Lansia merupakan salah satu indikator keberhasilan Pembangunan di bidang Kesehatan karena terjadi peningkatan usia harapan hidup. Dengan segenap penyakit degeneratif yang sering melekat pada para lansia membuat perlu perhatian untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, termasuk di Johor Malaysia.
Masyarakat adat di Malaysia yang dikenal sebagai Orang Asli dianggap sebagai kelompok yang paling rentan di negara ini. Ada 209.575 Orang Asli di negara ini, dan diperkirakan 15% adalah lansia (Jabatan Kemajuan Orang Asli, 2016). Kemiskinan, marginalisasi dari pembangunan arus utama, dan kurangnya pengakuan atas hak-hak tanah mereka adalah masalah utama yang dialami oleh mereka saat ini yang memengaruhi kesejahteraan mereka. Pemerintah Malaysia telah menerapkan beberapa inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas Orang Asli. Pemerintah telah menerapkan berbagai program untuk pengembangan komunitas Orang Asli, terutama kaum muda. Inisiatif-inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa Orang Asli dapat menikmati kemajuan negara bersama dengan seluruh Malaysia. Area fokusnya meliputi pemberdayaan ekonomi, kesejahteraan sosial, kesehatan, dan pendidikan. Pemerintah mengalokasikan dana untuk pekerjaan survei tanah guna menandai batas-batas di desa-desa Orang Asli. Selain itu, program Hak Adat Asli di Sabah dan Sarawak menerima dukungan keuangan. Misalnya, Jabatan Kemajuan Orang Asli (JAKOA) adalah CITATION Rosnon MR, Abdul Razak MA, Jalaludin ML, dkk. (2024). Menjelajahi kesejahteraan subjektif penduduk asli Orang Seletar yang berusia lanjut di Johor, Malaysia. Jurnal Infrastruktur, Kebijakan, dan Pembangunan.
Tidak diragukan lagi bahwa berbagai upaya program transformasional dan pembangunan yang diprakarsai oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan Orang Asli dan memastikan mereka dapat memperoleh manfaat pembangunan seperti masyarakat umum. Berdasarkan pengukuran ekonomi, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Orang Asli masih tertinggal dibandingkan dengan masyarakat umum (Mohd Rosnon dan Asnarulkhadi, 2018). Dengan kata lain, mereka tidak memperoleh manfaat dari pembangunan yang diberikan kepada mereka dan memiliki kualitas hidup yang rendah dibandingkan dengan masyarakat umum.
Johor merupakan salah satu negara bagian di Malaysia yang berkembang pesat. Pembangunan terjadi di sekitar wilayah pesisir Johor karena kedekatannya dengan Singapura. Pembangunan tersebut bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar seperti Orang Seletar. Orang Seletar merupakan satu-satunya suku masyarakat Orang Asli yang tinggal di pesisir Selat Johor. Akan tetapi, mereka masih terjebak dalam masalah kemiskinan yang parah dan masih meneruskan kegiatan tradisional mereka yaitu mengumpulkan hasil laut dalam skala kecil di sekitar Selat Johor. Selain itu, pembangunan tersebut telah merambah pemukiman Orang Seletar dan laut di sekitarnya. Pembangunan tersebut menghancurkan sumber pendapatan mereka dan meniadakan identitas dan budaya mereka. Konsep kesejahteraan Orang Asli perlu diidentifikasi dan dipahami untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Persiapan untuk menjadi bangsa yang menua pada tahun 2023 merupakan isu krusial yang perlu ditangani oleh pemerintah Malaysia sebagai respons terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ketiga yang menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Orang Seletar yang berusia lanjut memiliki hak untuk hidup sejahtera meskipun mereka merupakan satu-satunya kelompok minoritas di negara ini. Hal ini dapat dicapai dengan mengidentifikasi konsep kesejahteraan mereka. Pandangan dunia masyarakat adat yang berusia lanjut tentang kesejahteraan berbeda dari masyarakat umum. Upaya JAKOA untuk mengubah masyarakat Orang Asli menunjukkan beberapa perubahan dalam semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan budaya, tetapi tidak ada alat ukur atau instrumen khusus untuk mengevaluasi kesejahteraan Orang Asli yang berusia lanjut. Sangat penting untuk memprioritaskan nilai-nilai dan pandangan dunia masyarakat adat dalam mengembangkan instrumen kesejahteraan. Pengukuran kesejahteraan masyarakat adat harus dilakukan dalam cara masyarakat adat mengetahui, menjadi, dan bertindak. Pengembangan instrumen tersebut akan memastikan pengukuran kesejahteraan masyarakat adat yang bermakna dan relevan secara budaya. Selain itu, pengukuran kesejahteraan penting karena membantu pemerintah mengevaluasi manfaat kebijakan. Pengembangan pengukuran kesejahteraan Orang Asli penting karena dapat memandu pemerintah dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan untuk Orang Asli. Kesimpulannya, SWB harus menjadi elemen inti untuk menentukan perkembangan Orang Seletar lanjut usia agar mereka dapat tumbuh dan berkembang. Di mata masyarakat umum, kehidupan Orang Seletar lanjut usia mungkin terlihat tidak memadai dan sederhana.





