51动漫

51动漫 Official Website

Menjadi Laki-laki Indonesia di Tahun 1950an

Foto oleh Pinterest

Periode tahun 1950an dalam sejarah bangsa Indonesia adalah salah satu fase yang terpenting. Masa itu adalah saat ketika Indonesia sebagai suatu entitas negara bangsa baru saja berdiri dan kohesi nasional sedang dalam fase formatif. Penelitian ini mengkaji tentang   norma kelelakian pada masa tersebut. Ini adalah topik yang menarik yang bisa memberikan informasi tentang keterkaitan antara nasionalisme dan maskulinitas. Dalam penelitian jender, studi tentang maskulinitas, terutama maskulinitas di Indonesia masih sangat jarang dilakukan. Studi jender di ranah internasional dan di Indonesia masih didominasi oleh kajian tentang perempuan dan norma keperempuanan.

Sumber data primer penelitian ini adalah bacaan untuk anak dan remaja Indonesia yang diterbitkan pada dekade tahun 1950an hingga awal 1960an. Bacaan anak dan remaja adalah salah satu sumber penting yang bisa digali untuk menemukan norma sosial yang dianggap ideal dalam suatu masyarakat. Aspek pedagogis yang sering dikaitkan dengan bacaan atau sastra anak menjadi salah satu faktor yang membuat jenis karya sastra ini sarat dengan nilai-nilai yang dianggap ideal dan perlu diinternalisasi oleh anak-anak.

Bacaan yang dipilih sebagai sumber data adalah berbagai teks dan narasi yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja dan diterbitkan pada periode waktu 1950an hingga awal 1960an. Bentuk bacaan tersebut terdiri dari beragam teks, mulai dari novel, cerita pendek, hingga opini. Sebagian besar sumber data  ini diambil dari berbagai macam surat kabar yang mempunyai kecenderungan ideologis tertentu. Periode ini adalah masa ketika politik Indonesia masih sangat kental dengan pertarungan berbagai ideologi politik, misalnya komunis, Islam, dan nasionalis. Pemilihan berbagai sumber data yang terkait dengan berbagai ideologi politik ini juga untuk membuktikan bahwa norma gender, khususnya norma maskulinitas, sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial, budaya, dan politik. Hal ini diafirmasi oleh Raewyn Connell, seorang pakar maskulinitas yang  sangat dikenal di dunia. Connell mengatakan bahwa maskulinitas itu plural dan dinamikanya sangat bergantung pada faktor-faktor sosial, budaya, dan politik.

Patriotisme dan nasionalisme yang menjadi semangat zaman saat itu turut mempengaruhi munculnya tarik menarik antara dua arus budaya di masa itu. Kedua nilai budaya tersebut adalah semangat revolusioner untuk menjadi sebuah negara yang mandiri dan semangat nasionalisme yang menuntut warga negaranya untuk loyal, memberi kontribusi kepada negara, dan  menahan ego atau kepentingan pribadi.

Dinamika kedua semangat zaman tersebut memunculkan karakter atau tokoh laki-laki yang memiliki karakteristik dengan kecenderungan tertentu. Setidaknya ada tiga jenis karakter laki-laki yang dimunculkan dalam teks yang dipelajari. Ketiga jenis norma maskulinitas tersebut adalah  maskulinitas yang bercirikan budi pekerti yang luhur, maskulinitas yang menjunjung heroisme kolektif, dan maskulinitas revolusioner.

Maskulinitas yang mengusung keluhuran budi pekerti sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai budaya Jawa. Cerita yang menampilkan tokoh laki-laki seperti ini banyak ditemukan pada cerita yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka. Balai Pustaka adalah penerbit yang didirikan oleh pemerintah Belanda di Hindia Belanda pada awal abad 20. Tokoh laki-laki dengan budi pekerti luhur banyak ditemukan pada cerita terbitan Balai Pustaka di awal pendiriannya. Ini bisa dimengerti karena penokohan tokoh laki-laki yang baik sangat sejalan dengan agenda penjajah Belanda yang mengidealkan anak laki-laki pribumi yang penurut. Adalah hal yang mustahil bagi Balai Pustaka untuk  mempromosikan anak laki-laki yang nakal dan suka menentang aturan, seperti tokoh Tom Sawyer yang diciptakan oleh pengarang Amerika bernama Mark Twain. Ternyata, sesudah Indonesia merdeka pun, Balai Pustaka masih tetap konsisten menciptakan karakter laki-laki yang sejalan dengan kepentingan pemerintah Hindia Belanda.

Maskulinitas yang mengunggulkan heroisme kolektif banyak ditemukan pada cerita-cerita petualangan yang mulai banyak muncul di tahun 1950an. Cerita-cerita tersebut, misalnya seri Si Pitak yang ditulis oleh R. Soekardi, menampilkan pentingnya nilai-nilai solidaritas dan loyalitas terhadap masyarakat atau komunitas. Kerja sama membnagun solidaritas, dalam cerita tersebut, dianggap sangat penting untuk menciptakan kedamaian dan tatanan dalam masyarakat. Nilai ini sangat erat terkait dengan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam budaya Indonesia. Nilai ini sangat penting terutama dalam masa ketika Indonesia sedang dalam tahap membangun kohesitas sebagai sebuah negara bangsa.

Maskulinitas revolusioner banyak ditemukan dalam surat kabar berhaluan sosialis di tahun 1950an, misalnya Bintang Timur dan Harian Rakjat. Cerita-cerita pendek dan kolom opini yang ditulis dalam kolom untuk pemuda di harian tersebut menonjolkan ide yang menjunjung pentingnya pemuda Indonesia mempunyai semangat untuk menjadi bangsa unggul dan terdepan di dunia. Semangat progresif ini harus menyertai keinginan untuk menghilangkan kemiskinan dan jarak yang menganga antara si kaya dan si miskin, masalah utama bangsa Indonesia pada saat itu.

Berbagai bentuk norma maskulinitas yang ada pada teks yang diteliti bisa dianggap sebagai suatu upaya untuk mendukung proyek identitas nasional dari suatu negara bangsa yang baru saja berdiri. Norma maskulinitas seperti itu bisa dijadikan sebagai suatu sarana untuk memperkuat otoritas pemerintah paska kemerdekaan. Dalam penciptaan identitas laki-laki Indonesia di masa ini, nilai-nilai lama yang terkait dengan agenda pemerintah penjajah Belanda ternyata masih bisa ditemukan.

Ditulis oleh: Dra. Nur Wulan, M.A., PhD

Judul artikel jurnal yang terindeks Scopus: 淣egotiating Collective Goals and Individual Aspirations: Masculinities in Indonesian Young Adult Literature in the 1950s

Link artikel:

AKSES CEPAT