Dengue merupakan penyakit menular terpenting dan paling cepat menyebar di seluruh wilayah tropis dan subtropis di Asia Tenggara. Virus dengue ditularkan oleh vektor primer,Aedes aegypti.Spesies Vektor ini memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi di daerah perkotaan dan sub-perkotaan.3Kepadatan populasi manusia yang tinggi dan kedekatan dengan tempat perkembangbiakan vektor memperkuat interaksi antara virus, vektor, dan manusia sebagai inang. Kejadian demam berdarah dikaitkan dengan daerah perkotaan dan pinggiran kota yang miskin dan padat. Demam berdarah dikaitkan dengan perilaku manusia, praktik penyimpanan air, dan pertumbuhan populasi yang cepat.4Indonesia merupakan salah satu negara tropis di Asia Tenggara dan negara kepulauan terpadat serta negara endemik DBD.Secara umum kejadian DBD di Indonesia sangat bersifat musiman, dengan kejadian terbanyak dilaporkan pada musim hujan, informasi cuaca local dan demografi seperti kepadatan penduduk dikaitkan dengan dinamika kasus DBD di Indonesia.
Pengendalian vektor sangat penting untuk mencegah dan membatasi penularan penyakit tular vektor di daerah endemik. Metode pengendalian vektor yang digunakan untuk memutus penularan DBD adalah metode fisik, kimia dan biologi. Pengendalian vektor yang paling banyak dilakukan untuk penyakit tular vektor adalah penerapan insektisida kimia.3Namun pengendalian vektor dengan insektisida kimia merupakan cara yang paling populer di masyarakat karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan dan resistensi vektor.Penggunaan insektisida konvensional di masyarakat untuk mengendalikan kepadatan vektor, memicu berkembangnya resistensi vektor. Fenomena resistensi ini menjadi sangat serius karena beberapa vektor DBD dilaporkan resisten terhadap insektisida. Seperti yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, spesiesAedes albopictus sebagai vektor dengue sekunder diselidiki multipel dan tingkat resistansi silang antara piretroid konvensional dan volatil.Fenomena resistensi vektor terhadap insektisida merupakan masalah serius dalam upaya pengendalian vektor. Penggunaan insektisida yang terlalu sering dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya resistensi insektisida pada vektor sasaran. Jika sebagian besar populasi nyamuk vektor sudah resisten terhadap insektisida, maka akan menyebabkan penggunaan insektisida tidak efektif untuk mengendalikan vektor penyakit. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan hubungan antara perubahan iklim, variabel sosial ekonomi, demografi, dan kejadian DBD.Pada penelitian ini akan dibuktikan hubungan antara kejadian DBD, kepadatan penduduk dan pengendalian vektor di Indonesia. Penelitian ini akan menggunakan data time series tahun 2018 dan 2019. Artikel ini menyajikan bukti empiris untuk meningkatkan pemahaman kontribusi variabel demografi kepadatan penduduk dan variabel pengendalian vektor terhadap kejadian demam berdarah di Indonesia sebagai negara endemis DBD
Pengendalian terpadu adalah pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor dan hewan pembawa penyakit berdasarkan prinsip keamanan, rasionalitas dan efektifitas, serta memperhatikan kelestarian keberhasilannya. Setiap metode pengendalian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kombinasi beberapa metode yang dilakukan secara terpadu akan dapat menutupi kekurangan masing-masing, sehingga kegagalan pengendalian vektor dan penyakit membawa hewan dapat diminimalisir. Metode terpadu diterapkan pada lingkungan dengan pertimbangan: a) vektor sasaran dan hewan pembawa penyakit jika memungkinkan untuk beberapa penyakit, b) teknologi tepat guna, c) efektifitas dan efisiensi, d) Kesempatan kerja, e) integrasi atau integrasi
Penulis: Mela Firdaus
Judul dan link artikel internasional bereputasi (Scopus-Q4)
Judul : Predicting dengue incidence using panel data analysis
DOI : Journal of Public Health in Africa 2023; 14(s2):2562 doi:10.4081/jphia.2023.2562
Link : https://www.publichealthinafrica.org/jphia/article/view/2562





