51动漫

51动漫 Official Website

Mahasiswa FK UNAIR Latih Kader Surabaya Pantau Stunting

Sesi pelatihan dan analisis stunting di Kantor Kecamatan Tambaksari, Surabaya (Foto: Dokumentasi Tim BBK-MBKM FK UNAIR 2025)

Upaya pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga pada peran aktif kader kesehatan di tingkat masyarakat. Melalui program Belajar Bersama Komunitas (BBK) dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mahasiswa Fakultas Kedokteran 51动漫 (FK UNAIR) berupaya memperkuat kapasitas kader kesehatan melalui kegiatan pelatihan pengisian dan analisis data logbook stunting.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Kecamatan Tambaksari, Surabaya, dengan melibatkan kader Surabaya Hebat dari Kelurahan Pacar Keling serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Pacar Keling. Program ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat yang berlangsung pada Oktober hingga November 2025.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai stunting, faktor risiko, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara rutin. Para kader juga mendapatkan pelatihan praktis terkait pengukuran antropometri anak, cara membaca grafik pertumbuhan pada Buku KIA, hingga praktik langsung pengisian dan analisis data logbook sebagai alat pencatatan pemantauan tumbuh kembang balita.

Program ini dibimbing oleh dosen Fakultas Kedokteran 51动漫, yaitu Annette d橝rqom, dr., M.Sc., Ph.D. dan Dr. Ira Humairah, dr., M.Si., dengan mahasiswa pelaksana Moh. Qiberlee Ramaputra Syafiq Velasepta Rostagama, Nadya Azihni Henofaiza, Nashwa Ammara Rizkyantika, dan Shayna Bunga Drianlis Widjaja.

Menurut Annette d橝rqom, dr., M.Sc., Ph.D., kader memiliki peran strategis sebagai
penghubung antara fasilitas kesehatan dan masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas
kader dalam pencatatan dan analisis data menjadi langkah penting dalam mendukung deteksi
dini stunting serta pencapaian target SDGs 3. 淢elalui pelatihan ini, kader diharapkan tidak
hanya mampu mencatat data pertumbuhan anak, tetapi juga memahami bagaimana
menginterpretasikan data tersebut untuk menentukan langkah tindak lanjut yang tepat,
jelasnya.

Antusiasme para kader terlihat selama sesi pelatihan berlangsung. Mereka aktif berdiskusi, mencoba melakukan pengukuran antropometri, serta berlatih membaca grafik pertumbuhan balita pada Buku KIA. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman kader setelah mengikuti pelatihan.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang berharga. Selain menerapkan ilmu kedokteran dalam konteks kesehatan masyarakat, mereka juga belajar berkomunikasi dengan masyarakat, memahami permasalahan kesehatan di tingkat komunitas, serta bekerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan sesuai dengan SDGs 3.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa FK UNAIR berharap kader Surabaya Hebat dapat semakin percaya diri dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang balita serta berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting di lingkungan mereka, sebagai bagian dari kontribusi nyata menuju tercapainya SDGs 3.

Penulis: Nashwa Ammara

AKSES CEPAT