Anti-M眉llerian Hormone (AMH) kini menjadi salah satu biomarker penting dalam dunia reproduksi, terutama untuk menilai kesuburan perempuan. Hormon ini diproduksi oleh sel granulosa di ovarium dan mencerminkan cadangan folikel yang tersedia. Dengan kata lain, AMH bisa memberi gambaran seberapa besar kemungkinan seorang perempuan untuk hamil, terutama saat mengikuti program bayi tabung (IVF).
Sebagian perempuan yang menjalani IVF memiliki “prognosis rendah”, artinya peluang mereka untuk berhasil dalam program ini lebih kecil karena respons ovarium yang buruk. Untuk menilai kondisi ini, para dokter menggunakan pengukuran AMH. Namun, alat dan metode pengukurannya beragam. Apakah semua metode itu memberikan hasil yang sama akurat?
Itulah yang ingin dijawab oleh penelitian yang dilakukan oleh tim dari 51动漫 dan RS Primasatya Husada Citra, Surabaya. Penelitian ini membandingkan dua metode pengukuran AMH yang banyak digunakan di laboratorium, yaitu Cobas e411 (Roche) dan Maglumi X3 (SNIBE).
Penelitian ini melibatkan 120 perempuan dengan prognosis rendah yang sedang menjalani IVF di Klinik ASHA, Surabaya. Sampel darah mereka diperiksa menggunakan kedua metode tersebut:
- Cobas e411 menggunakan teknologi electrochemiluminescence (ECLIA).
- Maglumi X3 menggunakan chemiluminescence immunoassay (CLIA) dengan label ABEI.
Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan hasil dari kedua alat.
- Median nilai AMH dari Cobas adalah 2.55 ng/dL, sedangkan dari Maglumi X3 adalah 2.54 ng/dL sangat mirip.
- Korelasi antara kedua metode sangat kuat (蟻 = 0.985), menunjukkan bahwa keduanya memberikan hasil yang hampir identik.
- Analisis Bland-Altman menunjukkan sedikit perbedaan, di mana Maglumi cenderung memberikan hasil sedikit lebih rendah, namun masih dalam batas normal yang bisa diterima.
Hasil ini menegaskan bahwa Maglumi X3 bisa menjadi alternatif yang andal untuk mengukur AMH, setara dengan Cobas e411 yang sudah lama digunakan. Artinya, laboratorium dengan peralatan berbeda tetap bisa memberikan hasil akurat, selama metode pengukurannya sudah divalidasi.
Namun demikian, hasil AMH tidak boleh berdiri sendiri dalam pengambilan keputusan. Dokter tetap perlu mempertimbangkan faktor lain seperti usia, kondisi klinis pasien, dan riwayat kesuburan.
Jurnal ini bisa di akses pada :
Penulis :
Indah Susanti, Nikmatul Mardiyah,Anggia AugustasiaLumban Toruan, Aryati, Ferdy Royland Marpaung





