Pada umumnya, diskriminasi terjadi disebabkan oleh perbedaan gender dan/atau ras yang dipersoalkan. Konsekuensinya, hal itu kerap memunculkan marginalisasi yang berujung pada kesenjangan bahkan konflik antargender maupun antarras.
Dalam keseharian, perilaku diskriminatif yang paling kentara adalah opresi terhadap kaum perempuan. Wujudnya pun dapat tersamar dan juga vulgar, seperti pelecehan, kekerasan seksual, maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Apapun istilahnya, baik diskriminasi maupun marginalisasi tak pernah peduli jika sasarannya adalah hayat atau bahkan mayat. Mungkin demikian pesan yang coba disampaikan oleh Elif Shafak pada novelnya yang berjudul 10 Minutes 38 Seconds in this Strange World (2019). Ia mengisahkan pengalaman-pengalaman opresif dan diskriminatif yang dialami oleh sejumlah tokoh dalam cerita, khususnya perempuan.
Namun, Shafak seolah juga menyoroti bahwa diskriminasi adalah perkara yang kompleks. Keberadaan diskriminasi bukanlah dipicu oleh perbedaan gender ataupun ras yang dipermasalahkan saja, melainkan juga oleh kesenjangan identitas sosial tiap individu dan keadaan sosial.
Seorang pakar pemerhati HAM dan ras, Kimberly Crenshaw, mencoba menguraikan kompleksitas isu diskriminasi tersebut dengan sebuah konsep teoritis yang disebutnya sebagai ˜intersectionality.™ Pokok dari konsepnya adalah memberikan penjelasan bahwa diskriminasi tak sekadar persoalan yang dipicu oleh friksi antargender ataupun antarras, tapi juga oleh kesenjangan antaridentitas dan antarstatus sosial.
Elif Shafak menarasikan kompleksitas diskriminasi yang terjadi di Turki yang salah satunya melalui representasi tokoh Tequila Leila. Sosoknya dihadirkan sebagai perempuan Arab yang menjadi pekerja seks komersil. Oleh karena identitas dan status sosialnya tersebut, ia menjadi bagian dari kalangan yang termarginalkan. Sampai akhir hidupnya, ia dirundung karena dianggap gagal merepresentasikan kultur Arab yang agamais. Bahkan diceritakan ketika dirinya mati di antara tumpukan sampah, jasadnya pun tetap terdiskriminasikan karena ditemukan di tempat yang ˜hina™.
Pada akhirnya, Shafak sesungguhnya sedang mengejawantahkan ˜intersecting™ yang dimaksudkan oleh Crenshaw melalui karyanya. Sejumlah irisan (intersection) identitas yang tidak utuh yang menyatu dalam diri Tequila (sebagai perempuan, Arab, miskin, dan PSK) telah mengundang perilaku diskriminatif yang menimpa dirinya. Bahkan tak hanya saat jasadnya masih mengandung hayat, tapi juga ketika sudah menjadi mayat. Oleh sebab identitas dan keadaan sosial semasa hidupnya, seseorang pun masih bisa terdiskriminasi meskipun sudah mati.
Penulis: Rizal Octofianto Datau
Jurnal: Understanding Intersectionality through Tequila Leila™s Experience in 10 Minutes 38 Seconds in this Strange World (2019)





