51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengapa Bayi Harus Lengkap Imunisasinya? Ini Jawaban Dari Sebuah Penelitian di Puskesmas Perkotaan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan terhadap Imunisasi Ganda pada Ibu Balita
Ilustrasi Imunisasi pada bayi (Foto: Alodokter)

Imunisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit berbahaya. Meski program imunisasi rutin sudah berjalan puluhan tahun di Indonesia, nyatanya masih banyak bayi yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang membuat sebagian orang tua enggan atau tidak mampu melengkapi imunisasi bayinya?  Imunisasi bukan sekadar suntikan. Ini adalah perlindungan awal terhadap berbagai penyakit mematikan seperti tuberkulosis, polio, hepatitis B, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, campak, dan lainnya. Pemerintah Indonesia melalui program nasional imunisasi telah menyediakan layanan imunisasi dasar lengkap secara gratis di Puskesmas dan Posyandu. Namun, meskipun akses terhadap layanan ini tersedia, tidak semua bayi mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Bahkan di wilayah perkotaan, yang secara umum memiliki fasilitas kesehatan lebih baik, angka cakupan imunisasi lengkap masih belum optimal.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif”artinya data yang dikumpulkan bersifat angka dan bisa diukur. Mereka memakai metode survei silang (cross-sectional), yaitu mengumpulkan data dalam satu waktu tertentu dari para ibu yang memiliki bayi usia 12“24 bulan. Jumlah respondennya ada 86 ibu, yang dipilih secara acak dari dua wilayah kerja Puskesmas: Banyu Urip dan Kupang Krajan. Survei dilakukan pada November 2023 sampai April 2024. Para ibu ini diminta mengisi kuesioner yang disusun berdasarkan teori Health Belief Model (HBM)”sebuah teori psikologi yang biasa digunakan untuk menjelaskan mengapa seseorang mau atau tidak mau melakukan tindakan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66% ibu memberikan imunisasi lengkap kepada bayinya. Sisanya, 34% belum lengkap memberikan imunisasi. Sebagian besar ibu punya persepsi yang baik tentang manfaat imunisasi. Lebih dari setengahnya juga punya rasa percaya diri tinggi (self-efficacy) untuk mengurus imunisasi. Mayoritas ibu merasa hambatan untuk imunisasi tidak terlalu besar, alias tergolong rendah. Banyak ibu yang terpengaruh secara positif oleh media dan saran petugas kesehatan (cues to action). Semua aspek yang diukur dalam teori HBM ternyata berhubungan signifikan dengan keputusan ibu untuk memberikan imunisasi lengkap: Semakin tinggi persepsi bahwa imunisasi penting dan bermanfaat, semakin besar kemungkinan anaknya mendapat imunisasi lengkap; Semakin kecil hambatan yang dirasakan ibu, semakin rajin pula ia imunisasi; dan Dukungan dan dorongan dari luar, seperti media dan petugas kesehatan, terbukti sangat efektif meningkatkan tindakan imunisasi.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ibu yang percaya bahwa anaknya rentan sakit, yakin penyakit itu berbahaya, percaya imunisasi bermanfaat, dan merasa mampu serta termotivasi untuk membawa anaknya imunisasi”akan lebih cenderung memberikan imunisasi lengkap. Sebaliknya, ibu yang merasa imunisasi merepotkan, mahal, menakutkan, atau mendapat informasi yang salah, cenderung tidak melengkapi imunisasi anaknya. Jadi, bukan cuma soal ada atau tidaknya vaksin, tapi juga soal cara pandang ibu, informasi yang diterima, serta seberapa besar dukungan yang dirasakan. Oleh karena itu perlu edukasi tentang manfaat imunisasi masih sangat penting. Selain itu petugas kesehatan punya peran vital sebagai sumber informasi terpercaya. Kampanye media, baik TV, radio, hingga media sosial bisa jadi pemicu kuat (cues to action) untuk mendorong ibu bertindak. Membangun rasa percaya diri ibu dalam mengurus imunisasi anak juga tak kalah penting.

Penulis : Muthmainnah

Link Jurnal :

AKSES CEPAT