Limbah plastik kini menjadi penyumbang utama pencemaran lingkungan dan menimbulkan risiko besar bagi kesehatan masyarakat secara global. Popularitas plastik meningkat pesat dalam berbagai sektor seperti industri, pengemasan, farmasi, dan kehidupan sehari-hari, berkat sifatnya yang murah, mudah dibentuk, dan multifungsi. Meskipun volume limbah plastik terus bertambah, kesadaran masyarakat akan dampak negatifnya masih tergolong rendah. Di alam, limbah plastik jenis polistirena dapat terurai perlahan dan berubah menjadi mikroplastik (MP) dan nanoplastik (NP) akibat pengaruh gaya mekanik air, sinar ultraviolet, dan proses degradasi biologis yang berlangsung lama.
Nanoplastik dianggap lebih berbahaya dibanding mikroplastik karena ukurannya yang sangat kecil sehingga mampu menembus membran biologis dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti kerusakan genetik, infeksi, hingga kanker. Nanoplastik umumnya berasal dari limbah rumah tangga, khususnya produk-produk perawatan tubuh seperti scrub dan kosmetik. Jika masuk ke dalam tubuh, NP dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan melalui mekanisme toksik seperti stres oksidatif, apoptosis, dan inflamasi. Oleh karena itu, NP perlu mendapat perhatian khusus dalam kajian ekotoksikologi dan studi organisme.
Stres oksidatif merupakan salah satu mekanisme toksik utama yang dipicu oleh NP, melalui produksi spesies oksigen reaktif (ROS) yang berlebihan hingga mengganggu keseimbangan redoks dalam sel. ROS yang menumpuk dapat merusak sel dan menghambat kerja enzim. Penelitian pada tikus jantan Sprague Dawley menunjukkan bahwa paparan polistirena menurunkan aktivitas enzim antioksidan, yang berperan penting dalam melindungi DNA, lipid, dan protein dari kerusakan oksidatif.
Produksi ROS yang meningkat juga berkaitan dengan gangguan fungsi mitokondria, yang menyebabkan pelepasan molekul pemicu kematian sel seperti sitokin proinflamasi dan protein pro-apoptosis. Studi menunjukkan bahwa paparan polistirena meningkatkan ekspresi protein Bax dan Caspase-3 serta menurunkan Bcl-2, yaitu protein pelindung sel dari apoptosis. Temuan serupa juga ditemukan pada jantung ikan mas emas yang terpapar nanoplastik polistirena.
Sebagai respons terhadap peningkatan ROS, tubuh memproduksi enzim antioksidan. Namun, dalam kondisi produksi ROS yang sangat tinggi, sistem pertahanan ini menjadi tidak cukup efektif. Antioksidan bekerja dengan menyumbangkan elektron untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Salah satu sumber alami antioksidan adalah Mangifera foetida Lour (macang), yang dikenal memiliki rasa asam, aroma menyengat, dan kandungan senyawa antioksidan seperti mangiferin, asam galat, dan quercetin. Tanaman ini memiliki potensi sebagai obat herbal namun belum banyak dibudidayakan karena nilai ekonominya rendah dan konsumsinya masih terbatas.
Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang M. foetida dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan pada tikus yang terpapar NP, mengurangi stres oksidatif, serta menurunkan ekspresi protein pro-apoptotik seperti Bax dan Caspase-3. Hasil histologi juga mengonfirmasi adanya perbaikan struktur jaringan, mengindikasikan bahwa ekstrak ini memiliki potensi sebagai agen pelindung terhadap kerusakan akibat NP. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menggali lebih dalam mekanisme molekuler dari senyawa aktif dalam M. foetida serta efeknya terhadap berbagai bentuk stres lingkungan.
Penulis: Prof. Dr. Alfiah Hayati, Dra., M.Kes





