Penyakit kanker serviks merupakan salah satu jenis penyakit kanker yang menyerang pada manusia. Hampir 85% Wanita yang terkena kanker ini mengalami kematian. Pengobatan pada jenis kanker ini masih belum efektif. Hal ini disebabkan karena kanker serviks dapat mengalami metastase di seluruh organ tubuh. Sehingga proses pengobatan akibat kanker serviks ini tidak efektif. Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kemoterapi pada saat ini banyak menimbulkan efek samping. Sehingga perlu mencari alternatif obat baru yang efektif dalam membunih sel kanker dan memiliki efek samping yang minimum. Pencarian alternatif obat baru untuk mengobati penyakit kanker telah banyak dilakukan oleh peneliti di dunia. Namun eksplorasi potensi ekstrak etanol kulit Pinus merkusii sebagai kandidiat obat kanker masih belum banyak dilakukan penelitian.
Pinus merkusii merupakan tumbuhan yang tersebar luas di Asia Tenggara. Pohon pinus telah banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai macam penyakit topical yang berada di daerah Asia Tenggara. Dari hasil penelitian terdahulu di dapatkan bahwa beberapa bagian dari pohon pinus memiliki senyawa polifenol, flavonoid, alkaloid, triterpenoids, sterols, glycosides, lignans, dan saponins. Kulit kayu Pinus merkusii mengandung berbagai senyawa bioaktif yang diyakini memiliki sifat antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan sitotoksik ekstrak etanol kulit kayu pohon ini (Pinus merkusii bark ethanol extract atau PMBE) terhadap sel kanker serviks tipe HeLa. Sel HeLa adalah sel kanker serviks yang sering digunakan dalam penelitian untuk menguji berbagai metode terapi. Berdasarkan kandungan tersebut, ekstrak kulit Pinus akan digunakan untuk mengetahui potensinya dalam menginduksi apoptosis pada kultur Sel HeLa. Sel HeLa merupakan sel kanker serviks yang ditumbuhkan secara invitro untuk menguji potensi obat sebelum di cobakan secara invitro pada makhluk hidup. Pengujian ekstrak etanol kulit Pinus merkusii untuk melihat induksi apoptosis dengan kultur sel HeLa dilakukan dengan 3 jenis pengujian, yaitu: MTT Assay, Apoptosis Detection dan Caspase-9 Detection dengan Imunositokimia. Dosis ekstrak yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dosis 50, 100, 200, dan 400 碌g/ml.
Efek sitotoksistas pada Sel heLa menunjukkan hasil pada uji MTT dengan berbagai (50, 100, 200, dan 400 碌g/ml) menunjukkan efektif dosis IC50 pada 226 碌g/mL setelah 24 jam. Untuk menetukan apakah ekstrak etanol kulit pinus terlibat dalam proses apoptosi sel, diperlukan untuk melakukan asesmen dalam proporsi sel apoptosis pada sel HeLa. IC50 adalah konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat 50% sel target, menunjukkan efektivitas ekstrak dalam membunuh sel kanker. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa proposi apoptosis sel HeLa yang di berikan perlakukan IC50 menunjukkan apoptosis awal hingga 81,31%. Apoptosis adalah mekanisme kematian sel yang terprogram dan menjadi target penting dalam terapi kanker. Sementara itu, terjadi peningkatan persentase apoptosis akhir yang bergantung pada dosis, dengan kelompok 4IC50 menunjukkan proporsi paling signifikan sebesar 3,48%. Diindikasikan bahwa pengobatan sel HeLa dengan PMBE selama inkubasi 24 jam cenderung menyebabkan apoptosis dini. Pengaruh dosis ekstrak kulit pinus setelah 24 jam terhadap aktivitas inisiasi caspase-9 menunjukkan bahwa ekstrak kulit pinus menginduksi aktivitas caspase-9 potensi tertinggi pada sel HeLa yang terpapar dengan konsentrasi 2IC50. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ekstrak kulit pinus menyebabkan sel HeLa mengalami apoptosis dengan meningkatkan ekspresi caspase-9. Ini menunjukkan bahwa ekstrak ini bekerja dengan mengaktifkan jalur apoptosis internal sel kanker. Hasil penelitian ini memperkuat potensi PMBE sebagai agen antikanker yang efektif terhadap kanker serviks. Ekstrak ini mampu memberikan efek antiproliferatif (menghambat pertumbuhan sel) dan sitotoksik (membunuh sel kanker) dengan cara yang bergantung pada dosis. Mekanisme utama yang diidentifikasi adalah jalur apoptosis intrinsik, yang melibatkan aktivasi caspase-9.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam upaya menemukan alternatif alami untuk terapi kanker. Dengan eksplorasi lebih lanjut, ekstrak kulit kayu Pinus merkusii berpotensi menjadi bahan utama dalam pengembangan obat antikanker yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau. Keberhasilan ekstrak ini dalam memicu apoptosis pada sel kanker membuka peluang besar untuk pengembangan terapi berbasis bahan alami. Namun, sebelum digunakan dalam pengobatan klinis, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami efek samping, efikasi pada tubuh manusia, dan kemungkinan kombinasi dengan metode terapi lainnya. Selain itu, penggunaan sumber daya alam seperti ini dapat mendorong pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan. Di masa depan, integrasi bahan alami seperti PMBE dengan teknologi medis modern diharapkan dapat memberikan solusi inovatif dalam pengobatan kanker serviks, sekaligus mengurangi beban penyakit ini di seluruh dunia.
Penulis: Agung Budianto Achmad*, Annise Proboningrat, Arif Nur Muhammad Ansori, Amaq Fadholly, Siti Eliana Rochmi, Rinza Rahmawati Samsudin, Nanik Hidayatik, Gracia Angelina Hendarti, Shara Jayanti
Link:
Baca juga: Penilaian Risiko Ekologi Komoditas Perikanan





