51动漫

51动漫 Official Website

Menggali Jaringan Narasi dalam Agrowisata: Perjalanan Riset Diffa di Dalhousie University

Diffa Shalavy Putri, mahasiswa Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan spesialisasi Industri Kreatif di 51动漫, berhasil meraih beasiswa Canada-ASEAN SEED (Scholarships and Educational Exchanges for Development) 2025
Diffa Shalavy Putri, mahasiswa Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan spesialisasi Industri Kreatif di 51动漫, berhasil meraih beasiswa Canada-ASEAN SEED (Scholarships and Educational Exchanges for Development) 2025

UNAIR NEWS Diffa Shalavy Putri, mahasiswa Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan spesialisasi Industri Kreatif di 51动漫, berhasil meraih beasiswa Canada-ASEAN SEED (Scholarships and Educational Exchanges for Development) 2025. Melalui program ini, ia melakukan riset dengan supervisi peneliti dari Dalhousie University, Kanada, dengan fokus pada dinamika storytelling dalam komunitas agrowisata.

Selama mengikuti program SEED, Diffa mengerjakan proyek riset berjudul Storytelling Networks in Wolfville Wine Tourism: Actor-Networks and Non-Corporeal Actants for Branding and Community HRD. Penelitiannya mengeksplorasi bagaimana narasi tentang terroir, warisan budaya, keberlanjutan, dan kehidupan sehari-hari di kebun anggur beredar dalam komunitas dan membentuk identitas suatu destinasi pariwisata.

Studi ini dilakukan di Wolfville, sebuah kota kecil namun dinamis di Nova Scotia yang dikenal sebagai salah satu penghasil anggur terbaik di Kanada. Dengan keberadaan kebun anggur, pasar lokal, dan aktivitas pariwisata yang hidup, Wolfville menjadi 渓aboratorium hidup untuk mengkaji bagaimana ekosistem agrowisata bekerja lebih dari sekadar pertukaran komersial.

Di bawah bimbingan Dr. Chris Hartt, Chair of the Business and Social Science Program di Faculty of Agriculture Dalhousie University, Diffa diperkenalkan pada Non-Corporeal Actant Theory (NCAT), yang menekankan bahwa elemen tak berwujud seperti cerita, simbol, dan nilai-nilai dapat secara aktif membentuk suatu sistem. Ketika dikombinasikan dengan Actor-Network Theory (ANT), ia memahami bahwa narasi bukan sekadar latar belakang, tetapi merupakan kekuatan aktif yang memengaruhi cara jaringan pariwisata beroperasi.

Menggunakan pendekatan kualitatif etnografis, Diffa terjun langsung ke lapangan dengan berjalan di kebun anggur, mengamati interaksi, berbincang dengan anggota komunitas, serta menganalisis bagaimana cerita muncul dalam percakapan, lanskap, materi branding, dan media sosial. Ia menemukan bahwa agrowisata di Wolfville tidak hanya ditopang oleh produk atau atraksi, tetapi juga oleh narasi bersama yang menghubungkan petani, pekerja musiman, pengunjung, dan pelaku usaha lokal dalam satu jaringan yang kohesif.

淪aya menyadari bahwa agrowisata tidak hanya dibangun dari lahan atau produk. Ia dibangun dari cerita. Narasi yang dibagikan setiap hari itulah yang benar-benar menjaga keberlanjutan sebuah destinasi, ungkap Diffa.

Selain pengembangan akademik, pengalaman di Nova Scotia juga memperdalam pemahaman kulturalnya. Ia mempelajari tentang Mi檏ma檏i, wilayah leluhur dan tidak diserahkan (unceded territory) dari masyarakat Mi檏maq yang telah lama mendiami wilayah Atlantik Kanada. Perspektif ini mengubah cara pandangnya tentang tanah, bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi sebagai relasi hidup yang terkait erat dengan budaya, sejarah, dan identitas.

Diffa mengamati tentang penghormatan terhadap tanah dan warisan budaya tercermin dalam situs budaya yang dilestarikan serta dalam narasi yang diwariskan lintas generasi. Bahkan dalam pariwisata anggur, lapisan budaya tetap terlihat. Narasi seperti Tidal Bay dan L橝cadie Blanc mencerminkan identitas regional dan kesinambungan sejarah, bukan hanya sebagai label branding semata.

淏elajar tentang Mi檏ma檏i mengubah cara saya memahami pariwisata. Tanah bukan sekadar sumber daya yang dikelola, tetapi sebuah relasi yang dihormati komunitas melalui cerita dan praktik sehari-hari, tambahnya.

Pengalaman ini juga membantunya beradaptasi secara sosial. Ia melihat bahwa percakapan dalam komunitas lokal sarat dengan rasa keterikatan pada tempat, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Melalui perjalanan risetnya, Diffa mengembangkan perspektif baru tentang pengembangan pariwisata. Ia menemukan bahwa agrowisata sangat berbeda dengan pariwisata massal, lebih lambat, relasional, dan berakar kuat pada identitas lokal. Narasi terroir, storytelling komunitas, interaksi pengunjung, dan simbol-simbol lokal saling berkelindan untuk menciptakan pengalaman pariwisata yang bermakna dan berkelanjutan.

Bagi Diffa, implikasi riset ini tidak hanya relevan untuk Kanada. Ia meyakini bahwa jaringan storytelling dapat menjadi alat praktis untuk memperkuat pengembangan agrowisata di negara-negara seperti Indonesia, yang memiliki kekayaan narasi di komunitas pedesaan dan kreatif.

淚ndonesia memiliki tradisi storytelling yang sangat kaya di komunitas pedesaan dan kreatif. Jika narasi ini dikembangkan secara strategis, ia dapat menjadi fondasi bagi branding berkelanjutan, pembelajaran komunitas, dan pengembangan sumber daya manusia, tutupnya.

Melalui beasiswa Canada-ASEAN SEED, Diffa tidak hanya memperluas capaian riset akademiknya. Ia juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana cerita membentuk tempat, komunitas, dan identitas lintas budaya.

Penulis: AGE UNAIR

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT