51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengendalikan Kecanduan Internet melalui Penguatan Kontrol Diri Remaja

Mengendalikan Kecanduan Internet melalui Penguatan Kontrol Diri Remaja
Sumber: Liputan6

Penggunaan  internet pada  remaja  cukup  tinggi dan berpeluang  menimbulkan   perilaku kompulsif  yang sulit untuk dikendalikan bhakan berkembang menjadi kecanduan internet. Kecanduan internet adalah salah satu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan keasyikan yang berlebihan atau tidak terkontrol terhadap penggunaan komputer dan akses internet yang menyebabkan gangguan atau distress (Jorgenson, A.G.dan Hsiao, 2016). Remaja cenderung mudah mengalami kecanduan internet disebabkan karena remaja berada pada tahap krisis identitas, dimana mereka mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi, selalu ingin mencoba hal yang baru dan mudah terpengaruh dengan teman sebayanya (Sarwono, 2013).

Pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan kelompok usia 5-12 tahun dan 55 tahun ke atas masing-masing sebesar 62, 43% dan 51,73% (APJII, 2022). Remaja memiliki kecenderungan menggunakan media seperti penggunaan internet daripada orang dewasa, hal ini membuat remaja lebih rentan terhadap kecanduan internet (Kim, 2014). Penggunaan internet secara berlebihan sampai mereka mendapatkan konsekuensi yang menimbulkan suatu masalah, dan akhirnya memberi pengaruh negatif pada kehidupannya (Winther, 2014 dan Scimece et al, 2013, dalam Bozoglan, 2018). Young (2009) mengatakan bahwa kecanduan internet dapat menimbulkan dampak buruk bagi remaja karena penggunaannya yang telah melebihi batas wajar. Pemakaian yang terus-menerus ini membuat sulit lepas dari internet dan ketergantungan untuk menggunakan sesering mungkin (Li et al, 2013). Hasil penelitian yang melibatkan 165 siswa disebuah sekolah menengah atas menggambarkan bahwa kecanduan internet menjadi masalah yang serius. Penelitian dilakukan dengan pengisian kuesioner Self Control Scale (SCS) menurut Averill (dalam Leonardhi, 2018 dan Ghufron, 2010) dan kuesioner Internet Addiction Test (IAT) yang dikembangkan oleh Young pada tahun 1998 (Muliana, 2019).  Responden yang terlibat dalam penelitian mayoritas menggunakan internet untuk mengakses media social seperti facebook, instagram, twitter sebanyak 62 responden (37,6%). Sebagian besar responden menghabiskan waktu dalam penggunaan internet yaitu ≥ 7 jam/hari sebanyak 128 responden (77,6%). Tingkat self-control yang tertinggi adalah self-control cukup sebanyak 63 responden (38,2%) dan tingkat kecanduan internet yang tertinggi adalah kecanduan ringan sebanyak 60 responden (36,4%). Hasil penelitian menemukan bahwa self-controlkurang terbanyak pada responden dengan tingkat kecanduan internet beratsebanyak 20 responden (12,1%). Self-control cukup terbanyak pada responden dengan tingkat kecanduan internet ringan sebanyak 26 responden (15,8%). Self-control baik terbanyak pada responden dengan tingkat kecanduan internet ringan sebanyak 19 responden (11,5%). Tingkat kecanduan internet berat terbanyak pada responden dengan self-control kurangsebanyak 20 (12,1%). Hasil analisis menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara self-control dengan tingkat kecanduan internet, dimana semakin tinggi self-controlmaka semakin rendah tingkat kecanduan internet.

Kuss dan Griffiths (2015) yang menyebutkan bahwa pada usia remaja mempunyai fungsi kontrol yang belum cukup sehingga kesadaran mereka terhadap masalah menjadi kurang. Remaja dengan kontrol self-control yang kurang ketika menggunakan internet maka akan berpotensi untuk kecanduan internet. Hasil penelitian berbeda dengan Anggraeni, Praherdiono dan Sulthoni (2019) yang menyebutkan bahwa pada penelitiannya terdapat hubungan positif antara self-control dengan internet addiction, hal tersebut karena adanya kesadaran remaja dalam mengakses internet. Internet addiction yang tinggi disebabkan karena adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan informasinya ataupun sebagai sarana refresing, maka kebutuhan yang berbeda dari setiap remaja dalam menggunakan internet. Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan internet tidak selalu negatif, tetapi juga mempunyai aspek positif jika digunakan dengan tepat dan bijak, pada remaja yang memiliki self-control yang baik dan penggunaan internet dengan tepat akan terhindar dari kecanduan internet. Self-control sebagai faktor internal remaja menjadi kunci dalam pencegahan terjadinya kecanduan internet.  Semakin tinggi self-control maka semakin rendah tingkat kecanduan internet pada remaja. Membangun self kontrol pada remaja dibutuhkan sehingga remaja tidak mengalami kecanduan internet.

Penulis: Dr. Rizki Fitryasari Patra Koesoemo, S.Kep., Ns., M.Kep

AKSES CEPAT