklus cradle to grave ada fase yang sering terlupakan yakni akhir umur pakai. Pendekatan cradle to grave membantu kita tidak berhenti pada klaim 渞endah emisi saat digunakan, tetapi juga menilai konsekuensi ketika panel rusak, diganti, dibuang dan potensi melepaskan zat berbahaya ke lingkungan. Banyak orang masih menganggap energi surya sepenuhnya 渂ersih tanpa memikirkan sisi limbahnya, padahal di titik inilah tata kelola menentukan apakah manfaat lingkungan tetap lebih besar daripada risikonya.
Sebuah studi di Surabaya menilai pengetahuan, sikap, persepsi, dan praktik mahasiswa tentang dampak kesehatan limbah panel surya melalui survei terhadap 329 responden. Hasilnya menunjukkan, sebagian besar mahasiswa menunjukkan kesadaran yang tergolong sedang hingga tinggi terkait daur ulang panel surya dan pentingnya pembuangan yang benar, tetapi pengetahuan tersebut cenderung 渢eoritis dan belum banyak diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini menggambarkan tantangan cradle to grave sebatas pemahaman konsep ada, tetapi 渏alur tindakan pada fase grave belum terbentuk kuat.
Dari sisi pengetahuan dasar, mayoritas responden mengetahui bahwa panel surya seharusnya dibawa ke fasilitas daur ulang khusus, namun masih ada yang mengira panel bisa dibuang ke sampah biasa atau dikubur. Temuan ini penting karena titik lemah pengelolaan sering terjadi bukan pada niat, melainkan pada akses informasi teknis dan ketersediaan jalur pembuangan yang benar.
Sikap mahasiswa umumnya pro-lingkungan dan mendukung kebijakan yang mendorong pengelolaan bertanggung jawab, termasuk dukungan terhadap skema panel dengan jaminan daur ulang/pembuangan aman. Namun keterlibatan langsung seperti mengikuti diskusi/pelatihan, menghadiri workshop, atau melihat proses daur ulang masih rendah, dan hanya sebagian kecil yang pernah mengikuti kegiatan khusus pengelolaan limbah panel surya. Ini mempertegas 渏arak antara tahu dan melakukan pada fase grave.
Di sisi lain, internet dan media sosial menjadi tempat paling mudah untuk mencari jawaban. Informasi memang cepat datang, tetapi tidak selalu menenangkan, ada yang akurat, ada yang setengah benar, ada pula yang membuat isu limbah terasa jauh dan abstrak. Tanpa pengalaman nyata melihat alur pengumpulan, pengangkutan, hingga pemrosesan limbah panel surya tetap seperti 渦rusan orang lain, padahal pada akhirnya akan meberikan dampak lingkungan kita seperti tanah, air, dan kesehatan keluarga di sekitar kita.
Karena itu, kampus bisa mengambil peran, bukan sekadar menambah materi, tetapi menciptakan pengalaman yang membuat mahasiswa merasa mampu dan punya tempat untuk berkontribusi. Rekomendasi studi menekankan integrasi isu limbah panel surya dalam pembelajaran, pemanfaatan platform digital untuk edukasi yang benar, serta membangun program percontohan bersama pemerintah dan sektor swasta agar ada jalur nyata untuk belajar dan bertindak. Jika ruang-ruang ini dibuka, literasi tidak berhenti menjadi wacana, melainkan berubah menjadi kebiasaan baik dan pada saat volume limbah meningkat kelak, kita tidak sekadar 渟udah tahu, tetapi juga sudah siap.
Oleh: Oleh: Tofan Agung Eka Prasetya, Abdullah Al Mamun, Ratnaningtyas Wahyu Kusuma Wardani, Dwi Setiani Sumardiko, Sarawut Sukkhum, Theerakamol Pengsakul, Shahariar Chowdhury
Link:





