Kota Malang adalah kawasan yang rawan terhadap bencana geologi, salah satunya adalah amblesan tanah (sinkhole). Peristiwa amblesan yang terjadi mendadak, seperti kasus di Jalan Bandung, sangat terkait dengan kondisi tanah di Malang yang didominasi oleh tanah tuf piroklastik (material vulkanik).
Tanah tuf ini memiliki sifat berpori dan mudah menyerap air. Masalah utama muncul karena di bawah lapisan ini terdapat sisa-sisa aliran sungai bawah tanah purba. Ketika air (misalnya saat banjir) meresap, air akan mengikis material tanah di sekitarnya. Proses ini menciptakan rongga-rongga kosong (void) di bawah permukaan jalan. Jika rongga ini semakin besar, lapisan tanah di atasnya bisa runtuh, menyebabkan amblesan.
Metode Penelitian: GPR yang Sangat Akurat
Untuk mendeteksi rongga tersembunyi ini, penelitian menggunakan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR). GPR bekerja dengan mengirimkan gelombang radio ke bawah tanah dan menangkap pantulannya untuk memetakan struktur di dalam bumi.
Inovasi kunci dalam penelitian ini adalah kalibrasi GPR. GPR dengan frekuensi 90 MHz digunakan karena efektif untuk menembus tanah tuf. Agar hasil pemetaan sangat akurat, alat ini dikalibrasi menggunakan Vector Network Analyzer (VNA). VNA membantu mengukur nilai dielektrik tanah di lokasi secara langsung (in situ), yang penting untuk menentukan kecepatan gelombang radar dan kedalaman anomali yang ditemukan.
Hasil kalibrasi menunjukkan nilai dielektrik berkisar antara 4,3 hingga 13,6. Dengan kalibrasi ini, kecepatan gelombang radar rata-rata menjadi rata-rata , sehingga pembacaan kedalaman amblesan menjadi lebih presisi.
Hasil Temuan Utama
Pencitraan GPR yang diproses berhasil memberikan gambaran jelas tentang kondisi di bawah Jalan Bandung:
- Deteksi Rongga Amblesan: GPR mengidentifikasi adanya anomali amblesan baru berupa rongga-rongga yang tersembunyi. Rongga-rongga ini berada pada kedalaman antara 4 hingga 7 meter di bawah permukaan. Pola pantulan hiperbolik yang ditemukan sangat jelas mengindikasikan adanya gangguan lapisan tanah dan potensi instabilitas.
- Hubungan Banjir dan Amblesan: Analisis data menunjukkan adanya korelasi yang kuat (R虏=0.64) antara tingkat keparahan banjir di permukaan dengan kejadian amblesan tanah. Hal ini memperkuat hipotesis bahwa banjir memicu erosi hidrologi di bawah tanah yang mempercepat pembentukan rongga
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode GPR yang dikalibrasi adalah alat geofisika yang sangat efektif untuk memetakan dan mendeteksi zona rawan amblesan tanah di kawasan yang memiliki endapan vulkanik (tanah tuf).
Hasil ini sangat penting bagi otoritas Kota Malang. Data akurat ini dapat digunakan untuk deteksi dini bahaya geologi, memungkinkan intervensi struktural dan mitigasi risiko bencana secara terfokus dan efisien, sehingga meningkatkan ketahanan infrastruktur dan keselamatan warga kota.
Artikel selengkapnya dapat diakses di: https://doi.org/10.1016/j.geomat.2025.100078
Ditulis oleh: Hijrah Saputra, Diana Ghazali, Shafi Noor Islam, Jalal Johari
Corresponding Author: Hijrah Saputra
Email: hijrah.saputra@pasca.Kota Malang adalah kawasan yang rawan terhadap bencana geologi, salah satunya adalah amblesan tanah (sinkhole). Peristiwa amblesan yang terjadi mendadak, seperti kasus di Jalan Bandung, sangat terkait dengan kondisi tanah di Malang yang didominasi oleh tanah tuf piroklastik (material vulkanik).
Tanah tuf ini memiliki sifat berpori dan mudah menyerap air. Masalah utama muncul karena di bawah lapisan ini terdapat sisa-sisa aliran sungai bawah tanah purba. Ketika air (misalnya saat banjir) meresap, air akan mengikis material tanah di sekitarnya. Proses ini menciptakan rongga-rongga kosong (void) di bawah permukaan jalan. Jika rongga ini semakin besar, lapisan tanah di atasnya bisa runtuh, menyebabkan amblesan.
Metode Penelitian: GPR yang Sangat Akurat
Untuk mendeteksi rongga tersembunyi ini, penelitian menggunakan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR). GPR bekerja dengan mengirimkan gelombang radio ke bawah tanah dan menangkap pantulannya untuk memetakan struktur di dalam bumi.
Inovasi kunci dalam penelitian ini adalah kalibrasi GPR. GPR dengan frekuensi 90 MHz digunakan karena efektif untuk menembus tanah tuf. Agar hasil pemetaan sangat akurat, alat ini dikalibrasi menggunakan Vector Network Analyzer (VNA). VNA membantu mengukur nilai dielektrik tanah di lokasi secara langsung (in situ), yang penting untuk menentukan kecepatan gelombang radar dan kedalaman anomali yang ditemukan.
Hasil kalibrasi menunjukkan nilai dielektrik berkisar antara 4,3 hingga 13,6. Dengan kalibrasi ini, kecepatan gelombang radar rata-rata menjadi rata-rata , sehingga pembacaan kedalaman amblesan menjadi lebih presisi.
Hasil Temuan Utama
Pencitraan GPR yang diproses berhasil memberikan gambaran jelas tentang kondisi di bawah Jalan Bandung:
- Deteksi Rongga Amblesan: GPR mengidentifikasi adanya anomali amblesan baru berupa rongga-rongga yang tersembunyi. Rongga-rongga ini berada pada kedalaman antara 4 hingga 7 meter di bawah permukaan. Pola pantulan hiperbolik yang ditemukan sangat jelas mengindikasikan adanya gangguan lapisan tanah dan potensi instabilitas.
- Hubungan Banjir dan Amblesan: Analisis data menunjukkan adanya korelasi yang kuat (R虏=0.64) antara tingkat keparahan banjir di permukaan dengan kejadian amblesan tanah. Hal ini memperkuat hipotesis bahwa banjir memicu erosi hidrologi di bawah tanah yang mempercepat pembentukan rongga
Kesimpulan dan Rekomendasi
Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode GPR yang dikalibrasi adalah alat geofisika yang sangat efektif untuk memetakan dan mendeteksi zona rawan amblesan tanah di kawasan yang memiliki endapan vulkanik (tanah tuf).
Hasil ini sangat penting bagi otoritas Kota Malang. Data akurat ini dapat digunakan untuk deteksi dini bahaya geologi, memungkinkan intervensi struktural dan mitigasi risiko bencana secara terfokus dan efisien, sehingga meningkatkan ketahanan infrastruktur dan keselamatan warga kota.
Artikel selengkapnya dapat diakses di: https://doi.org/10.1016/j.geomat.2025.100078
Ditulis oleh: Hijrah Saputra, Diana Ghazali, Shafi Noor Islam, Jalal Johari
Corresponding Author: Hijrah Saputra
Email: hijrah.saputra@pasca.unair.ac.idunair.ac.id





