Penduduk dunia menua dengan cepat. Pada tahun 2020, terdapat 1 miliar orang di dunia yang berusia lanjut (lansia) atau berusia 60 tahun ke atas. Angka tersebut akan meningkat menjadi 1,4 miliar pada tahun 2030, yang mewakili satu dari enam orang secara global. Pada tahun 2050, jumlah individu yang berusia 60 tahun ke atas diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 2,1 miliar. Jumlah orang lanjut usia diperkirakan hampir empat kali lipat menjadi sekitar 2,1 miliar pada tahun 2050, dengan 79% dari mereka yang berusia 60 tahun ke atas tinggal di negara-negara berkembang [1]. Di Indonesia, populasi lansia hampir dua kali lipat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa persentase penduduk lansia di Indonesia akan menjadi 11,75% pada tahun 2023. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 1,27 poin persentase dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 10,48%. Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bertransisi ke struktur populasi yang menua, karena persentase penduduk di atas 60 tahun sekarang lebih dari 7%. Indonesia akan menjadi negara dengan struktur populasi yang menua jika persentase ini melampaui 10% [2]. Meskipun sebagian besar populasi lansia dalam keadaan sehat, banyak yang berisiko mengalami kondisi kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan [3]. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa ada 100 juta kasus depresi setiap tahun. Menurut Pusat Informasi Penyakit Tidak Menular, prevalensi depresi di Indonesia menunjukkan bahwa 11,6% individu lansia mengalami depresi [4]. Kondisi kesehatan mental di kalangan lansia sering kali kurang dikenali dan kurang ditangani. Depresi lazim terjadi di kalangan lansia [5].
Menurut estimasi kesehatan global (GHE) 2019, kondisi ini menyumbang 10,6% dari total kecacatan (diukur dalam tahun hidup yang disesuaikan dengan disabilitas (DALY)) di antara lansia. Kondisi kesehatan mental yang paling umum dalam kelompok usia ini adalah depresi dan kecemasan. GHE 2019 menunjukkan bahwa secara global, sekitar seperempat kematian akibat bunuh diri (27,2%) terjadi pada individu berusia 60 tahun ke atas. Angka depresi dua kali lebih tinggi di kalangan lansia dibandingkan dengan orang dewasa yang lebih muda, dengan 10%-15% dari semua individu berusia di atas 65 tahun yang tinggal di masyarakat menunjukkan gejala depresi [1]. Untungnya, depresi dapat diobati. Ketika seseorang didiagnosis dengan depresi, hampir 80% dapat mencapai pemulihan total [6]. Dampak depresi pada lansia sangat parah. Depresi yang tidak diobati menyebabkan peningkatan penggunaan fasilitas medis, berdampak negatif pada kualitas hidup (QoL), dan meningkatkan mortalitas. Namun, depresi sering salah didiagnosis dan diabaikan [7-9]. Gejala depresi sering dikaitkan dengan masalah medis internal proses penuaan [5]. Banyak penelitian telah meneliti depresi pada lansia, tetapi tidak ada yang menyelidiki variabel yang berkontribusi terhadapnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi depresi di kalangan lansia di masyarakat pedesaan. Pentingnya komunitas ini terletak pada sifat pedesaannya, yang melestarikan tradisi dan budaya masyarakat Jawa, namun juga membawa stigma seputar depresi. Selain itu, pedesaan Indonesia seringkali jauh dari fasilitas kesehatan.
Penulis: Prof. Dr. Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.





