Klorpirifos (CPF) merupakan insektisida organofosfat yang paling umum digunakan. Residu klorpirifos ditemukan pada makanan dengan dosis tertinggi yaitu 38,3%. Residu ini dapat menimbulkan masalah kesehatan. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa klorpirifos menyebabkan gangguan hematologi, keganasan, genotoksisitas, imunotoksisitas, stres oksidatif, anomali perkembangan dan perilaku, serta menyebabkan perubahan histopatologis.
Mekanisme utama toksisitas klorpirifos adalah induksi stres oksidatif dan produksi spesies oksigen reaktif yang berlebihan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa klorpirifos menghasilkan stres oksidatif yang mengakibatkan akumulasi produk peroksidasi lipid di berbagai organ tikus yang menyebabkan penurunan antioksidan yang signifikan. Adanya peroksidasi lipid merupakan langkah pertama dalam kerusakan membran sel. Metabolit intermediet klorpirifos dapat menginduksi stres oksidatif spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan peningkatan kadar MDA dan penurunan GSH serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama paparan CPF terhadap kadar MDA dan GSH serum tikus Wistar.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Tiga puluh tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan waktu 0 hari (kelompok kontrol), 7 hari, 14 hari, 28 hari, dan 56 hari dengan dosis 5 mg/kg BB secara oral. Darah intrakardial diambil setelah tikus diterminasi menggunakan pentobarbital dengan dosis 200 mg/kg BB. Kadar MDA dan GSH dianalisis menggunakan kurva regresi. Persamaan kuadrat digunakan untuk menentukan timbulnya toksisitas dan waktu puncak efek.
Penurunan kadar GSH terjadi pada hari ke-19 dan puncak penurunan kadar GSH terjadi pada hari ke-38 (4,98 nmol/mL). Hasil ini menunjukkan bahwa paparan klorpirifos memiliki efek pada penurunan kadar GSH serum pada tikus. Secara umum, paparan klorpirifos yang berkepanjangan terbukti menurunkan kadar GSH serum. Semakin lama paparan diberikan, semakin rendah kadar GSH serum tikus. Namun, kadar GSH serum tidak langsung menurun. Ditemukan bahwa kadar GSH serum mulai menurun pada hari 13 dan mengalami penurunan puncak pada hari ke 38. Penelitian ini mirip dengan penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa pemberian klorpirifos terbukti menyebabkan peningkatan kadar GSH pada tikus . Namun, penelitian ini memiliki penambahan zat aktif berupa propolis sebagai antioksidan. Pemberian antioksidan tambahan mulai dari flavonoid, polifenol, dan vitamin C cenderung membuat GSH mudah meningkat.
Peningkatan kadar MDA serum terjadi pada hari ke-3 dan puncaknya pada hari ke-29 (18,14 nmol/mL). Peningkatan kadar MDA disebabkan oleh radikal bebas yang berasal dari paparan klorpirifos yang lebih lama dibandingkan dengan kelompok perlakuan selama 7 hari (P1), 14 hari (P2), dan 28 hari (P3). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perlakuan klorpirifos dengan dosis 5 mg/kg selama 28 hari dapat menurunkan kadar aktivitas enzim SOD, CAT, dan GPx di hati dan ginjal dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penurunan enzim tersebut menyebabkan sel berada dalam kondisi stres oksidatif karena tidak mampu menyeimbangkan produksi radikal bebas dan aktivitas enzim antioksidan. MDA terbentuk ketika proses peroksidasi lipid dipicu oleh radikal bebas. Selain itu, adanya radikal bebas menghasilkan radikal sitotoksik yang terbentuk akibat penurunan enzim antioksidan.
Penelitian ini sesuai dengan teori utama yang menjelaskan bahwa pestisida merupakan senyawa xenobiotik yang memiliki efek stres yang kuat. Secara umum, semakin lama paparan pestisida, maka tingkat stres oksidatif yang terjadi di dalam tubuh juga semakin meningkat. Selain itu, adanya stres ini juga mampu menurunkan aktivitas antioksidan tubuh, sehingga menyebabkan individu yang berada dalam kondisi tersebut mudah mengalami penyakit. Mulai dari penyakit inflamasi kronis seperti diabetes melitus hingga penyakit genetik seperti kanker.
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa paparan CPF dapat meningkatkan kadar MDA serum dan menurunkan kadar GSH serum tikus Wistar jantan.
Penulis : Prof. Dr. Arifa Mustika, dr., M.Si.
Link artikel :





