Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa dengan lebih dari 600 kelompok etnis. Namun, dalam konteks pendidikan, komunitas adat sering kali hanya dikenal secara dangkal sebagai warisan budaya tanpa membahas isu-isu krusial yang mereka hadapi, seperti diskriminasi, perampasan lahan, atau kehilangan identitas. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dari Universitas Negeri Semarang menunjukkan pendekatan baru dalam pendidikan sastra untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap isu-isu ini.
Penelitian ini melibatkan 153 mahasiswa Program Studi Sastra Inggris yang mengambil mata kuliah Prosa. Dalam penelitian ini, mahasiswa membaca novel The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian karya Sherman Alexie, yang menggambarkan kehidupan komunitas adat di Amerika Serikat. Novel ini digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi isu-isu serupa yang dihadapi komunitas adat di Indonesia. Melalui diskusi dan analisis kritis, mahasiswa diajak untuk menghubungkan pengalaman tokoh dalam novel dengan kondisi komunitas adat lokal.
Menurut penelitian, sastra memiliki kemampuan unik untuk membangun empati. Dengan membaca karya sastra, mahasiswa dapat merasakan pengalaman karakter yang hidup dalam kondisi yang berbeda, yang pada akhirnya membantu mereka memahami dan bersimpati terhadap situasi yang dialami oleh kelompok yang terpinggirkan.
Penelitian ini menggunakan model pedagogi yang mengintegrasikan pendekatan literasi kritis. Model ini terdiri dari tiga tahap:
- Prabaca: Mahasiswa diperkenalkan pada latar belakang komunitas adat melalui gambar dan berita.
- Pemahaman Umum: Mahasiswa membaca dan menganalisis novel, memahami konteks linguistik dan sosial.
- Menghubungkan Sastra dengan Konteks Sosial: Mahasiswa berdiskusi dan mengaitkan isu-isu yang ditemukan dalam novel dengan komunitas adat lokal.
Model ini dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan mendorong mereka untuk menggali makna mendalam dari teks sastra serta menghubungkannya dengan isu-isu aktual.
Penelitian ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti model ini, pemahaman mahasiswa terhadap isu-isu komunitas adat meningkat secara signifikan. Sebelum pembelajaran, banyak mahasiswa yang hanya memiliki pengetahuan umum tentang komunitas adat tanpa memahami tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang mereka hadapi. Setelah pembelajaran, mahasiswa mampu mengidentifikasi isu-isu seperti perampasan lahan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial yang dialami komunitas adat di Indonesia.
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa kurang terpapar pada berita atau informasi tentang komunitas adat di media mainstream. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk memperluas akses mahasiswa terhadap informasi yang relevan.
Walaupun model pedagogi ini menunjukkan hasil yang menjanjikan, beberapa mahasiswa merasa bahwa pembelajaran ini kurang relevan dengan jurusan mereka. Mereka lebih memilih fokus pada penguasaan keterampilan bahasa Inggris yang praktis. Fenomena ini mencerminkan tekanan dalam dunia pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja, sehingga mengabaikan tujuan pendidikan yang lebih luas, yaitu membangun kesadaran sosial.
Meskipun begitu, sebagian besar mahasiswa mengakui pentingnya memahami isu-isu komunitas adat sebagai bagian dari upaya menjaga keberagaman dan mendorong transformasi sosial. Salah satu mahasiswa menyatakan, 淢emahami komunitas adat adalah cara untuk mengenal Indonesia secara lebih mendalam dan berkontribusi pada keberlanjutan budaya mereka.
Penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan isu-isu komunitas adat dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi. Selain meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pendekatan ini juga membantu mahasiswa untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman budaya Indonesia. Dengan mengadaptasi model pedagogi berbasis literasi kritis, lembaga pendidikan dapat memainkan peran penting dalam memberdayakan komunitas adat dan mendorong dialog antarbudaya.
Untuk mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, diperlukan kolaborasi antara institusi pendidikan, media, dan pemerintah untuk memastikan bahwa isu-isu komunitas adat mendapatkan perhatian yang layak. Langkah ini penting tidak hanya untuk memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan.
Penulis: Lutfi Ashar Mauludin, S.Pd., M.A., M.Pd.
Link:
Baca juga: Peran Etnopoetika dalam Membentuk Narasi Budaya dan Evolusi dalam Sastra Jawa Timur





