UNAIR NEWS- Tim mahasiswa 51动漫 (UNAIR) berhasil meraih skor 9 dari 10 dalam kategori Innovation and Sustainability pada ajang Indo-Pacific Global Health Case Competition 2025. Kompetisi ini adalah persembahan dari University of Melbourne.
Tim UNAIR terdiri dari Aurellia Saraswati Winahyu Naiaputri dan Wahyu Kurniawan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Dewi Aisyah Anindita dari Fakultas Hukum (FH), Nabila Balqis Faizah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Indo-Pacific Global Health Case Competition merupakan kompetisi mahasiswa di kawasan Australia dan Indo-Pasifik untuk mengembangkan solusi inovatif, berbasis bukti, dan multidisipliner dalam menghadapi berbagai masalah kesehatan global. Setiap tahun, peserta diberikan studi kasus yang sama dari pihak University of Melbourne. Pada kompetisi kali ini, University of Melbourne meminta peserta untuk merancang solusi terkait penanganan asma di Filipina.
Kompetisi ini diadakan secara hybrid, dimulai pada pertengahan Agustus dan berakhir dengan grand final pada (1/10/2025). Meskipun tim UNAIR berpartisipasi secara daring, mereka berhasil menunjukkan kualitas riset dan presentasi yang sangat baik. Asma menjadi beban kesehatan yang signifikan di negara Filipina, terutama di kalangan anak-anak, dengan prevalensi yang terus meningkat. Meskipun masalah ini sangat kompleks, tim UNAIR berhasil mengembangkan sebuah solusi yang komprehensif.
Solusi Holistik untuk Penanganan Asma
Tim mahasiswa UNAIR merancang program Breathe Bright untuk menanggulangi asma pada anak-anak di Barangay, Filipina. Program ini muncul karena rendahnya akses ke diagnosis dan terapi jangka panjang, menyebabkan rawat inap berulang dan tingginya biaya kesehatan.
Program ini terdiri dari empat pilar utama. Pilar pertama, Healthy School, Healthy Lungs, mengintegrasikan edukasi asma dalam kurikulum sekolah dan membentuk Asthma Clubs untuk mengurangi ketidakhadiran dan serangan asma di sekolah. Selanjutnya pilar kedua, Barangay Asthma Action, memberdayakan tenaga kesehatan lokal untuk mendeteksi dan mendukung anak-anak penderita asma serta menegakkan kebijakan bebas asap rokok di tingkat Barangay.
Pilar ketiga, Access for All, menyediakan terapi pengendali asma dengan harga terjangkau melalui subsidi inhaler ICS dan layanan tele-pulmonologi. Pilar terakhir, Policy & Advocacy Hub, mendukung pengesahan Childhood Asthma Prevention and Treatment Act of 2026, yang mencakup peningkatan pajak rokok dan pendanaan untuk program asma anak. Keempat pilar ini bertujuan mengurangi rawat inap asma anak di Filipina hingga 30% dalam lima tahun.
Pengalaman dan Pembelajaran Tim
Perjalanan tim UNAIR dalam kompetisi ini juga penuh tantangan, terutama karena keberagaman latar belakang disiplin ilmunya dari Kesehatan Masyarakat, Hukum, hingga Ilmu Sosial. Menurut Aurellia dan Wahyu selaku co-coordinator kelompok, proses persiapan memerlukan banyak penyesuaian dan keselarasan persepsi di antara anggota tim. Sebagai pengalaman pertama, tim banyak belajar bukan hanya mengenai substansi kasus, tetapi juga tentang cara menyampaikan ide secara efektif.
Kontribusi besar dalam pengembangan Breathe Bright datang dari Wahyu Kurniawan. Mahasiswa FKM Peminatan Administrasi Kebijakan dan Kesehatan angkatan 2022 tersebut memiliki peran krusial dalam inovasi program. Berkat dedikasi dan kreativitasnya, tim berhasil meraih skor tertinggi dalam kategori Innovation and Sustainability pada kompetisi ini.
Penulis: Saffana Raisa Rahmania
Editor: Ragil Kukuh Imanto





