51动漫

51动漫 Official Website

Luvunga Scandens sebagai Sumber Obat Antimalaria Potensial

Luvunga Scandens sebagai Sumber Obat Antimalaria Potensial
Sumber: Halodoc

Malaria masih dianggap sebagai ancaman kesehatan yang serius di seluruh dunia, hampir mempengaruhi sebagian besar populasi terutama di negara-negara tropis. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) mencatat 249 juta kasus malaria global pada tahun 2022. Sedangkan data Kementrian Kesehatan menunjukkan 415.140 kasus di Indonesia pada 2022, melonjak 36,29% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 304.607. Penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian malaria adalah meningkatnya resistensi parasit malaria terhadap obat-obatan yang sudah tersedia secara komersial. Fakta ini menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk menemukan obat antimalaria baru dengan potensi yang baik dan efektivitas yang memadai untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian serta memerangi masalah resistensi.

Produk alami, khususnya tumbuhan, telah memainkan peran penting dalam penemuan obat baru sejak zaman prasejarah. Bahkan kelas utama obat antimalaria, yaitu kinin dan artemisinin, ditemukan berasal dari tumbuhan, yaitu dari kulit kayu Cinchona officinalis dan daun Artemisia annua. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang unggul dan banyaknya tanaman obat yang berkhasiat. Lebih dari 30.000 tanaman berbunga dan sekitar 7.000 spesies tanaman obat telah dilaporkan dari kekayaan tanah subur Indonesia.

Persediaan senyawa-senyawa yang tiada habisnya yang mungkin terdapat dalam tanaman yang belum banyak diteliti dan pemanfaatan secara empiris/etnofarmakologis dapat mengarah pada pendekatan kreatif untuk menemukan obat baru. Berdasarkan pada sejarah etnofarmakologis, salah satu spesies penting dari genus Luvunga, yaitu Luvunga scandens (Roxb.) yang termasuk dalam famili Rutaceae, telah banyak diteliti khasiatnya. Tanaman ini terutama ditemukan di daerah tropis dan lembab di Cina, Kamboja, India, Laos, Indonesia, Filipina, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.

Secara tradisional, rebusan batang L. scandens lebih umum digunakan dalam pengobatan malaria di Indonesia. Tanaman ini juga telah dilaporkan kegunaannya untuk mengobati jamur, antibakteri, penangkal gigitan ular dan sengatan kalajengking. Penelitian tentang khasiat L. scandens untuk mengatasi malaria masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antimalaria batang dan daun L. scandens pada kultur parasit Plasmodium falciparum.

Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak diklorometana dari daun Luvunga scandens (LS-L-D) mempunyai potensi sebagai kandidat yang menjanjikan. Ekstrak ini juga tidak menunjukkan efek toksik yang dibuktikan dengan hasil uji sitotoksisitas terhadap sel HepG2. Ekstrak diklorometana LS-L-D ini mampu menghambat pertumbuhan parasit P. falciparum dengan nilai IC50 6,10卤0,04 碌g/mL dan tidak ada sitotoksisitas yang ditunjukkan dengan nilai CC50 50,55 卤0,02 碌g/mL terhadap galur sel HepG2. Nilai IC50 merupakan nilai konsentrasi substansi yang mampu menghambat pertumbuhan parasit sebanyak 50%, sehingga semakin rendah nilainya maka aktivitasnya pun semakin poten. Sedangkan nilai CC50 adalah kebalikannya, semakin tinggi nilainya maka keamanannya semakin baik.

Sifat LS-L-D yang tidak toksik menjadikan ekstrak ini menjanjikan untuk dilakukan pengujian lebih lanjut. Pemisahan ekstrak LS-L-D secara kromatografi menghasilkan 26 fraksi (F1-F26). Diantara fraksi-fraksi tersebut, F23 dikategorikan paling aktif berdasarkan profil nilai IC50 yaitu 2,44卤0,09 碌g/mL terhadap P. falciparum galur 3D7 dan nilai toksisitasnya yang rendah yaitu CC50 46,35卤0,03 碌g/mL terhadap galur sel HepG2. Studi selanjutnya dilakukan untuk mengetahui profil kandungan senyawa dalam F23 dengan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) dan diperoleh hasil bahwa F23 mengandung senyawa dominan dengan spektra UV yang mengindikasikan golongan senyawa isoflavon. Efek antimalaria dari fraksi ini kemungkinan disebabkan oleh adanya senyawa utama tersebut disamping adanya efek sinergisme dari senyawa lain yang terkandung dalam F23. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menggali potensi terapeutiknya, termasuk melakukan isolasi senyawa dari F23 untuk mengungkap senyawa aktif antimalaria yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini membuka jalan bagi potensi kemajuan dalam pengobatan malaria melalui pengembangan obat baru.

Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.

Link:

Baca juga: Inovasi Teknologi Liposom pada Terapi Malaria

AKSES CEPAT