UNAIR NEWS Mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Manifesthink melaksanakan penelitian di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis (29/5/2025) – Minggu (1/6/2025). Penelitian itu mengkaji pengaruh model community organizing dalam pengelolaan tanaman obat Selaginella terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11, yakni Sustainable Cities and Communities.
Riset itu memfokuskan pada keterlibatan kelompok masyarakat lokal terutama PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) dan kelompok konservasi TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dalam mengelola tanaman Selaginella secara partisipatif, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal.
Warga Bergerak, Desa Menguat
Pengelolaan Selaginella di Desa Tamansari masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan kapasitas manajemen, akses pasar, hingga pengetahuan teknis yang belum merata. Penelitian ini hadir sebagai bentuk monitoring dan penguatan dari inisiatif masyarakat dalam pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi.
淜ami melihat bahwa inisiatif dari komunitas seperti PKK dan TOGA punya potensi luar biasa, tinggal diperkuat dari segi manajemen dan koneksi pasar, ujar Bagas, anggota tim peneliti.
Pengaruh Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Jadi Sorotan
Dengan bimbingan dosen FISIP UNAIR, Putu Aditya Ferdian Ariawanta S I P , M KP, tim yang terdiri dari Balqis Saila Sufa Al Zakiyah (Ilmu Politik) selaku ketua tim, serta Muhammad Rifki Nur Aprialdi, Muh Rifki Ramadhan, dan Bagas Febi Cahyono (Administrasi Publik), mendalami bagaimana dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan saling memengaruhi efektivitas pengelolaan tanaman obat oleh warga.
淜ami menelusuri bagaimana pola kerja komunitas dapat menciptakan dampak berkelanjutan, tidak hanya dari segi ekonomi tetapi juga solidaritas sosial warga, tutur Rifki, anggota tim peneliti.
Komunitas Lokal sebagai Pilar Pembangunan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dapat menjadi kunci menuju desa yang tangguh dan berkelanjutan. Ketika warga diberi ruang untuk berinisiatif dan didampingi secara tepat, mereka mampu mendorong perubahan dari tingkat paling dasar.
淪elaginella bukan hanya tanaman obat biasa. Di tangan komunitas, ia menjadi simbol kemandirian desa dan upaya menjaga lingkungan hidup, pungkas Balqis, ketua tim peneliti.
Penelitian ini diharapkan dapat mendorong praktik community organizing yang lebih kuat dalam pelestarian sumber daya desa sekaligus mendukung capaian SDGs di tingkat lokal.(*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





