Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam aspek kesehatan yang turut mempengaruhi penyediaan layanan farmasi. Terbatasnya mobilitas penduduk pada saat pandemi menyebabkan penurunan jumlah pasien rawat jalan di fasilitas pelayanan kesehatan secara signifikan.
Dalam upaya mengatasi situasi tersebut, pendekatan melalui penggunaan teknologi kesehatan digital diterapkan melalui layanan telefarmasi untuk tetap dapat memberikan layanan farmasi pada pasien rawat jalan. Telefarmasi memungkinkan apoteker dan pasien untuk berinteraksi dari jarak jauh yang dapat meminimalkan paparan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan. Telefarmasi diharapkan tidak hanya bersifat sementara selama pandemi, melainkan dapat terus diimplementasikan dalam jangka panjang untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien. Oleh karena itu, baik apoteker maupun mahasiswa program studi farmasi diharapkan dapat mempersiapkan diri untuk memberikan layanan telefarmasi.
Sebuah penelitian di Indonesia menilai pengetahuan, persepsi, dan minat mahasiswa farmasi untuk menyediakan layanan telefarmasi. Studi dilakukan pada 313 mahasiswa farmasi dari tiga universitas negeri di Indonesia. Hasil penelitian menemukan bahwa hanya sebagian kecil (13.2%) mahasiswa farmasi yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi mengenai layanan telefarmasi, akan tetapi sebagian besar memiliki persepsi dan minat yang positif (66.5% dan 97.4%) untuk menyediakan layanan telefarmasi di masa depan.
Faktor-faktor seperti usia dan keahlian dalam penggunaan smartphone ditemukan berhubungan dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Siswa yang berusia lebih tua dan mahir dalam penggunaan smartphone cenderung memiliki tingkat yang pengetahuan yang lebih tinggi mengenai layanan telefarmasi. Di sisi lain, mahasiswa laki-laki memiliki kemungkinan lebih rendah untuk memiliki persepsi positif tentang layanan telefarmasi dibandingkan dengan mahasiswa perempuan.
Walaupun pengetahuan mengenai telefarmasi pada mahasiswa farmasi terbatas, penelitian ini mengungkapkan bahwa mahasiswa farmasi di Indonesia memiliki persepsi positif dan minat untuk menyediakan layanan telefarmasi dalam karir mereka di masa depan. Persepsi positif ini dapat dikaitkan dengan manfaat yang dirasakan dari telefarmasi, seperti penyediaan layanan kesehatan yang komprehensif, adopsi teknologi dalam layanan kesehatan, penghematan waktu, dan pengurangan biaya.
Oleh karena itu, untuk memastikan keberhasilan implementasi telefarmasi, sangat penting untuk memasukkan praktik telefarmasi sebagai mata kuliah dalam kurikulum dan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mahasiswa dalam menyediakan layanan telefarmasi. Dengan demikian, apoteker masa depan akan lebih siap untuk menyediakan layanan telefarmasi dan berkontribusi pada kemajuan layanan kesehatan di Indonesia.
Penulis: Elida Zairina, Davina Satya Mutia
Artikel lengkap:
Alfian, S.D., Khoiry, Q.A., Andhika A. Pratama, M. et al. Knowledge, perception, and willingness to provide telepharmacy services among pharmacy students: a multicenter cross-sectional study in Indonesia. BMC Med Educ 23, 800 (2023). https://doi.org/10.1186/s12909-023-04790-4





