Metamfetamin atau yang lebih dikenal sebagai sabu, sering kali dikenal sebagai zat yang dapat meningkatkan energi, fokus, dan gairah. Namun di balik efek sementara itu, tersimpan bahaya besar yang menyerang berbagai organ vital manusia. Untuk itu perlu dilakukan literatur reviu untuk mengungkap secara rinci bagaimana metamfetamin menimbulkan kerusakan sistemik, mulai dari otak, jantung, hati, ginjal, hingga mata.
Pada revieu literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan metamfetamin secara terus-menerus memicu serangkaian proses biologis berbahaya di dalam tubuh. Zat ini merusak sel melalui stres oksidatif, peradangan, dan kematian sel (apoptosis). Kerusakan yang terjadi bukan hanya bersifat sementara, tetapi dapat meninggalkan perubahan struktural dan fungsional permanen pada organ.
Efek paling awal dan menonjol dari metamfetamin terjadi di otak. Zat ini meningkatkan pelepasan neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin dalam jumlah besar. Lonjakan dopamin itulah yang menciptakan sensasi euforia, kewaspadaan, dan peningkatan energi yang dicari para pengguna. Namun, saat kadar dopamin melonjak secara ekstrem, mekanisme alami otak terganggu. Dalam jangka panjang, metamfetamin menguras cadangan dopamin dan merusak neuron penghasilnya. Akibatnya, pengguna mengalami penurunan kemampuan berpikir, gangguan memori, perubahan suasana hati, bahkan gejala psikotik yang menyerupai skizofrenia. Selain itu, proses ini juga menimbulkan radikal bebas dan peradangan otak, memperparah kerusakan jaringan saraf.
Pengguna kronis menunjukkan peningkatan risiko serangan jantung, aritmia, kardiomiopati, dan gagal jantung bahkan pada usia muda. Sedang efek samping di hati disebabkan karena metabolismenya terutama di hati. Penelitian juga menunjukkan bahwa metamfetamin mengganggu keseimbangan asam empedu dan lemak, menyebabkan penumpukan lemak di hati serta peradangan kronis. Dalam kasus berat, kondisi ini dapat berkembang menjadi hepatitis toksik atau gagal hati akut. Di ginjal sebagai organ penyaring utama, juga menjadi korban utama racun ini. Penggunaan metamfetamin dapat memicu gagal ginjal akut bahkan penyakit ginjal kronis.
Dari kajian yang dilakukan bisa disimpulkan bahwa metamfetamin adalah racun sistemik yang tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga menghancurkan tubuh secara menyeluruh. Dari otak yang kehilangan kendali hingga jantung dan ginjal yang melemah, setiap organ menghadapi konsekuensi serius. Temuan ini menegaskan bahwa bahaya metamfetamin jauh melampaui efek euforia sesaat yang dijanjikannya. Upaya pencegahan, rehabilitasi, dan edukasi masyarakat harus terus ditingkatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam siklus adiksi yang merusak ini.
Referensi:
Fitri Fareez Ramli1, Purwo Sri Rejeki, Nurul ˜Izzah Ibrahim1, Gulnar Abdullayeva, Shariff Halim, A Mechanistic Review on Toxicity Effects of Methamphetamine. International Journal of Medical Sciences, 2025; 22(3): 482“507.
Penulis: Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes.





