51动漫

51动漫 Official Website

Locomotion Training Meningkatkan Kapasitas Fungsional Lansia Penderita Sindroma Lokomotif di Panti Wreda

Foto by Alodokter

Penuaan menyebabkan gangguan di berbagai organ, termasuk pada organ berjalan (lokomotor) seperti tulang, sendi, otot dan saraf dan menyebabkan terjadinya sindroma lokomotif. Penyakit ini ditandai dengan penurunan fungsi fisik pada lansia yang menyebabkan batasan melakukan aktivitas harian dan menurunkan kualitas hidup lansia. Sindroma Lokomotif dibagi menjadi 3 stadium tergantung derajat keparahan gangguan fisik yang terjadi. Sindroma lokomotif stadium 1 merupakan awal terjadinya penurunan fungsi fisik sehingga membutuhkan identifikasi dan penanganan dini seperti peningkatan aktivitas fisik, perbaikan nutrisi dan latihan fisik yang dilakukan secara rutin. Sedangkan sindroma lokomotif stadium 2 dan 3 membutuhkan evaluasi dan penanganan oleh dokter terlebih dahulu sebelum dilakukan intervensi

Latihan fisik yang dilakukan secara rutin dapat meningkatkan fungsi fisik dan menunda ketergantungan pada lansia. Program latihan fisik yang disarankan untuk lansia adalah latihan multi-komponen yang meliputi latihan penguatan, fleksibillitas, keseimbangan, dan latihan aerobik. Latihan fisik yang diberikan di Panti Wreda di Indonesia umumnya hanya berupa latihan aerobik. Locomotion Training (locotra) merupakan gabungan latihan penguatan dan keseimbangan yang terbukti aman, sederhana, efektif dalam meningkatkan fungsi fisik lansia. Latihan ini terdiri dari 4 macam latihan, yaitu latihan one leg stand, squat, heel raise dan front lunge. Penurunan fungsi fisik yang timbul seiring bertambahnya usia dapat dinilai dengan pengukuran kapasitas fungsional baik dengan uji latih maksimal maupun uji latih sub maksimal untuk mengukur konsumsi oksigen maksimal (VO2max). Tes Berjalan 2 Menit (2MWT) adalah salah satu uji latih submaksimal yang lebih singkat dan relatif lebih aman pada lansia yang lemah. Tes ini aman dan sederhana serta dapat memberikan informasi yang sama tentang mobilitas dan terbukti valid dan reliabel untuk mengukur kapasitas latihan pada lansia.

Berangkat dari hal tersebut Michael Prayogo, Damayanti Tinduh, Dewi Poerwandari, Rwahita Satyawati Dharmanta, Sri Mardjiati Mei Wulan, Yukio Mikami, dan Soenarnatalina Melaniani melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis potensi tambahan Locomotion Training pada peningkatan kapasitas fungsional pada lansia penderita sindroma lokomotif stadium 1 di panti wreda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental melalui uji klinis pada lansia penderita sindroma lokomotif dengan pendekatan pre-post test control group design. Dua puluh empat orang penderita sindroma lokomotif stadium 1 berusia 60-80 tahun, yang tinggal di panti Wreda Jambangan Surabaya, direkrut dan diacak ke dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Kedua kelompok diberikan latihan aerobik dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per sesi, 7 sesi per minggu. Kelompok perlakuan mendapatkan tambahan locotra 3 kali per minggu, 3 set per sesi yang ditingkatkan bertahap sampai 5 set per sesi sesuai toleransi subjek penelitian. Kedua kelompok mendapatkan intervensi selama selama 8 minggu. Pengukuran tes berjalan 2 menit (2MWT) dilakukan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok dan dikonversi menjadi nilai konsumsi oksigen maksimal (VO2max).

Salah satu simpulan penting yang didapatkan pada penelitian ini adalah kombinasi locotra dan latihan aerobik dapat memberikan peningkatan kapasitas latihan yang lebih baik dibandingkan pemberian latihan aerobik saja, sehingga Locotra dapat dijadikan tambahan latihan fisik rutin untuk lansia dengan sindroma lokomotif stadium 1 di panti wreda.

Penulis: Michael Prayogo, Damayanti Tinduh, Dewi Poerwandari, Rwahita Satyawati Dharmanta, Sri Mardjiati Mei Wulan, Yukio Mikami, Soenarnatalina Melanian

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat diAnnals of Geriatric Medicine and Research

Berikut judul dan link artikel:

Judul : Improving Capacity of Older Adults with Locomotive Syndrome Stage 1 Living in Nursing Home: A Pilot Clinical Tria

Link :

AKSES CEPAT