51动漫

51动漫 Official Website

Literasi Kesehatan pada Penderita Penyakit Ginjal Kronis Usia Produktif di Indonesia

Sumber: RS Pondok Indah
Sumber: RS Pondok Indah

Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang di Indonesia, khususnya di kalangan individu usia produktif. Pada tahun 2018 ditemukan ada lebih dari 132.000 orang di Indonesia terdiagnosis dengan penyakit ginjal tahap akhir, dan angka ini diperkirakan terus meningkat. CKD adalah penyakit jangka panjang yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang karena penurunan fungsi ginjal yang tidak terdiagnosis atau terlambat diobati sehingga menyebabkan komplikasi serius. Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan penyakit ini adalah rendahnya literasi kesehatan pada penderita, yang memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami dan mengelola penyakit mereka.

Literasi kesehatan mengacu pada kemampuan individu untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi kesehatan yang dapat memengaruhi keputusan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Penderita CKD dengan literasi kesehatan yang baik sangat penting untuk mengelola kondisi mereka secara efektif dan menghindari komplikasi yang lebih serius. Sayangnya, sebuah penelitian yang dilakukan pada 226 penderita CKD tahap awal di Surabaya menunjukkan bahwa sekitar 61,95% dari mereka memiliki tingkat literasi kesehatan yang rendah. Hal ini membuktikan bahwa banyak penderita CKD yang kesulitan memahami informasi terkait penyakit mereka sehingga berpotensi menimbulkan pengambilan keputusan kesehatan yang kurang tepat. Penelitian ini mengukur lima dimensi literasi kesehatan, yaitu: (1) Akses Informasi Kesehatan; (2) Pemahaman Informasi Kesehatan; (3) Evaluasi Informasi Kesehatan; (4) Penerapan Informasi Kesehatan; dan (5) Komunikasi dan Interaksi dengan Tenaga Medis.

Hasil penelitian menemukan bahwa penderita CKD mengalami kesulitan dalam empat dimensi pertama. Sebagian besar pasien kesulitan dalam mencari, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi kesehatan yang mereka terima, baik dari dokter maupun sumber lain. Misalnya, mereka kesulitan untuk menemukan informasi yang akurat di internet dan menilai keandalan informasi tersebut. Di sisi lain, dimensi komunikasi dan interaksi dengan tenaga medis menunjukkan skor yang lebih baik dimana pasien lebih percaya diri untuk bertanya kepada dokter atau petugas medis terkait perawatan mereka.

Lebih lanjut, studi ini mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi tingkat literasi kesehatan pada penderita CKD. Dua faktor utama yang berpengaruh adalah tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga. Peserta dengan pendidikan rendah dan pendapatan keluarga yang rendah cenderung memiliki tingkat literasi kesehatan yang lebih buruk. Dengan begitu, mereka yang memiliki pendidikan rendah atau pendapatan keluarga yang terbatas lebih sulit mengakses dan memahami informasi kesehatan yang diperlukan untuk mengelola penyakit mereka dengan baik.           

Program literasi kesehatan yang mudah diakses menjadi hal yang penting. Sebab, apabila pasien memiliki tingkat literasi kesehatan rendah, maka penderita CKD berisiko lebih besar untuk mengalami perburukan kondisi ginjal mereka, dan menghadapi kesulitan dalam mengikuti pengobatan yang disarankan oleh tenaga medis. Oleh karena itu, penting bagi sistem kesehatan untuk mengembangkan program literasi kesehatan yang sederhana, terjangkau, dan mudah diakses. Program-program ini perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman individu dan bisa memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, seperti media sosial, internet, atau sesi tatap muka dengan tenaga medis.

Sebagai contoh, penyuluhan melalui platform online dapat menjadi cara yang efektif untuk menjangkau pasien yang tinggal di daerah terpencil, yang mungkin kesulitan mengakses informasi kesehatan secara langsung. Penyuluhan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman pasien juga akan sangat membantu mereka dalam mengelola penyakit mereka dengan lebih baik.

Literasi kesehatan bukan hanya masalah individu, tetapi juga tantangan sistem kesehatan secara keseluruhan. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan yang lebih inklusif dalam mengembangkan kebijakan dan program kesehatan. Salah satunya adalah dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain rumah sakit, puskesmas, dan organisasi non-pemerintah agar memberikan pendidikan kesehatan yang mudah diakses oleh penderita CKD. Hal ini akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman penderita CKD mengenai pentingnya pengelolaan penyakit mereka.

Penyakit ginjal kronis pada usia produktif adalah masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Rendahnya literasi kesehatan di kalangan penderita CKD dapat memperburuk kondisi mereka dan memperpendek usia produktif. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan program literasi kesehatan yang lebih mudah diakses, terjangkau, dan dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan rendah. Melalui peningkatan literasi kesehatan diharapkan penderita CKD dapat membuat keputusan yang lebih baik mengenai perawatan diri mereka, mengikuti pengobatan dengan lebih efektif, dan mengurangi risiko komplikasi serius di masa depan.

Peningkatan literasi kesehatan harus menjadi prioritas utama dalam upaya pengendalian penyakit ginjal kronis di Indonesia. Dengan demikian, kita perlu melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan sistem yang mendukung kesadaran, dan pengelolaan kesehatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

Penulis, Ira Suarilah, S.Kp., M.Sc., Ph.D
Jurnal: Suarilah, I., & Lin, C. C. (2025). Critical Health-literacy of Working-age Indonesians living with Early-stage Chronic Kidney Disease: A Cross-sectional Study. Journal of Health Literacy, 10(3), 108-119.

AKSES CEPAT