51动漫

51动漫 Official Website

Mengulik Gangguan Penyembuhan Tulang pada Penderita Diabetes

Foto by Alomedika

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah, yang lazim disebut hiperglikemia. Diabetes mellitus memiliki kaitan erat dengan manifestasi penyakit kardiovaskular. Di antara berbagai komplikasi maupun komorbiditas akibat diabetes, aterosklerosis merupakan penyebab kematian yang signifikan pada manusia. Aterosklerosis merupakan kondisi penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan lemak dalam lumen pembuluh darah yang ireversibel, sehingga mengganggu aliran darah. Kondisi ini dapat terjadi pada pembuluh darah tubuh manapun, mulai dari pembuluh darah pada tangan/kaki hingga pembuluh darah yang mengaliri jantung (pembuluh darah koroner). Jika terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah yang memberi nutrisi dan oksigen jantung terganggu, sehingga kerja jantung pun terganggu. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam dunia medis adalah prosedur pembedahan yang biasa dikenal dengan CABG atau coronary artery bypass graft. Dalam prosedur ini, pembuluh darah yang menyempit/tersumbat di-bypass dengan pembuluh darah baru untuk memperbaiki perfusi otot jantung yang tadinya mengalami kekurangan oksigen.

Prosedur CABG merupakan operasi besar yang dalam prosesnya membutuhkan tindakan sternotomi. Sternotomi adalah tindakan memotong dan membuka sternum (tulang dada). Prosedur ini perlu dilakukan agar ahli bedah dapat menjangkau jantung yang terletak di belakang tulang sternum. Walaupun sudah menjadi prosedur standar dalam bedah jantung, sternotomi tetap berarti 渕elukai sternum. Padahal, selain penyempitan pembuluh darah seperti dijabarkan sebelumnya, penderita diabetes mellitus juga umumnya mengalami disregulasi sistem imun serta disfungsi pembuluh darah kecil (mikroangiopati). Kedua faktor ini sangat penting dalam proses penyembuhan luka normal karena peran pembuluh darah kecil sebagai pengangkut oksigen dan nutrisi untuk regenerasi jaringan dan penyembuhan luka. Gangguan dalam prosesnya berarti potensi gangguan penyembuhan luka, seperti malunion tulang, kematian jaringan tulang (osteonekrosis), serta luka yang tidak menutup (wound dehiscence).

Dalam studi ini kami meninjau kembali literatur mengenai luaran penyembuhan sternum pada penderita diabetes mellitus yang menjalani bedah jantung maupun pembedahan lain yang melibatkan sternotomi.

Dalam keadaan normal, insulin yang bersirkulasi dalam tubuh menggunakan fungsi anabolik untuk mengikat INSR/IRS-1 pada osteoblast. Osteoblast merupakan sel-sel yang diperlukan dalam pembentukan jaringan tulang baru. Menurunnya kadar insulin, baik yang disebabkan oleh berkurangnya tingkat produksi atau karena tidak bisa digunakan secara efektif, menyebabkan hambatan pertumbuhan tulang secara normal yang ditandai dengan mineralisasi yang abnormal, pengendapan pada matriks tulang, dan juga abnormalitas pada arsitektur tulang.

Apabila terjadi suatu luka, secara alami jaringan tulang akan membuat hematoma (memar) pada area intermedullaris. Proses ini bertujuan untuk menarik sel inflamasi dan fibroblast di sekitarnya. Pembentukan mineral tulang dapat terjadi karena bantuan sel-sel tersebut selain membutuhkan kolagen dalam jumlah besar, terutama kolagen tipe 1. Advanced glycation end product (AGE), suatu jenis protein, secara langsung mengikat kolagen yang terpapar dan menghambat fibroblast dan makrofag untuk menggunakan kolagen tersebut, sehingga kandungan kolagen pada jaringan tulang yang terluka berkurang. Pada pasien diabetes, konsentrasi gula yang tinggi pada darah menyebabkan peningkatan produksi AGE.

Keadaan hiperglikemia atau kandungan gula yang berlebih pada darah juga akan meningkatkan produksi fruktosa dan sorbitol dalam darah. Peningkatan kedua zat tersebut akan menyebabkan pembuatan reactive oxygen species (ROS) secara berlebihan dan juga menurunkan kecepatan degenerasinya, yang kemudian akan menumpuk dan menyebabkan kerusakan sel.

Peningkatan jumlah sitokin penanda inflamasi (IL-6, TNF伪), AGE, serta penumpukan ROS akan mengganggu proses diferensiasi dari mesenchymal stem cell (MSC) dan kemampuan hidup osteoblast.

Beberapa penelitian eksperimental dan in vitro menunjukkan bahwa konsentrasi gula darah yang tinggi mengganggu pembentukan sitokin, pengumpulan serta aktivasi leukosit pada jaringan yang terluka dan penyembuhan dan regenerasi pada jaringan tersebut. Tingginya kuantitas sitokin dan alterasi dari hormon pertumbuhan juga akan mengarahkan proses diferensiasi dari osteoblast (pendukung pertumbuhan jaringan tulang) menuju ke arah osteoclast (penghambat pertumbuhan tulang), yang akan semakin memperburuk kemampuan penyembuhan tulang. Pembentukan osteoclast ini juga sangat dipengaruhi oleh AGE.

Pasien dengan diabetes juga menunjukan performa imunologis yang menurun dalam melawan infeksi, yang sebagian besar disebabkan karena menurunnya kemampuan mengaktivasi dan memberi sinyal pada makrofag dan natural killer cell. Faktor ini menjelaskan seringnya terjadi infeksi, baik superfisial/dangkal maupun dalam, pada luka pasien penderita diabetes dibandingkan dengan orang non-diabetik.

Penulis: Yan Efrata Sembiring, dr., Sp.B(K)TKV.

Link Jurnal: file:///C:/Users/User/Downloads/064+-+3513+-+Taufik+Nur+Yahya+-+Galley.pdf

AKSES CEPAT