Ikan cupang atau Betta kini tidak lagi sekadar ikan hias biasa. Popularitasnya terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia, karena warna tubuhnya yang menarik dan perilaku uniknya. Ikan jantan, misalnya, menunjukkan sikap agresif ketika berhadapan dengan sesama jenis, sehingga dikenal sebagai fighting fish. Keunikan tersebut membuat ikan cupang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi dalam industri perikanan hias. Bahkan, data perdagangan internasional menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu eksportir terbesar ikan hias air tawar di dunia. Pada tahun 2021, nilai ekspor ikan hias air tawar Indonesia mencapai 279,6 juta dolar AS, atau sekitar 73,8% dari total ekspor global. Angka ini menunjukkan bahwa ikan hias, termasuk cupang, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
Di balik popularitas tersebut, Indonesia juga menyimpan kekayaan jenis cupang liar yang luar biasa, salah satunya adalah Betta schalleri. Spesies ini merupakan ikan endemik dari Pulau Bangka yang hidup di habitat alami seperti rawa hutan, rawa gambut, dan aliran sungai perbukitan. Secara taksonomi, ikan ini termasuk dalam famili Osphronemidae dan tergolong dalam kelompok Betta pugnax. Yang menarik, Betta schalleri mampu bertahan hidup di perairan dengan kondisi ekstrem, yaitu air yang sangat asam dengan pH antara 3,0 hingga 4,0. Di habitat alaminya, ikan ini memanfaatkan zooplankton dan cacing darah sebagai sumber makanan utama.
Namun, keberadaan Betta schalleri kini menghadapi ancaman serius. Aktivitas penambangan timah di Pulau Bangka telah menyebabkan perubahan lahan dan kerusakan lingkungan yang signifikan. Akibatnya, populasi ikan endemik ini mengalami penurunan drastis. Selain itu, kehadiran spesies ikan invasif juga memperparah kondisi melalui predasi, kompetisi sumber daya, serta potensi penyebaran penyakit. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat Betta schalleri masuk dalam kategori terancam punah (Endangered) menurut daftar merah IUCN.
Untuk menjaga kelestarian spesies ini, penelitian ilmiah yang komprehensif sangat diperlukan. Sayangnya, studi mengenai Betta schalleri masih terbatas. Informasi penting seperti karakteristik habitat, pola makan, reproduksi, dan keragaman genetik masih belum banyak diketahui. Oleh karena itu, pendekatan molekuler melalui analisis DNA menjadi salah satu solusi yang menjanjikan untuk mengungkap identitas dan hubungan kekerabatan spesies ini secara lebih akurat.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah DNA barcoding, yaitu teknik identifikasi spesies menggunakan bagian tertentu dari DNA mitokondria. Dalam penelitian ini, gen Cytochrome c oxidase subunit I (COI) digunakan sebagai penanda genetik. Gen COI telah diakui secara global sebagai standar identifikasi spesies ikan karena mampu membedakan spesies dengan tingkat akurasi tinggi. Metode ini juga memungkinkan peneliti untuk menelusuri sejarah evolusi, mengidentifikasi keragaman genetik, serta memahami hubungan antarspesies.
Penelitian ini menjadi laporan pertama mengenai identifikasi molekuler Betta schalleri liar dari Pulau Bangka menggunakan gen COI. Hasil DNA barcoding yang diperoleh akan didaftarkan dalam basis data internasional NCBI GenBank, sehingga dapat digunakan sebagai referensi global untuk identifikasi spesies. Keberadaan data genetik ini sangat penting untuk mendukung berbagai penelitian lanjutan, termasuk studi keragaman genetik, struktur populasi, hingga pengembangan aplikasi bioteknologi.
Lebih jauh lagi, informasi genetik tersebut juga berperan penting dalam upaya konservasi, khususnya melalui program konservasi ex situ atau pemeliharaan di luar habitat alami. Data DNA dapat membantu dalam pemilihan indukan yang tepat untuk menjaga kemurnian genetik spesies. Dengan demikian, identifikasi molekuler tidak hanya membantu mengungkap identitas ikan cupang liar, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Penelitian ini menunjukkan bahwa di balik keindahan ikan cupang, terdapat tantangan konservasi yang tidak sederhana. Melalui pendekatan ilmiah berbasis DNA, harapan untuk melindungi spesies endemik seperti Betta schalleri menjadi semakin terbuka. Indonesia tidak hanya dikenal sebagai eksportir ikan hias terbesar, tetapi juga sebagai negara yang berkomitmen menjaga kekayaan biodiversitasnya untuk generasi mendatang.
Sitasi: Andriyono, S., Amin, M. H. F. A., Pramono, H., Syarif, A. F., Valen, F. S. V. S., & Woo, K. H. (2026). Molecular Identification of Endemic Species Betta schalleri from Bangka Island, Indonesia. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries, 30(1), 2263-2276.
Penulis: Dr. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T.
Link artikel:





