UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa 51动漫 (UNAIR) menggelar acara bertajuk Demokrasi dan Meritokrasi di Persimpangan: Bagaimana Jalan Perubahan Kita?. Menghadirkan Anies Baswedan sebagai pembicara, ribuan peserta menghadiri acara tersebut pada Jumat (26/9/2025) di Auditorium Ternate, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Meritokrasi sebagai Alat Kemajuan Negara
Mengawali pembahasan, Anies menyorot prinsip meritokrasi sebagai langkah penting dalam kemajuan suatu negara. Arti meritokrasi merujuk pada seseorang yang mendapatkan promosi posisi karena prestasi. Bukan karena hal lain, seperti koneksi.
Meritokrasi bukan satu-satunya jalan. Namun, sebagai prinsip utama yang harus dipegang dengan dibarengi kesetaraan pengembangan. 淜alau dalam suasana yang timpang kemudian langsung diadopsi meritokrasi, maka itu melanggengkan ketimpangan. Kenapa? Ya karena yang tidak punya bekal kalah terus, papar Anies.
Ia mencontohkan ketimpangan struktural dalam dunia pendidikan. Jika dalam seleksi universitas menerapkan meritokrasi, misalnya berupa tes, ada aspek penting lain yang tidak boleh terlupakan. Yakni adanya ketimpangan kualitas SMA antardaerah. Ketimpangan tersebut harus diintervensi agar muncul kesetaraan. Maka setelah itu dapat terwujud kompetisi yang adil.
淒emokrasi itu adalah cara membatasi kekuasaan. Dibatasi durasinya dan dibatasi scope-nya. Semula, kekuasaan itu tanpa demokrasi, tanpa batas. Sekali berkuasa, yang membatasi adalah kematian, durasinya enggak dibatasi, tuturnya.
Syarat Demokrasi
Lebih lanjut, ia mengungkapkan beberapa syarat demokrasi. Pertama, adanya pemilu yang free dan fair. Kedua, memberikan ruang pada oposisi. Ketiga, adanya kebebasan berbicara. 淜etika kewenangan yang didapat melalui proses demokrasi itu tidak diiringi dengan meritokrasi, maka yang nanti akan bertugas di dalam kewenangan adalah orang-orang yang incompetent. Ketika incompetent terjadi maka sulit bagi demokrasi untuk bisa menghasilkan yang dijanjikan dari demokrasi, ujarnya.
Anies menggambarkan, ketika yang berwenang tidak mengupayakan janji demokrasi, yakni pembangunan sesuai aspirasi rakyat, maka yang terjadi adalah kecenderungan dalam mengupayakan kepentingan kelompoknya sendiri. Hal ini bisa mengantarkan suatu negara menjadi failed state.
Pemimpin sebagai Penentu Arah
Selanjutnya, Anies mengungkapkan bahwa pemegang peran penting adalah pemimpin. Leadership bukan hanya harus memiliki kompetensi, namun juga follower. 淜etika prinsip meritokrasi ini dipegang di puncak, maka dia menular ke bawah. Tapi ketika di atas paling puncak longgar, maka di bawah lebih longgar lagi, tambahnya.
Pemimpin harus mengutamakan meritokrasi dengan berbagai alat ukur yang sesuai dan transparan. 淜ishore Mahbubani mencatat, mengapa di negara-negara itu terjadi kemajuan luar biasa, dan salah satu jawabannya adalah meritokrasi. Tidak ada seseorang diangkat dalam posisi tanpa prestasi, dan ini membutuhkan kedewasaan dan keilmuan yang harus dibangun, dan seharusnya yang punya begini siapa? Ya pemimpin, pungkasnya.
Penulis: Uswatun Khasanah
Editor: Yulia Rohmawati





