Kanker kandung kemih adalah salah satu jenis kanker yang umum terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini sering kali tidak hanya memberikan dampak pada kesehatan fisik pasien, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental mereka dan orang-orang yang merawat mereka. Penelitian terbaru memberikan gambaran penting tentang bagaimana kanker ini memengaruhi aspek psikologis pasien dan para pendampingnya, serta faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan tersebut.
Setiap tahun, diperkirakan ada lebih dari 550.000 kasus baru kanker kandung kemih secara global. Di Indonesia sendiri, jumlah ini terus meningkat seiring waktu. Penyakit ini sering dianggap sebagai tantangan besar bagi layanan kesehatan karena tingginya biaya pengobatan dan frekuensi kekambuhan yang tinggi. Pasien kanker kandung kemih tidak hanya menghadapi tekanan fisik akibat perawatan yang invasif dan berkepanjangan, tetapi juga tekanan psikologis yang sering kali kurang mendapat perhatian.
Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit rujukan di Indonesia selama periode 2019“2023 telah mengungkapkan dampak besar penyakit ini pada kesehatan mental pasien dan pendamping mereka. Penelitian ini melibatkan 219 pasien dan pendamping, dengan fokus pada gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan stres.
Penelitian ini menggunakan Depression, Anxiety, and Stress Scale(DASS-21) untuk mengukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada pasien dan pendamping. Hasilnya cukup mencengangkan. Sebanyak 13,3% pasien mengalami depresi, dengan kategori mulai dari ringan hingga berat. Beberapa bahkan menunjukkan gejala depresi yang signifikan. Hampir separuh pasien (46,7%) melaporkan gejala kecemasan, dengan berbagai tingkat keparahan. Sekitar 21% pasien mengalami stres, dengan sebagian besar berada pada tingkat ringan hingga sedang.
Hal yang menarik adalah tingkat kecemasan pada pendamping pasien ternyata lebih tinggi dibandingkan pasien sendiri. Sebanyak 47,9% pendamping mengalami kecemasan, dibandingkan 45,7% pada pasien.
Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami gangguan psikologis. Faktor-faktor tersebut meliputi: 1) Usia, pasien yang lebih muda cenderung lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan pasien yang lebih tua. Ini mungkin disebabkan oleh kekhawatiran mereka terhadap masa depan dan dampak jangka panjang dari penyakit ini; 2) Pendapatan, pasien dengan pendapatan rendah lebih berisiko mengalami depresi dan kecemasan. Biaya pengobatan yang mahal dan tekanan finansial sering kali menjadi penyebab utama stres; 3) Status pernikahan,pasien yang menikah memiliki risiko lebih rendah terhadap gangguan psikologis dibandingkan pasien yang lajang atau bercerai. Dukungan emosional dari pasangan sering kali menjadi faktor pelindung; 4) Status pekerjaan, pasien yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau menganggur lebih rentan terhadap stres dan depresi, mungkin karena kehilangan pendapatan dan ketidakpastian ekonomi.
Bagi pendamping, faktor-faktor seperti status pernikahan dan tingkat pendapatan juga memengaruhi tingkat depresi dan kecemasan mereka. Pendamping yang tidak menikah atau memiliki pendapatan rendah lebih cenderung mengalami gangguan psikologis.
Pendamping pasien memainkan peran penting dalam mendukung proses perawatan. Namun, mereka sering kali menghadapi tekanan yang berat. Tanggung jawab untuk merawat pasien, dikombinasikan dengan kekhawatiran tentang kondisi pasien dan tekanan finansial, membuat pendamping sangat rentan terhadap depresi dan kecemasan. Peran pendamping sering kali kurang mendapat perhatian dalam sistem kesehatan, padahal mereka adalah pilar penting dalam perjalanan perawatan pasien.
Penelitian ini menyoroti pentingnya memberikan perhatian yang lebih besar pada kesehatan mental pasien dan pendamping. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi: 1) Konseling psikologis, penyediaan layanan konseling secara rutin untuk pasien dan pendamping dapat membantu mengidentifikasi dan mengatasi gangguan psikologis sejak dini; 2) Dukungan sosial, membentuk kelompok dukungan bagi pasien dan pendamping untuk berbagi pengalaman dan memberikan rasa kebersamaan; 3) Intervensi finansial, memberikan bantuan finansial, seperti subsidi pengobatan atau program asuransi kesehatan yang lebih terjangkau, untuk mengurangi tekanan ekonomi; 4) Pendidikan dan informasi, memberikan informasi yang jelas tentang kondisi penyakit, perawatan, dan cara mengatasi stres dapat membantu pasien dan pendamping merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan.
Kanker kandung kemih bukan hanya penyakit fisik, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Baik pasien maupun pendamping sering kali menghadapi tekanan emosional yang besar. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti usia, pendapatan, status pernikahan, dan status pekerjaan berperan penting dalam menentukan tingkat depresi, kecemasan, dan stres.
Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan pendamping, penting bagi sistem kesehatan untuk memberikan dukungan yang lebih menyeluruh. Dengan langkah-langkah yang tepat, dampak psikologis dari kanker kandung kemih dapat diminimalkan, sehingga pasien dan pendamping dapat menjalani perawatan dengan lebih baik dan optimis.
Nama: Dr. dr. Wahjoe Djatisoesanto, Sp.U(K)
Link:





