Malaria sering ditemukan di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk di sekitarnya. Hal ini menjadi dasar penamaan malaria, yang terdiri dari dua suku kata, yaitu mal dan area, sehingga dapat diartikan sebagai udara yang tidak sedap. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Berdasarkan laporan malaria dunia, diperkirakan pada tahun 2010 terdapat 219 juta kasus malaria. Pada tahun 2010, terdapat 22,9% kasus baru dengan prevalensi malaria sebesar 10,6% di Indonesia, sebagian besar terjadi di wilayah Indonesia bagian timur, terutama di daerah pedesaan yang tergolong daerah terpencil. Sekitar 16% penduduk Papua berisiko terinfeksi malaria.
Setiap spesimen menjalani pemeriksaan mikroskopis, RDT, dan Real-Time -PCR menggunakan Rotor Gene-Q dengan reagen abTESTM malaria 5qPCR III. Kriteria inklusi adalah semua pasien yang diduga terinfeksi malaria, baik laki-laki maupun perempuan, dari semua kelompok umur, memiliki pemeriksaan klinis yang mendukung, dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menandatangani informed consent.
Vivax, didapatkan sensitivitas 81,25% dan spesifisitas 95,83%, dan pada kartu malaria RDT Advantage didapatkan sensitivitas 91,67% dan spesifisitas falciparum yang terjadi di kapiler internal, parasit sulit diamati di darah tepi, sehingga membutuhkan pemeriksaan darah serial untuk memastikan ada tidaknya parasite.
Sensitivitas RDT dengan HRP-2 dalam mendiagnosis P. falciparum dapat mencapai 95%. Untuk infeksi P. vivax, sensitivitas RDT berbasis pLDH sering kali lebih rendah dari 90%, dan RDT berbasis aldolase memiliki sensitivitas yang lebih rendah lagi, yaitu sekitar 40%.
Pada pasien tanpa gejala, tes PCR dapat diterapkan untuk mengukur keberhasilan pengobatan. Kemungkinan reaksi silang dengan organisme lain yang ada dalam suatu populasi perlu dipertimbangkan karena dapat mempengaruhi nilai prediktif tes. Selain itu, PCR memiliki spesifisitas yang lebih dapat diandalkan dalam mendiagnosis spesies Plasmodium. Pada beberapa laporan, infeksi malaria tunggal berdasarkan mikroskop dan RDT ternyata merupakan infeksi campuran setelah dilakukan pemeriksaan PCR.
Dengan teknik PCR nested atau multipleks, hasilnya baru dapat dilihat dalam 1-2 hari, sedangkan dengan teknik PCR real-time, hasilnya dapat dilihat dalam waktu 2 jam. Namun, diagnosis dengan PCR belum dapat diterapkan secara luas. Parasit Plasmodium ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina1-129. Populasi sampel adalah semua pasien malaria dengan hasil mikroskopis positif, dan populasi kontrol adalah semua pasien demam non malaria di RSUD Merauke. Penelitian ini dilakukan terhadap 55 sampel malaria dan 50 sampel kontrol. Pasien laki-laki lebih dominan terinfeksi malaria dibandingkan perempuan.
Spesies Anopheles vivax ditemukan memiliki frekuensi yang lebih dominan dibandingkan spesies lainnya, berdasarkan penelitian pada tahun 2015. Perbandingan antara sensitivitas dan spesifisitas RDT dan mikroskopis menunjukkan adanya falciparum. vivax, didapatkan sensitivitas 81,25% dan spesifisitas 95,83%, dan pada kartu malaria RDT Advantage didapatkan sensitivitas 91,67% dan spesifisitas 85,42%14. Pewarnaan Giemsa masih merupakan standar emas untuk diagnosis malaria. HRP-2 dapat bertahan dalam darah pasien yang diobati hingga 28 hari, sedangkan enzim LDH dapat menjadi negatif dalam waktu tujuh hari setelah pengobatan1-3,9.
Oleh : Dr. Puspa Wardhani, dr. Sp.PK(K)
Artikel ini dapat di akses di :





