51动漫

51动漫 Official Website

Membangun Ketahanan Seksual Remaja Putri Di Banjarmasin: Mengapa Penolakan Seksual Itu Penting?

Ilustrasi Perlakuan Kekerasan dan Salah Seksual oleh Kompas.com

Remaja adalah masa yang penuh eksplorasi, tidak hanya dalam hal pendidikan dan hobi, tetapi juga dalam hubungan sosial dan emosional. Dalam dunia yang serba terbuka seperti sekarang, di mana akses informasi dan gaya hidup barat mudah diakses, banyak remaja menghadapi tantangan dalam mengelola relasi dengan lawan jenis, termasuk dorongan untuk mencoba hubungan seksual pra-nikah. Di Indonesia, fenomena ini tidak bisa diabaikan. Data menunjukkan bahwa usia pertama kali remaja melakukan hubungan seksual makin muda. Di Jakarta, sekitar 59% remaja melaporkan telah melakukan aktivitas seksual. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan攜ang menjadi lokasi studi ini攖ingkat pernikahan dini dan kehamilan remaja tergolong tinggi. Lebih dari sekadar kehamilan di luar nikah, risiko lain seperti aborsi, infeksi menular seksual, dan HIV-AIDS mengintai remaja yang tidak mampu mengendalikan diri atau menolak ajakan seksual. Namun, menolak ajakan seksual bukan hal mudah. Banyak remaja putri merasa sungkan, takut kehilangan pasangan, atau tidak memiliki keterampilan komunikasi yang cukup. Oleh karena itu, kemampuan untuk melakukan penolakan seksual atau sexual rejection menjadi kunci penting dalam pencegahan perilaku seksual berisiko Melalui pendekatan Health Promotion Model (HPM), penelitian ini bertujuan memahami apa saja faktor yang memengaruhi kemampuan remaja putri untuk menolak ajakan seksual pra-nikah di Banjarmasin.

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada Agustus hingga Oktober 2023 di Kota Banjarmasin. Sebanyak 147 siswi SMA dipilih melalui teknik stratified random sampling. Peneliti memastikan bahwa partisipasi dilakukan secara sukarela dan mendapatkan persetujuan dari orang tua karena subjek masih di bawah umur. Beberapa temuan utama dari penelitian ini antara lain:

  1. Mayoritas remaja berada dalam kategori penolakan seksual tingkat sedang (69,4%), dan sisanya pada kategori tinggi (30,6%). Artinya, masih banyak remaja yang belum sepenuhnya memiliki keterampilan menolak ajakan seksual dengan tegas dan efektif.
  2. Tingkat pengetahuan seksual relatif tinggi (61,7% responden memiliki pengetahuan baik), namun itu belum cukup untuk menjamin perilaku yang sehat.
  3. Religiositas terbukti sangat tinggi di kalangan responden (87,8% tinggi), dan ini memiliki hubungan kuat dengan persepsi manfaat dan efikasi diri untuk menolak hubungan seksual pra-nikah.
  4. Faktor self-efficacy atau kepercayaan diri dalam menolak ajakan seksual, serta activity-related affect (perasaan saat berhadapan dengan aktivitas seksual), memiliki hubungan positif terhadap kemampuan penolakan seksual.
  5. Pengaruh orang tua (interpersonal influence of parents) terbukti signifikan terhadap kemampuan penolakan seksual. Semakin besar keterlibatan dan komunikasi orang tua, semakin tinggi kemampuan anak dalam menolak hubungan seksual.
  6. Media exposure dan komitmen pribadi juga memengaruhi perilaku penolakan seksual. Remaja yang sering terpapar media edukatif atau konten positif tentang kesehatan reproduksi lebih berkomitmen dalam menjaga diri.

Berdasarkan hasil penelitian, maka diajukan rekomendasi sebagai berikut :

  1. Pendidikan Seksual Komprehensif di Sekolah
    Edukasi tentang kesehatan reproduksi harus diberikan sejak dini, dengan menekankan pada keterampilan menolak, membangun harga diri, dan konsekuensi dari hubungan seksual yang tidak aman.
  2. Peran Keluarga yang Lebih Kuat
    Orang tua perlu aktif berbicara dengan anak tentang nilai-nilai seksual, membangun kepercayaan dan menjadi tempat curhat yang aman bagi remaja.
  3. Kampanye Media yang Positif
    Pemerintah dan LSM bisa memanfaatkan media sosial dan influencer untuk menyebarkan narasi positif tentang remaja sehat, percaya diri, dan menjaga batasan dalam hubungan.
  4. Pelatihan Soft Skills untuk Remaja
    Sekolah dan organisasi remaja bisa memberikan pelatihan tentang komunikasi asertif, resolusi konflik, dan pengambilan keputusan yang bijak dalam relasi.
  5. Kota Ramah Remaja
    Pemerintah daerah seperti Banjarmasin bisa terus mengembangkan program 淜ota Ramah Keluarga dengan menyediakan konseling gratis, peer educator, dan program.

Penulis : Lutfi Agus Salim

Link Artikel :

AKSES CEPAT